Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Pedang Kutukan


__ADS_3

Sesuai prediksi Mahesa dan Sadewa Pasha, Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi merasa iri dengan perlakuan Prabu Bratasena.


Sebagai tetua satu, Ki Aluna harusnya mendapat keistimewaan seperti yang diberikan Prabu Bratasena kepada Ki Jagaraksa begitu juga dengan Prabu Jangkar Turi.


“Apa hanya karena Jagaraksa mampu menjinakkan Pedang Jalakumbang lantas diistimewakan sedemikian rupa oleh Ketua Bratasena?” Ki Aluna meluapkan emosinya dengan memecah batu besar di tengah sungai, hanya menggunakan pedang kayu kecil yang dia bawa dari Asrama Api Biru.


Prabu Jangkar Turi coba berpikiran jernih. Dia tidak ingin ada perpecahan di Lembah Seratus Pedang. “Semua keputusan didasari dengan alasan masuk akal. Ketua kita pasti punya alasan tersendiri yang kita tidak mengetahuinya sebelum kita bertanya.”


“Begini, Aluna, kita tahu reputasi Ketua Bratasena di mata petinggi Serikat Pendekar Nusantara. Dia dikenal sebagai satu dari empat pendekar paling bijak dalam membuat keputusan. Ini masalah kecil, jangan kau besar-besarkan seolah kau beranggapan Ketua Bratasena tidak menimbang keputusannya matang-matang!”


“Aku paham. Sangat paham hal itu tanpa perlu penjelasanmu. Maksudku, kenapa dia harus mengatakannya sebelum meminta pertimbangan kita sebagai tetua satu dan tetua tiga?”


“Sebentar lagi pasti ada pertemuan antar tetua. Kita mengenal Ketua Bratasena sebagai penengah terbaik tiap masalah. Ketika mencium bau-bau sengketa atau kecemburuan sosial seperti yang tergolak dalam pikiranmu, dia pasti segera mengambil tindakan.”


Tiga hari berlalu semenjak kejadian itu.

__ADS_1


Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi makin kesal karena Prabu Bratasena tidak segera menjelaskan kenapa keputusan itu diambil sepihak. Malahan, sang ketua memilih pergi menghadiri pertemuan pendekar pedang tanah Jawa yang berlangsung di Menara Keadilan.


Beberapa murid yang fanatik terhadap Ki Aluna Prabu, mulai mengajak murid-murid lain membenci Ki Jagaraksa mengingat Ki Jagaraksa sangat ketus dan dingin pada murid manapun.


Hukuman yang diberikan Ki Jagaraksa kala melihat murid tidak sanggup memenuhi target latihan yang dia beri, seringkali menyiksa murid Lembah Seratus Pedang.


Menyadari ada yang tidak beres selama tiga hari terakhir, terutama perubahan drastis sikap murid Lembah Seratus Pedang yang tidak lagi menyapanya ketika dia sampai di perguruan, Prabu Bratasena mengumpulkan seluruh tetua di aula Lembah Seratus Pedang yang letaknya di ujung belakang perguruan.


Ki Aluna Prabu enggan mendatangi pertemuan itu, tapi Prabu Jangkar Turi cepat-cepat membujuknya karena Prabu Jangkar Turi tidak suka adanya konflik yang menyebabkan kehancuran Lembah Seratus Pedang.


Prabu Jangkar Turi hanya bisa menggeleng. “Sikapmu sama seperti dulu. Kau sering terbakar emosi hanya karena hal kecil. Tenangkan dirimu, Aluna! Perkara ini belum jelas asal-usulnya. Kau juga belum menanyakan langsung alasan Raden Bratasena membuat keputusan sepihak.”


“Kau lebih membelaku apa membela Jagaraksa?” Ki Aluna Prabu berdiri. Pedang Mata Langit yang sedari tadi disarungkan, diangkat tinggi-tinggi hingga menyebabkan langit terbelah untuk sekian detik.


“Aku bersikap netral. Jangan sampai amarahmu merusak persahabatan yang sudah kita bangun sejak kita kecil. Ingat, ini hanya permasalahan kecil. Aku memaklumi amarahmu bila alasan yang disampaikan Raden Bratasena tidak masuk akal.”

__ADS_1


Pertemuan dilangsungkan malam hari di aula para tetua. Aula itu letaknya terpisah dari Lembah Seratus Pedang, berjarak sekitar seratus tombak dari gerbang bagian depan.


Raden Bratasena sengaja meminta Ki Jagaraksa hadir lebih dulu dan memasrahkan tanggung jawab menjaga gerbang terluar pada Mahesa selaku satu dari dua murid terkuat perguruan.


Sadewa Pasha yang penasaran kenapa Mahesa tiba-tiba pergi meninggalkan asrama, membuntuti pria yang selalu menggunakan selendang merah itu. Tak disangka, suara tapak kakinya ketahuan.


Bukannya memarahi Sadewa karena telah melanggar aturan jam istirahat perguruan, Mahesa malah mengajak Sadewa duduk dan berbincang.


“Aku senang kau datang. Aku tidak sendiri menjaga perguruan ini. Yang aku takutkan hanya satu, ketika pertemuan para tetua selesai dan Raden Bratasena mengetahui kau ada di sini, kita pasti dihukum. Hukuman murid dengan predikat Tulang Macan Suci, berbeda dengan hukuman yang akan diberikan pada Tulang Macan Menengah.”


“Pertemuan itu pasti lama. Pasti ada adu mulut yang terjadi.” Sadewa tersenyum kecut.


Di sisi lain, Prabu Jangkar Turi meninggalkan perguruan lewat gerbang belakang atas permintaan Ki Aluna. Mereka tidak ingin berpapasan dengan Ki Jagaraksa yang biasa menjaga gerbang depan terluar.


Begitu sampai di ruang para tetua, Ki Aluna langsung mengeluarkan tatapan tajam. Suasana seketika panas kala Ki Aluna melontarkan kalimat yang mengundang amarah Raden Bratasena dan Ki Jagaraksa.

__ADS_1


“Apa maksudmu menganaktirikan tetua satu dan tetua dua? Kalian berdua sekongkol dan ingin mengajakku bertarung?” Ki Aluna Prabu mengeluarkan Pedang Mata Langit.


__ADS_2