
Jendam Langit membungkuk, diikuti Ankara Patih yang loncat tinggi di udara.
“Kita harus beri dia pelajaran, Jendam Langit. Amarah kita sudah memuncak. Dia juga melukai Sadewa Pasha yang artinya melanggar aturan nomor tiga perguruan. Siapapun yang melukai murid lain di luar sesi festival atau pertarungan resmi, dia berhak mati, apapun kondisinya!”
“Terus serbu dia dengan panahmu, Ankara! Buat dia lengah agar seranganku tepat mengenai lehernya!”
Satu hentakan kaki Ankara Patih mengakibatkan debu bertebaran di udara. Hal itu sengaja dilakukan untuk mengurangi jarak pandang Pinanggih Anom. “Waktumu tujuh detik!”
Pemusatan energi di dua kaki Jendam Langit membuat tanah bergetar. Dia bertingkah bagai siluman katak dengan pedang digigit. Serangan ini berfokus pada ketepatan waktu saat melepas energi dari dua telapak kaki.
Dalam hitungan keempat, Jendam Langit melesat cepat ke udara tepat ketika Pinanggih Anom fokus menangkis Panah Api Biru milik Ankara Patih.
Trang!
Trang!
Trang!
Suara gesekan dua besi terdengar nyaring.
__ADS_1
Tidak. Ini lebih dari dua pedang. Ada empat pedang yang beradu satu sama lain, yang berarti, ada seseorang yang muncul di tengah debu.
Ki Jagaraksa yang terkenal ketus dan tidak pernah bicara, tiba-tiba muncul. Tugasnya adalah mengawasi sisi luar Lembah Seratus Pedang. Walau pribadinya sangat dingin, Ki Jagaraksa terkenal sadis dan tidak toleransi pada siapapun yang melanggar peraturan.
“Selesaikan urusan kalian di Festival Kembang Siluman!” Ki Jagaraksa membubarkan semuanya.
Statusnya memang tetua dua, tapi menurut mayoritas murid Lembah Seratus Pedang, dia adalah tetua terkuat yang pernah mengalahkan tiga siluman raksasa hanya dalam dua kali tebas.
Kekuatan utama Ki Jagaraksa terdapat pada pedangnya yang bernama Jalakumbang.
Pedang dengan ukuran sangat panjang nan berat itu bisa membelah jadi dua pedang ukuran sedang dan masing-masing bilahnya berubah hitam.
Dalam dunia pendekar, ada beberapa pedang yang terkenal keramat karena bilahnya berubah hitam dengan sendirinya. Semua itu disebabkan oleh tiga hal, salah satunya adalah yang dialami Ki Jagaraksa.
Sayembara itu disaksikan berbagai pendekar tingkat naga, tingkatan terkuat pendekar di dunia.
Utusan kerajaan, ketua perguruan, pendiri sekte, hingga pendekar dari pulau seberang turut hadir memberi ucapan selamat pada Sarip Saranjana atas keberhasilannya membuat pedang dengan kualitas tertinggi.
Ketika turun dari puncak menara, Sarip Saranjana muntah darah. Ada banyak bekas sayatan pedang di punggung dan perutnya.
__ADS_1
“Pedang Jalakumbang membuat ulah. Dia mencari tumbal.” Raden Bratasena yang kebetulan hadir pada saat itu, mengambil peti kecil dengan ukiran segel bertuliskan aksara Jawa.
“Dendam dan amarah Sarip Saranjana menjadi satu dengan pedang ini. Dia yang dulunya dihina oleh masyarakat karena tidak bisa membuat pedang kualitas tinggi, sekarang dipuja-puja karena adanya Pedang Jalakumbang. Emosi yang terluap mengakibatkan pedang ini jadi salah satu pedang terkutuk.”
Dua tahun berlalu, Raden Bratasena membuka sayembara bagi mereka yang ingin memiliki Pedang Jalakumbang.
Syaratnya hanya satu, dia harus memegang pedang itu tanpa menjatuhkannya ke tanah selama lima menit. Meski syaratnya mudah, tidak satu pun pendekar berani mencobanya. Mereka tahu, memegang Pedang Jalakumbang sama halnya menjemput ajal. Dan itu yang terjadi pada Sarip Saranjana, sang pengrajin pedang.
Hingga masuk tahun ketiga, sudah sebelas pendekar terbunuh akibat mengikuti sayembara yang diadakan Raden Bratasena. Mereka mati setelah berjuang menahan rasa sakit akibat sayatan yang tiba-tiba muncul di bagian perut dan punggung.
“Biar aku yang melampiaskan amarah Sarip Saranjana! Tujuan dia menciptakan pedang ini untuk membasmi aliran hitam dan Sekte Pemuja Iblis yang bermarkas di bagian Utara Alas Purwo.” Seorang lelaki berikat kepala merah datang menemui Raden Bratasena.
“Kisanak, kau harus memegang pedang ini selama lima menit tanpa menjatuhkannya ke tanah. Jika kau gagal, nasibmu sama seperti sebelas pendekar lain. Mati mengenaskan dengan penuh luka sayat.” Raden Bratasena coba memperingati pendekar tersebut.
“Sarip Saranjana memang mati, tapi dendam, amarah, dan jiwanya hidup dalam Pedang Jalakumbang. Sebelas orang itu mati karena mengincar kekuatan, beda denganku. Tujuanku mengikuti sayembara bukan untuk kekuatan, melainkan ingin membalaskan dendam sang pengrajin dengan membasmi Perguruan Racun Barat dan Sekte Pembasmi Iblis.”
Kisah tentang seorang pendekar yang berhasil membasmi tiga ribu lawan seorang diri perlahan menyebar ke seluruh Nusantara. Mereka memanggilnya Jagaraksa, bermakna perlindungan dan penjagaan.
Raden Bratasena lantas menunjuknya sebagai tetua dua perguruan karena Ki Jagaraksa terus memohon agar diangkat menjadi murid.
__ADS_1
Hingga hari ini tiba, Ki Jagaraksa memutar pedangnya. Terbentuk pusaran angin dari tengah api unggun, menerbangkan empat murid Lembah Seratus Pedang yang sedang bertarung.
“Kalian yang ingin melanjutkan pertarungan, aku siap melayani!” Ki Jagaraksa berdiri di antara Pinanggih Anom, Reksa, Ankara Patih, dan Jendam Langit, sembari mengangkat Pedang Jalakumbang tinggi-tinggi.