Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Melawan Feng Shui 2


__ADS_3

Mahesa masih berdiri dengan dua sosok lelaki berpakaian putih penuh dengan perban.


“Pedang Penukar Jiwa membuatku bebas menggunakan klon tubuh orang lain sebagai tameng. Jangan kira klon yang aku buat merupakan klon lemah! Mereka punya kemampuan setara denganku. Selama aku masih hidup, mustahil kau bisa membunuh mereka!”


Klon perban putih milik Mahesa dinamai dengan Cana dan Yudha.


Keduanya merupakan jelmaan kakek serta nenek Mahesa yang dulu terbunuh karena pembantaian yang sempat dilakukan oleh Perguruan Lembah Setan.


Feng Shui terus melayangkan serangan panah es ke arah Mahesa, tapi Cana bergerak cepat mengeluarkan perisai cahaya kekuningan untuk membendung serangan itu.


Kembali, deburan pasir memenuhi lapangan.


- Ajian Tali Jiwa -


Benang-benang cakra kebiruan keluar dari tangan Mahesa seolah dia adalah pengendali boneka yang bisa bergerak dengan aliran energi.


“Bersiaplah menerima serangan kombinasiku!” Mahesa menatap Feng Shui, matanya menyala kuning pertanda dia masuk tahap kedua serangan kombinasi Ajian Tali Jiwa. “Ajian yang hanya diturunkan kepada keluarga Basundara tidak bisa dihadang oleh kekuatan apapun. Kita lihat, apakah elemen cahaya dan elemen es mu mampu menahan seranganku atau tidak.”

__ADS_1


Ujung jemari Mahesa bergerak serasi, dimulai dari serangan Cana yang mengincar kaki kanan Feng Shui.


Trang!


Tangkisan pedang Feng Shui berhasil menjatuhkan Cana, tapi Yudha tiba-tiba berada di belakang Feng Shui sehingga pendekar giok itu terpanting menabrak perisai energi.


Keseimbangan Feng Shui terganggu dan kesempatan ini tidak disia-siakan Mahesa.


Serangan kombinasi Segitiga Tali Jiwa diluncurkan dari tiga sisi berbeda. Cana dan Yudha mengerang, dari tubuh mereka keluar jarum-jarum api. Mahesa menolakkan kaki ke tanah, terbang tinggi sampai titik tertentu, lantas bergerak memutar seperti salto yang mengakibatkan serangan eclipse angin besar berbentuk baling-baling bergerigi.


- Perisai Cahaya Es -


Sadewa dan yang lain hanya bisa menggeleng.


“Kekuatan pendekar giok tidak bisa dibandingkan dengan pendekar tingkat di bawahnya. Mereka adalah yang terkuat. Masing-masing punya kelebihan elemen dan saling melengkapi. Ketika mereka bertarung, yang terjadi adalah adu elemen dan jurus-jurus baru. Hal itu yang membuat Festival Kembang Siluman menarik karena tiap pendekar giok selalu memiliki kekuatan baru untuk ditunjukkan kepada murid-murid lain.”


Arjuna menjelaskan kepada Sadewa dan yang lain kalau pendekar giok tidak mendapat jatah latihan khusus. Mereka bebas berlatih di manapun, asal tidak keluar dari kawasan Lembah Kabut.

__ADS_1


Jurus-jurus itu mereka dapat dari membaca kitab yang disusun rapi di ruangan para tetua. Mereka dibebaskan memilih jurus yang akan mereka pelajari dan jurus yang akan mereka hadapi.


“Kakang Arjuna,” Sadewa menoleh ke kanan. “Menurutmu, siapa yang keluar sebagai pemenang?”


Arjuna mengelus jenggotnya pelan. “Mereka berdua seimbang. Kekuatan mereka sama besar. Chi dan energi yang mengalir dari pusat tubuh mereka terasa seperti pedang yang sudah ditempa ratusan kali. Ketajaman insting menyerang dan bertahan terpadu. Sejauh yang kuamati, mereka belum menunjukkan celah kelemahan yang bisa dimanfaatkan musuh.”


“Lihat itu!” Ankara Pati menunjuk ke ujung perisai energi. “Feng Shui tiba-tiba berada di sana.”


Ki Seno Aji dan Datuk Lembu Sora memberi tepuk tangan pada Feng Shui karena berhasil selamat dari serangan kombinasi tahap dua Mahesa.


Kemudian, Ki Seno menjelaskan kepada Raden Bratasena bahwa balok es cahaya milik Feng Shui hanyalah pengalihan. “Feng Shui membuat kloning dirinya, lantas menggali tanah sampai ujung. Serangan itu memang mematikan, tapi target serangannya hanya mengenai klon tubuh Feng Shui.”


“Benar kata Seno, kecerdasan jadi pondasi utama dalam pertarungan satu lawan satu. Memiliki kemampuan serangan dahsyat dan pertahanan tak terembus saja tidak cukup untuk meraih kemenangan.” Datuk Lembu Sora tersenyum.


Pertarungan kembali berlanjut.


Mahesa berdecih kesal karena dia tidak mempersiapkan serangan cadangan untuk mengincar sisi ujung perisai energi. “Serangan kombinasi tahap tiga, bersiaplah! Kau tidak mungkin lolos karena serangan ini memiliki cakupan kerusakan yang sangat luas.”

__ADS_1


“Seranglah sesukamu, Pedang Cahaya Kutub milikku siap menangkisnya!” Feng Shui tertawa sangat keras.


__ADS_2