Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Taruhan


__ADS_3

“Me-meninggal?” Sadewa terenyuh. Air matanya hampir saja menetes jika Raden Bratasena tidak sigap menghapusnya. “Jalak Putih, Bayu Dewandaru, Ratih Maheswara, tiga nama yang tidak akan pernah kulupa. Aku harus balas dendam dan merebut tahta Basundara!?”


“Namun, sebelum itu, kau harus berlatih dan menjadi kuat.” Raden Bratasena mengelus rambut Sadewa, lalu mengajaknya jalan-jalan mengelilingi Lembah Seratus Pedang.


...


Masa-masa awal latihan Sadewa Pasha tidaklah mudah. Setiap hari dia harus membawa kendi berisi air menggunakan dua tali yang diikat ke kayu besar, lalu kayu itu ditumpukan ke leher. Selain melatih kekuatan fisik di bagian pundak dan leher Sadewa, itu juga membuat tingkat kekuatan tulangnya meningkat.


Selain melelahkan, hal itu juga menguras energi. Sadewa yang mulanya makan sehari sekali, kini menambah porsi makanannya. Sehari bisa tiga sampai bahkan empat kali.


Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi hanya bisa tersenyum melihat Sadewa Pasha dianak-emaskan oleh Raden Bratasena.


“Dia pantang menyerah. Dia cocok menjadi lawan Mahesa dan Pinanggih Anom, dua murid terkuat yang kita punya. Meski usianya beda jauh, aku yakin, Sadewa bisa mengimbangi kekuatan mereka dalam kurun waktu tiga bulan.” Ki Aluna mengambil Pedang Mata Langit.


“Pedang ini aku jadikan taruhan. Jika prediksiku salah, kau berhak memilikinya, Jangkar Turi.”

__ADS_1


Prabu Jangkar Turi tertawa lepas. “Jangan bercanda, Aluna, bagaimana mungkin dalam waktu tiga bulan dia bisa mengimbangi kekuatan berpedang Mahesa dan Pinanggih Anom. Dia belum belajar dasar ilmu berpedang. Untuk energi dan kekuatan tulang saja sudah beda jauh. Jangan menghayal!”


“Kau belum pernah melihat betapa antusiasnya Raden Bratasena ketika aku menanyainya perihal Sadewa. Dia terlihat yakin. Jarang sekali kita mendapati Raden Bratasena mengistimewakan seorang murid seperti dia mengistimewakan Sadewa Pasha.”


“Ucapanmu ada benarnya. Tapi, kita lihat saja perkembangan Sadewa dalam satu bulan terakhir.”


Sama seperti Ki Jaga Raksa, Prabu Jangkar Turi sempat meragukan Sadewa, hingga satu bulan masa latihan terlewati. Sadewa menunjukkan kemajuan pesat dalam penguasaan ilmu berpedang dasar. Bahkan, dia berhasil menjatuhkan Komang Baruga, murid paling berbakat yang seumuran dengan Sadewa.


Mahesa dan Pinanggih Anom mulai merasakan hawa persaingan. Sebentar lagi, persaingan perebutan posisi pertama kembali memanas. Setelah sekian lama Mahesa dan Pinanggih Anom bertarung, lantas bergantian menduduki posisi pertama, kini nama Sadewa Pasha muncul.


Dari semua murid, hanya Mahesa yang menyadari bakat terpendam Sadewa. Dia sengaja melatih Sadewa agar Sadewa bisa membungkam mulut Pinanggih Anom yang terus-menerus mengolok Sadewa di hadapan murid-murid Tulang Macan Liar.


Hal itu membuat Mahesa tidak senang.


“Mari istirahat, esok ada sesi latihan tambahan dari Ki Aluna Prabu untuk murid-murid Tulang Macan Menengah. Kau harus istirahat. Sesi latihanmu sampai larut malam.” Mahesa beranjak usai berjabat tangan dengan Sadewa.

__ADS_1


Lembah Seratus Pedang selalu memberi murid-muridnya ramuan ginseng ungu untuk meningkatkan kekuatan tulang. Setiap selesai sarapan, para murid mengambil jatah ramuan mereka masing-masing, termasuk Sadewa.


Memasuki bulan kedua, Raden Bratasena mengumpulkan seluruh murid Lembah Seratus Pedang. Mereka diminta berbaris sesuai tingkat kekuatan tulang.


Sadewa saat ini masih berada di tingkat Tulang Macan Menengah, tingkat kedua dari total empat tingkat yang dijadikan patokan oleh Raden Bratasena. Kurang lebih, empat puluh murid berkumpul di barisan Sadewa.


“Lihat di pojok kanan, hanya ada dua orang yang berhasil meraih tingkat Tulang Macan Suci.” Seorang lelaki berbisik dan tak sengaja Sadewa mendengarnya.


Ya.


Semua sudah menebak kalau dua orang yang berada di pojok kanan adalah Mahesa dan Pinanggih Anom. Sedangkan di tingkat Tulang Macan Liar, hanya ada dua belas murid.


Sadewa membulatkan tekad. Bulan depan dia harus bisa mencapai tingkat Tulang Macan Liar agar kekuatannya tidak lagi diremehkan oleh murid-murid yang lain.


“Persiapkan diri kalian! Bulan depan adalah bulan penuh tantangan. Siapa yang tidak siap, dia yang tersisih!” Raden Bratasena tiba-tiba diam, senyum penuh misteri tergambar di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2