Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Prabu Dwipangga


__ADS_3

Pernah suatu waktu, pendekar aliran hitam ingin menyerbu Andalas karena mereka menganggap Andalas menyimpan satu pusaka kuno. Siapapun yang mendapatkan pusaka itu, bisa mengendalikan Jandara dan Jandira sesuka hati.


Asal mula tutur tinular ini berawal dari Yeng Yusha, pendekar Tiongkok yang sering berkelana dan mencari teman baru. Dia adalah pendekar tingkat naga, namun sering menyembunyikan kekuatan dan berparas seolah dia adalah orang biasa yang hobi berdagang.


Yeng Yusha datang ke seluruh penjuru dunia dan bertepatan saat itu, dia sedang berbincang dengan orang-orang sepuh yang tinggal di daerah pesisir Andalas.


Menelan mentah-mentah omongan para sesepuh yang tidak paham ilmu kanuragan, Yeng Yusha coba menceritakan hal ini pada temannya yang menjabat di salah satu jabatan penting Serikat Zhang Ze, serikat yang mewadahi seluruh aliran hitam di dunia serta punya satu tujuan utama, menguasai dunia dengan cara membangkitkan iblis merah Yasa.


Tak disangka, teman Yeng Yusha membongkar cerita itu pada petinggi Serikat Zhang Ze dan meyakinkan mereka kalau Andalas memiliki pusaka kuno yang digadang-gadang sudah ada dari 40 abad yang lalu.


Seluruh perguruan aliran hitam berbondong-bondong mengutus kader terbaik dan pendekar terkuatnya untuk pergi ke Andalas.


Pertarungan besar sempat terjadi hingga menewaskan ribuan pendekar di sana.

__ADS_1


Bukit Gandaria yang awalnya sejuk nan sunyi, berubah jadi lautan darah karena pertarungan terus berlangsung selama empat tahun lamanya.


Hingga suatu ketika, ada salah satu pendekar yang tidak sengaja menyemburkan api ke puncak Bukit Gandaria sehingga mengakibatkan kebakaran hebat diiringi angin ****** beliung dan tanah longsor.


Jandara dan Jandira dulunya diciptakan dari api oleh Dewa Azazel, namun karena kerusuhan yang mereka perbuat, Dewa Pasha turun tangan mengalahkan mereka, lantas memberi mereka tugas menjaga Bukit Gandaria tapi dengan segel khusus agar mereka tidak bisa meninggalkan bukit.


Karena semburan api itu pula, segel batu raksasa yang menimpa salah satu sayap Jandara dan Jandira roboh, jatuh ke tanah, menghantam sebuah desa sehingga menewaskan semua warga yang tinggal di sana.


“Jandara dan Jandira harus dibunuh. Mereka tercemar kekuatan hitam Dewa Azazel yang dulu sempat disegel Dewa Pasha. Ternyata segel itu hanya berlaku enam abad dan ketika enam abad telah berlalu, segelnya lepas. Jandara dan Jandira sempat mengamuk sehingga aku harus turun tangan membantai mereka langsung.”


Ki Seno Aji hendak menyentuh pedang itu, tapi dilarang oleh Prabu Dwipangga.


“Jangan dulu, pedang ini masih mewarisi dendam empu sebelumnya. Sekalinya kau menyentuh pedang ini, energi kehidupanmu akan terserap habis dan menggerogoti seluruh daging tangan kananmu. Yang tersisa nanti hanyalah tulang dan kulit, aku khawatir itu terjadi padamu,” jelas Prabu Dwipangga.

__ADS_1


“Meski kau yang terkuat, tidak elok apabila kau mengabaikan arahan sang penempa pedang.” Datuk Lembu Sora ikut menenangkan Ki Seno Aji.


Sadewa yang melihat empat pendekar terkuat Nusantara berkumpul, hanya bisa diam. Kekagumannya menyelimuti, bahkan untuk bicara satu kata pun rasanya sangat berat. Dia tersenyum setiap kali satu dari empat pendekar itu berbicara.


Waktu pun berlalu, kini waktunya melakukan ritual pemanggilan roh penjaga Pedang Kalacakra.


Ki Seno Aji memulai dengan mengambil sejumput Serbuk Siluman Merah dan mengoleskannya ke tangan Datuk Lembu Sora. Hal itu terus berlanjut hingga tiga jumput Serbuk Siluman Merah sudah berpindah ke tangan tiga pendekar sisanya.


“Persiapkan diri kalian, rasa sakitnya kita bagi bersama. Sadewa tidak akan mampu menahan rasa sakit ini seorang diri. Teknik Kunci Lima Rupa, seperti yang kalian tahu, akan kubagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama menyimpan rasa sakit mahadahsyat. Aku harap kalian tidak pingsan karena rasa sakit ini.”


Memimpin jalannya ritual, Ki Seno Aji berada di belakang Sadewa dengan posisi telapak tangan menyentuh punggung Sadewa.


“Sadewa, pejamkan matamu! Ini sedikit lama. Hanya dengan membuka segel siluman itu kau bisa menang melawan Pinanggih Anom dan mengalahkan dua dari tiga tetua.”

__ADS_1


“Baik, Guru Seno, murid siap melakukan apapun.” Sadewa menggertakkan giginya, dia sudah siap dengan rasa sakit yang mahadahsyat.


__ADS_2