
“Bulan depan, kita mengadakan festival yang selama ini kalian nanti. Festival antara hidup dan mati. Festival Kembang Siluman, ajang balas dendam pada musuh atau pesaing kalian selama berada di Lembah Seratus Pedang!”
Raden Bratasena mengatakannya dengan lantang, diiringi tepuk tangan dari seluruh murid.
Mereka yang memiliki dendam pribadi pada murid lain, sangat menantikan festival ini. Begitu juga dengan mereka yang mengincar posisi sepuluh besar murid terkuat Lembah Seratus Pedang.
Siapapun bisa menantang siapapun. Tidak ada syarat atau ketentuan khusus yang membatasi seorang murid menantang murid lainnya. Murid dengan predikat Tulang Macan Muda, dipersilakan menantang murid dengan predikat Tulang Macan Menengah.
Sejauh ini, masing-masing murid diberi lencana sebagai tolak ukur kekuatan tempur dan kecerdasan mereka dalam pertarungan satu lawan satu.
Lencana giok diberikan kepada empat murid terkuat, tentunya Mahesa dan Pinanggih Anom memiliki lencana ini. Apalagi, hanya mereka berdua yang berhasil menembus predikat Tulang Macan Suci.
__ADS_1
Dua belas sisanya, masuk kategori murid lencana emas. Rata-rata pemilik lencana emas menyandang predikat Tulang Macan Liar.
Untuk murid dengan predikat Tulang Macan Menengah, masing-masing diberi lencana perak. Mereka diizinkan menantang murid lencana emas dengan jaminan, siapa yang kalah, harus merelakan lencananya kepada dia yang menang.
“Mohon izin, Sadewa ingin bertanya.”
Semua mata tertuju pada Sadewa. Baru kali ini ada yang berani mengganggu Raden Bratasena ketika sang ketua sedang menyampaikan informasi sembari berdiri di atas aula.
“Ada dua, Ketua. Satu, bolehkah murid lencana emas menantang murid lencana perak? Dua, apa murid lencana perak diizinkan langsung menantang murid lencana giok?” Sadewa dipuji murid-murid lain. Mereka yang tahu kemajuan Sadewa selama dua bulan berlatih, memaklumi pertanyaan tersebut.
“Jawabannya sama, tidak boleh. Penantang hanya boleh mengajukan tantangan pada murid yang lencananya satu tingkat di atas penantang. Misal, kau saat ini ada dalam tingkatan lencana perak. Kau hanya boleh menantang murid lencana emas, siapapun itu.”
__ADS_1
“Baik, Ketua, murid mengaku paham.”
Ki Aluna dan Prabu Jangkar Turi kembali adu tatap. Mereka masih tidak percaya Sadewa ingin menantang murid lencana giok, padahal ini baru dua bulan sejak awal kedatangannya ke Lembah Seratus Pedang.
Perlahan, keduanya mulai meyakini bakat dan tekad kuat yang ada dalam diri Sadewa. Itu pula yang terjadi pada Raden Bratasena, dia paham betul Sadewa ingin cepat-cepat jadi yang terkuat di sini, lantas diizinkan pergi dari Lembah Seratus Pedang untuk mengembara.
Sejauh ini, hanya ada dua murid yang diberi izin mengembara. Izin itu didapat setelah murid Lembah Seratus Pedang mengalahkan dua dari tiga tetua serta disaksikan langsung oleh semua murid. Pertarungan pertama dan kedua murid tersebut diberi jeda waktu dua bulan.
Raden Bratasena menatap tajam ke arah Sadewa, lantas memalingkan pandangannya kepada seluruh murid. “Bagi murid baru, kalian tidak perlu risau. Festival Kembang Siluman diadakan selama satu bulan penuh. Mereka yang berhasil menang di pertarungan pertama, diizinkan menantang murid lain. Jeda waktunya minimal satu minggu.”
“Ini kesempatanku,” lirih Sadewa. “Minggu pertama melawan murid terlemah lencana emas. Minggu kedua melawan murid terkuat lencana emas. Minggu ketiga dan keempat akan kugunakan sebaik mungkin merebut lencana giok dari tangan Pinanggih Anom. Aku harus bisa!”
__ADS_1