Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Tragis


__ADS_3

Ledakan itu menghancurkan seisi Lembah Seratus Pedang dan efeknya berlanjut sampai mengguncang lava yang  tersimpan di perut Bukit Kabut.


“Gigit lidahmu, Sadewa, tidak peduli jika harus terpotong sekalipun! Kau harus kuat! Kau harus bisa menahan rasa sakit ini sampai Teknik Kunci Lima Rupa tahap satu selesai dilaksanakan!” Ki Seno berteriak sangat keras, tangannya gemetar.


Sadewa kurang fokus.


Ritual tahap pertama hampir saja gagal bilamana Sadewa masih terus memikirkan nasib seisi perguruan. Dia tidak boleh berpaling. Pikirannya harus kosong agar siluman penghuni Pedang Kalacakra bisa langsung masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Ki Seno Aji menegur Sadewa dengan memberi hentakan energi keras di punggung pemuda berkuncir. “Jangan ada hal lain yang mengganggumu! Kau harus tetap mengosongkan diri sampai Teknik Kunci Lima Rupa tahap pertama selesai dilakukan!”


Aura kemerahan keluar dari dua lengan Ki Seno Aji.


Detik demi detik, badan sang pertapa semakin kurus karena energi kehidupannya terhisap masuk ke dalam tubuh Sadewa. Hal itu diperlukan untuk menjaga keseimbangan siklus energi di inti perut Sadewa agar Sadewa tidak pingsan karena energinya tersedot habis oleh siluman penjaga Pedang Kalacakra.


Datuk Lembu Sora dan Prabu Dwipangga juga demikian.


Dua lengan mereka makin lama makin kurus sehingga tersisa tulang dan kulitnya saja. Tentu, rasa sakit ini begitu dahsyat. Orang biasa pasti mati dalam hitungan detik, tapi mereka berempat adalah pendekar terkuat yang diberkahi empat warna mustika legendaris.


“Sekarang waktunya, Ganda!” Ki Seno memberi perintah. “Bungkus Bukit Kabut dengan sayap bangaumu sebelum titik cahaya siluman Gatra keluar dari ujung langit!”


“Jangan bercanda, Seno, aku bisa mati karena menahan serangan cahaya milik Gatra Sang Gagak! Kau ingin mengorbankanku dan membiarkan dirimu sendiri masih hidup bersama Lembu Sora dan Dwipangga?” Empu Ganda Wirakerti sedikit keberatan dengan keputusan itu.


“Sekarang bukan waktunya membantah! Kita berempat mendapat jatah masing-masing. Hanya kau yang punya mustika dengan kekuatan terpisah dari jasad. Hanya dengan bangau itulah kita bisa meredam kerusakan yang timbul dari serangan cahaya Gatra Sang Gagak!”


Angin berhembus sangat kencang.


****** beliung serta petir hitam membanjiri sekitar Ruang Ketua Bratasena. Atapnya yang sudah lompong tertiup angin, semakin parah ketika dinding yang dibangun dari kayu jati itu terkena petir dan hancur jadi serpihan kayu-kayu kecil.


Ki Seno lantas memindah tangan kirinya guna menggantikan posisi Datuk Lembu Sora.

__ADS_1


“Lembu Sora, tidak ada waktu lagi! Kita harus membuka Teknik Lingkaran Mustika dan membentuk segel perlindungan. Petir hitam ini terbentuk dari butiran air mata iblis Yasa yang menyatu dengan kekuatan hitam kahyangan. Mereka hendak membunuh kita karena mereka tidak rela apabila Gatra Sang Gagak kembali bangkit dan menyatu dengan pemuda ini!”


Mendengar intruksi Ki Seno Aji, segera Datuk Lembu Sora membentuk lingkaran segel dengan kekuatan mustika cokelatnya.


Muncul perisai cahaya dari garis lingkaran yang dibuat. Telat sedetik saja, petir hitam itu menyambar kepala Empu Ganda Wirakerti yang saat itu sedang bimbang apakah harus melempar mustika putihnya ke langit atau tidak.


“Lembu Sora sudah melakukan tugasnya dengan baik, sekarang giliranmu, Ganda!” Prabu Dwipangga mendukung keputusan Ki Seno Aji, dia tahu mana yang terbaik untuk kemaslahatan umat manusia.


Empu Ganda Wirakerti melempar mustika putih ke atas, lalu didorong kekuatan tangan kiri Datuk Lembu Sora yang sudah siap dengan energi mustika cokelat.


Muncul bangau raksasa dengan sayapnya yang membentang dari Timur ke Barat.


Ketika meteor api terus menerjang Bukit Kabut, siluman bangau penghuni mustika putih menangkupkan sayapnya sehingga Bukit Kabut seperti diselimuti bulu-bulu bercahaya.


“Ganda, ini waktunya! Kekuatan mustika putih dipertaruhkan di sini. Sampai kau mati ketika ritual tahap satu berlangsung, selamanya kita tidak akan pernah bisa membangkitkan Gatra Sang Gagak!” Ki Seno memberi semangat pada tiga pewaris mustika yang lain.


“Benar, Ganda, nasib masa depan Nusantara ada di tangan kita.” Datuk Lembu Sora ikut bicara. “Kita boleh cacat seumur hidup setelah melakukan ritual, tapi dengan jaminan ritual ini sukses dan Sadewa bisa meneruskan titah kita sebagai penjaga kestabilan dunia dari pendekar aliran hitam.”


Ki Seno memberi aba-aba, pertanda akan ada rasa sakit mahadahsyat yang datang setelah semua kata-kata semangat itu terucap. Dalam hitungan ketiga, Ki Seno mendorong tubuh Sadewa ke depan seraya memaksa tubuhnya mengeluarkan energi di atas batas kekuatannya sendiri.


Kemudian, muncul setitik cahaya dari tengah langit yang awannya perlahan membelah diri seolah memberi jalan.


Setitik cahaya tiba-tiba memancarkan sinar lurus berwarna merah kehitaman, menembus ubun-ubun Sadewa sampai ke ujung bawah tubuhnya. Sadewa hampir saja pingsan karena cahaya itu seperti membelah tubuhnya jadi dua bagian.


Empu Ganda Wirakerti juga merasakan sakit yang sama.


Serangan yang mengenai siluman bangau putih juga dirasakan oleh Empu Ganda Wirakerti walaupun jasad mereka terpisah. Inilah resiko jadi pewaris mustika. Selain saling berbagi kekuatan, mereka juga harus berbagi rasa sakit dan perasaan satu sama lain.


Sang pewaris mustika putih terkapar tidak berdaya setelah sinar merah kehitaman menembus kepala bangaunya, yang berarti Empu Ganda Wirakerti merasakan sakit yang dirasakan Sadewa saat ini.

__ADS_1


Oak!


Hueekk!


Keempat pendekar muntah darah.


Ruangan yang mulanya bersih jadi lautan darah segar. Bau anyir menyelimuti ruangan. Ucapan semangat yang sedari tadi diucapkan, kini berubah jadi teriakan rasa sakit.


Ritual satu ditutup dengan munculnya bulatan merah dari dalam perut Sadewa yang makin lama makin besar. Cahaya merah itu menyerap seluruh kekuatan yang ada dalam radius empat tombak di sekitarnya.


Begitu semua kekuatan terhisap, tidak satu pun mata bisa terbuka. Nafas terengah-engah mengiringi fase akhir ritual tahap satu. Dan, pada suatu titik, cahaya merah itu meledak sehingga orang-orang yang ada di dalam Ruang Ketua Bratasena terpental ke lima penjuru berbeda.


Terlebih Sadewa, dia terpental jauh hingga ke tepian Bukit Kabut, lantas tubuhnya terpanting masuk ke jurang tanpa dasar.


...


Sadewa terbangun di dasar jurang. Ketika melihat ke atas, dia hanya menemukan lorong sangat gelap. Entah berapa dalamnya jurang ini, bahkan sinar matahari secuil saja tidak bisa menyentuh dasarnya.


Ini adalah ritual tahap dua.


Dalam tahap ini, ingatan Sadewa Pasha dihapus dan hanya disisakan sedikit ruang kosong di otak. Ruang ingatan itu dikhususkan untuk mengingat apa saja yang Sadewa pelajari selama Teknik Kunci Lima Rupa tahap dua berlangsung.


“Kenapa? Kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan? Ah, sakit, tulangku seperti remuk. Apa aku baru saja jatuh dari jurang setinggi ini?” Sadewa tidak bisa mengucap sepatah katapun, dia hanya bisa membatin.


“Sang Hyang Widi, kenapa Engkau memberiku ujian seberat ini? Kalaupun kau memberiku takdir tetap hidup setelah jatuh dari jurang setinggi itu, kenapa tidak ada satu pun orang di sini yang bisa menolongku? Kumohon. Jika Engkau ingin mencabut nyawaku, janganlah Engkau siksa diriku dengan rasa sakit dan tulang-belulang remuk.”


Seperti angin segar yang berhembus di tengah padang pasir tandus, doa Sadewa tiba-tiba dikabulkan Sang Hyang Widi.


Laki-laki bertubuh kurus dan rambut panjang se-punggung dikuncir kuda datang mendekat. Jenggotnya yang panjang menjuntai adalah tanda kalau dia sudah berusia ratusan tahun. Begitu laki-laki tua itu mendekat, Sadewa merasakan rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Perlahan, mata Sadewa menguning seolah dia melihat kunang-kunang di atas sana. Perlahan, kunang-kunang itu menghilang dan yang tersisa hanya satu hal.


Gelap.


__ADS_2