Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Kekuatan Melampaui Batas


__ADS_3

Gumpalan yang terkumpul dari unsur-unsur pasir membentuk satu kesatuan besal seperti prisma, berdiri di tengah lapangan sampai akhirnya gempa dahsyat dan angin kencang berlalu.


Hanya ada bongkahan batu raksasa yang melayang seperempat tombak dari atas tanah.


“Sekarang, tutup mata dan telinga kalian!?” Raden Bratasena melihat kilatan cahaya dari sela-sela gumpalan prisma. Dia segera mengeluarkan Auman Bratasena yang bisa membuat seluruh murid bisu dan buta sementara waktu.


Benar saja.


Dalam hitungan detik, pancaran cahaya dari sela gumpalan prisma itu perlahan membesar hingga cahayanya menyeruak ke angkasa.


Suara ledakan yang mahadahsyat sempat meretakkan perisai energi meskipun Raden Bratasena beserta tiga tetua sudah bersiap dengan seluruh energi mereka.


“Pancaran energinya sangat kuat! Aku ingin melihat ledakan itu, tapi aku tidak mau buta!” salah satu murid berteriak sangat kencang.


Sadewa Pasha yang dianugerahi kekuatan Dewa Pasha bisa melihat meskipun matanya tertutup. Dia diberi kekuatan mata batin. Hatinya terbuka sehingga dia bisa tahu jelas apa yang terjadi di tengah istana.


Gelombang energi yang mulanya berwarna bening kebiruan pekat, berubah jadi kuning kemerahan.


Gravitasi sempat rusak dan beberapa bangku penonton roboh. Bagian atas gerbang perguruan hancur. Perisai energi rusak total sampai Datuk Lembu Sora dan Ki Seno Aji turun tangan membuat Ajian Tameng Serikat, perisai terkuat yang hanya bisa dikeluarkan oleh petinggi Serikat Pendekar Nusantara.


Langit terbelah jadi dua. Petir dan kilat bersahutan satu sama lain. Lolongan serigala dan auman macan hutan terdengar jelas sampai suara itu kalah dahsyat oleh ledakan gumpalan prisma Ajian Tali Jiwa milik Mahesa.


“Atas nama Basundara, akan kukorbankan diri ini demi bisa mengalahkanmu, Feng Shui!” Suara Mahesa tiba-tiba muncul, tapi wujudnya masih menyatu dengan gumpalan prisma. “Guru, maafkan aku karena harus menggunakan jurus terlarang ini.”


Satu kedipan mata, lapangan yang mulanya bersih seperti sedia kala, berubah jadi genangan air yang terus-menerus meninggi.


Blarr!


Blarr!


Blarr!

__ADS_1


Ledakan besar menerjang sudut-sudut lapangan. Api merah, kuning, biru, dan hitam muncul bersamaan. Langit yang sempat terbelah kembali menyatu, lantas memunculkan awan gelap diiringi hujan tak kunjung usai.


Anehnya, hujan hanya mengguyur bagian tengah lapangan, sedangkan murid-murid lain tidak terkena imbasnya.


“Empu Ganda Wirakerti, kau datang tepat waktu,” kata Ki Seno Aji.


Sesosok bangau putih raksasa terbang di langit-langit Bukit Kabut.


Tiap patahan sayapnya yang turun ke bumi, melebur menjadi butiran hujan kecil yang memadamkan api. Satu hembusan ekor bangau raksasa milik Empu Ganda Wirakerti memberi kehidupan baru bagi Lembah Seratus Pedang.


Ledakan gumpalan prisma memang meruntuhkan seluruh pohon yang ada dalam radius dua kilometer dari lokasi pertarungan. Semua makhluk hidup mati. Macan kumbang, serigala hitam, ayam hutan, hingga semua ikan di sungai ikut terkena dampak.


Air sungai tercemar untuk beberapa waktu sampai leburan sayap bangau Empu Ganda Wirakerti menetralkan semua efek pertarungan yang terpancar dari gumpalan prisma.


“Ini saatnya mengakhiri pertarungan,” kata Datuk Lembu Sora. “Segel Tapak Emas akan kubuka. Bersiaplah, Seno, jangan ada satu pun murid yang boleh melihat jurusku ini, termasuk Sadewa Pasha yang memiliki berkah Dewa Keselamatan dan bisa melihat walau matanya tertutup.”


Datuk Lembu Sora menolakkan kakinya ke tanah, melesat sangat tinggi di udara yang lantas menumpang kepada Empu Ganda Wirakerti dengan wujud bangau raksasanya.


“Ganda, berikan aku dorongan yang sangat keras!” Datuk Lembu Sora bersiap dengan kuda-kuda khusus. Sebagai pewaris mustika cokelat, dia bisa saja menyelesaikan pertarungan dengan satu serangan Tapak Emas, tapi dia tidak ingin melukai satu pun murid Lembah Seratus Pedang.


Empu Ganda Wirakerti hampir saja terkena kilatan cahaya Mahesa kalau saja Datuk Lembu Sora tidak mendorongnya dengan kekuatan mustika cokelat. Sang bangau terpental jauh sampai ufuk Timur dengan kondisi sayap kanan patah.


Ki Seno terpejam, dia melakukan telepati. “Lembu Sora, cepat segel kekuatan Mahesa sebelum siluman penghuni Pedang Penukar Jiwa mengambil lebih banyak tumbal dari jiwa yang masih bersarang dalam raga. Jangan sampai ada korban jiwa dari turnamen ini!?”


“Baik!”


Menghentakkan kaki di ruang kosong, sang pewaris mustika cokelat melakukan gerakan spiral di udara sehingga posisi telapak tangannya segaris lurus dengan gumpalan prisma.


“Berkah Mustika Cokelat - Tapak Dewa Emas!”


Tanah yang mulanya terombang-ambing, seketika rata. Gumpalan prisma tidak lagi mengeluarkan butiran cahaya. Ketika semua murid diminta membuka mata, ada bekas telapak tangan raksasa yang panjang dan lebarnya setara dengan seluruh luas lapangan.

__ADS_1


Datuk Lembu Sora dan Ki Seno Aji secepat kilat kembali ke tempat duduk masing-masing agar murid-murid berpikiran kalau kekuatan Tapak Emas bukan dilakukan oleh salah satu dari mereka.


Tapi, ada satu hal yang luput dari pengawasan.


Sadewa Pasha benar-benar melihat betapa hebatnya dua pendekar yang digadang-gadang sebagai pendekar terkuat Nusantara.


Ki Seno yang menyadari hal tersebut, langsung mengalihkan perhatian dengan loncat ke tengah lapangan. “Pertarungan usai dan tidak ada pemenang dari pertarungan ini. Seperti adat yang berlaku, pertarungan pembuka adalah proses unjuk kekuatan murid lencana giok tanpa ada embel-embel hadiah atau jabatan khusus dari Lembah Seratus Pedang.”


“Semua murid diharap menenangkan diri dan mengambil jatah makan di belakang ruangan para tetua. Dimulai dari murid Tulang Macan Suci dan Tulang Macan Menengah, lantas dilanjut murid Tulang Macan Awal dan Tulang Macan Muda. Diharap semuanya mengantri dan berbaris seperti yang kalian lakukan sehari-hari di perguruan ini.”


“Terkhusus murid lencana giok, aku harap kalian bersiap karena lencana kalian akan dipertaruhkan dalam satu bulan ini. Ini peraturan terbaru Festival Kembang Siluman. Siapapun dari murid lencana giok yang menolak bertarung dengan murid lain, akan dicopot lencananya dan dia dianggap sebagai pengecut yang lari dari pertarungan!”


Perlahan, satu per satu murid membubarkan diri. Mereka berbaris rapi menuju belakang ruang para tetua. Ketika murid Tulang Macan Menengah diminta mengambil jatah makanan, hanya Sadewa yang dihadang oleh Prabu Jangkar Turi.


Ankara Pati dan Jendam Langit sempat mempermasalahkan hal ini. Pasalnya, Sadewa belum ambil jatah makan dari kemarin malam. Tapi, begitu Ki Seno Aji datang dan meminta Sadewa tetap di sini, tidak ada yang membantah.


Semua murid Tulang Macan Menengah langsung tunduk pada titah Ki Seno Aji, sang legendaris yang digadang-gadang sebagai salah satu pendekar terkuat di dunia.


“Aku ingin berbincang dengan Sadewa,” kata Ki Seno. “Masalah jatah makan, tetua kalian akan memberinya jatah khusus. Tenang saja, dia pasti makan ketika bersama kami.”


“Baik, Guru Seno,” serempak mereka menjawab.


Ki Seno Aji sempat berbincang dengan Raden Bratasena perihal seorang titisan dewa yang mewarisi Pedang Kalacakra.


Raden Bratasena mengamini pertanyaan Ki Seno Aji dan menyatakan sanggup mengasuh pemuda berkuncir sampai kiranya matang serta mengantongi izin kembara dari dua tetua Lembah Seratus Pedang.


Nampaknya, salah satu dari empat petinggi Serikat Pendekar Nusantara tertarik dengan Sadewa Pasha, lebih-lebih Ki Seno Aji yang berniat membangkitkan siluman terkuat yang bersarang di dalam Pedang Kalacakra.


Untuk itu, dia menyempatkan diri hadir dalam Festival Kembang Siluman dan mengesampingkan urusannya sendiri selaku ketua tertinggi Serikat Pendekar Nusantara.


Prabu Jangkar Turi mengajak Sadewa makan lebih dulu sebelum dipertemukan dengan Datuk Lembu Sora dan Ki Seno Aji di ruangan khusus Ketua Bratasena. Letaknya di ujung Timur perguruan dan tetua lainnya sudah menunggu di sana.

__ADS_1


Diminta mengambil Pedang Kalacakra yang disembunyikan di balik selimut berlapis, Sadewa Pasha penasaran apa yang ingin dilakukan Ki Seno Aji dan Datuk Lembu Sora terhadap pedang yang didapatnya dari mimpi itu.


Begitu Sadewa masuk ruangan khusus Ketua Bratasena, Ki Seno Aji langsung menyambutnya dengan satu totokan di dahi yang membuat Sadewa Pasha pingsan. “Ini cara paling ampuh memanggil siluman kesayangan Dewa Pasha,” singkatnya.


__ADS_2