Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Propaganda Petinggi Istana


__ADS_3

“Sadewa! Cepat keluar!”


Suara gedoran pintu membangunkan Sadewa yang tertidur. Ketika membuka mata, Sadewa tidak merasakan apapun kecuali rasa hangat yang seperti mengalir ke seluruh pembuluh darah.


Mimpi itu terasa nyata!


Pedang Kalacakra yang kemarin dilihat Sadewa, tiba-tiba berada di ujung ranjangnya. Bentuknya sama persis dengan yang terjadi di alam mimpi. Padahal, sepanjang Kerajaan Basundara berdiri, tidak ada satu pun pendekar yang bernama Ki Bratasena.


“Sadewa, apa kau sudah mati? Cepat keluar karena Panglima Jalak Putih sedang mencarimu! Kau jadi buronan para petinggi!” suara laki-laki dari balik pintu kembali membuyarkan lamunan Sadewa.


Cepat-cepat Sadewa membuka pintu dan melihat Anang, sahabatnya, babak belur dengan beberapa luka lebam di bagian wajah.


“A-Anang, kau kenapa? Siapa yang tega melakukan ini?” Sadewa memeluk sahabatnya.


“Istana dikuasai pemberontak. Mahapatih Janinda Waru dikudeta oleh Panglima Jalak Putih yang mengincar posisi tertinggi kedua di kerajaan. Raja Maheswara bersekutu dengan Panglima Jalak Putih. Hasutan Ratih Maheswara terlalu kuat. Aku tidak bisa berbuat banyak ketika diberi pilihan untuk membunuhku, atau aku yang dibunuh.”


“Cepat masuk, Anang, kau aman di sini!”


Anang bersembunyi di kamar Sadewa, sedangkan Sadewa mengambil beberapa balok kayu yang ada di ujung kanan kamarnya, lalu mengganjal pintu dengan beberapa balokan kayu sebagai kunci.


Tak berselang lama, beberapa prajurit datang menggedor pintu kamar Sadewa.


“Keluarlah, Sadewa, kami tahu kau ada di dalam sana! Jangan bersembunyi, kami semua mencarimu. Serahkan juga Anang karena Panglima Jalak Putih ingin kepalanya dipenggal, saat ini juga!?”


“Sadewa Pasha, jangan harap kau bisa kabur dari istana Basundara. Kami sudah mengepungmu. Cepat serahkan diri sebelum kami membawamu paksa ke tiang gantung!”


Sementara itu, Bayu Dewandaru bersama Panglima Jalak Putih duduk santai di dekat lapangan istana. Mereka menunggu kedatangan Sadewa Pasha dan Anang dengan senyum kemenangan.

__ADS_1


“Berani sekali Sadewa, dia salah menantang orang!” Bayu berbisik pada ayahandanya. “Bila hubunganku dengan Ratih hancur, ayah tidak bisa naik jabatan jadi mahapatih.”


“Benar, Bayu. Membiarkan Sadewa hidup sama halnya membuka aibmu pada orang-orang di istana. Kita tidak bisa melakukan ini. Rencana yang sudah kususun bisa gagal bilamana nama baikmu hancur di mata para petinggi.”


Sejak Sadewa memergoki Bayu berhubungan badan dengan Ratih, Bayu mulai menyusun siasat propaganda yang didukung penuh oleh ayahnya.


Dua hari menjelang eksekusi Sadewa, Panglima Jalak Putih mengumpulkan tiga orang petinggi yang menurutnya bisa disuap dengan berbagai pusaka dan harta kekayaan. Ketiganya siap menghasut Raja Maheswara asalkan diberi upah yang setara, sepuluh keping emas untuk satu orang.


Satu keping emas setara seratus keping perak. Satu keping perak bernilai seratus keping perunggu. Di wilayah kekuasaan Kerajaan Basundara, orang-orang biasanya mengeluarkan dua puluh keping perunggu untuk kebutuhan satu bulan.


Bayangkan saja, sepuluh keping emas yang diberikan Panglima Jalak Putih bisa menghidupi keluarga mereka sampai puluhan tahun ke depan.


“Tawaran yang menggiurkan,” balas Prabu Yudhapati. “Memang, resiko dari kegagalan rencana ini sama besarnya dengan upah yang kau berikan. Sepakat. Kami menerima kerja sama ini!”


Prabu Yudhapati mulai menghasut pemimpin pleton, satu per satu, mulai dari pleton kosong yang berisi prajurit terbaik, hingga pleton dua belas yang bertugas di bagian terluar kerajaan.


Masing-masing pemimpin pleton diberi sepuluh keping perunggu bilamana mereka berhasil membawa tiga saksi dari pihak prajurit. Apabila ada dua belas prajurit yang mau bersaksi, maka pemimpin pleton diberi empat puluh keping perunggu.


Kurang lebih, ada enam puluhan orang yang siap bersaksi di hadapan Raja Maheswara. Mereka secara serempak mengatakan kalau Sadewa Pasha telah menghamili tiga gadis desa dan dua selir maharaja.


Sontak, kabar itu menyebar ke seluruh penjuru negeri. Mereka yang mengenal betapa baik dan setianya Sadewa Pasha, hanya bisa menangis. Namun, mereka yang sedari awal tidak suka dengan kedekatan Sadewa Pasha dan Ratih, menyebarluaskan cerita sehingga orang-orang dari luar kerajaan tahu betapa buruknya Sadewa Pasha.


Propaganda terus berlangsung sampai dua minggu.


Panglima Jalak Putih dan Bayu Dewandaru bekerja sama dengan seluruh pemimpin pleton untuk membuat rekayasa bukti palsu. Mereka menggunakan segala cara. Bahkan, mereka tak segan menculik gadis hamil dan membunuh suaminya agar bisa dijadikan saksi mutlak bahwa Sadewa Pasha yang telah menghamili gadis tersebut.


Panglima Jalak Putih mengancam keluarga gadis-gadis yang bersangkutan. Sarung pedang selalu dia keluarkan kala berhadapan dengan ayah dan ibu sang gadis.

__ADS_1


Orang-orang menyebutnya, Kudeta Jalak, karena kebusukan muka sang panglima di hadapan rakyat jelata.


Ratih yang diberitahu Bayu siapa provokator kebusukan ini, hanya bisa tersenyum. Dia berterima kasih kepada Bayu karena berhasil menyingkirkan Sadewa Pasha, bahkan ikut serta menghasut Raja Maheswara menjatuhkan hukuman gantung untuk Sadewa dan orang-orang yang ingin melindunginya.


Raja Maheswara tidak tega melihat putri semata wayangnya menangis tiap malam. Apalagi, dia diberi amanat mendiang istrinya, Ratu Rara Resapati, menjaga Ratih sampai dia menemukan dambaan hidup yang sesuai dengan kriteria yang sudah digariskan turun-temurun.


“Hari ini, dia harus dihukum mati! Siapkan tiang gantung untuk dua orang. Sadewa Pasha dan Anang pasti bersekongkol menyembunyikan hal keji ini.” Raja Maheswara membuat ultimatum sehingga semua prajurit bergerak mencari keberadaan Anang dan Sadewa Pasha.


Mahapatih Mayapada hanya bisa diam menyaksikan proses kudeta Panglima Jalak Putih. Dia sadar, posisinya saat ini terancam. Memberi nasehat pada Raja Maheswara juga tidak mungkin. Lawan propagandanya adalah anak kandung sang baginda.


Sebelum hukuman gantung dimulai, Mahapatih Mayapada membuka relung ilusi. Dia sebenarnya memiliki kekuatan mahadahsyat setara pendekar naga, tingkatan pendekar terkuat di dunia. Namun, mahapatih tidak pernah menunjukkannya pada orang banyak.


...


“Anang, bagaimana ini? Kita terkepung. Kita tidak punya jalan keluar.”


Sadewa Pasha berdiri di depan pintu yang terus digedor prajurit.


“Sadewa Pasha, keluarlah! Kami beri waktu satu menit. Sampai kau tidak keluar dari kamar, kami tidak segan mendobrak kamarmu, lalu menyeretmu dengan posisi tangan dan kaki dirantai. Wajahmu kami ratakan dengan tanah sehingga orang-orang tahu betapa buruknya dirimu, luar dan dalam!”


Sring!


Sebuah lingkaran hitam muncul dari balik pintu.


Sadewa Pasha loncat mengambil Pedang Kalacakra yang dia sembunyikan di balik selimut putih. Melihat yang datang adalah Mahapatih Mayapada, Sadewa Pasha langsung menyeret tubuh Anang masuk ke dalam relung ilusi.


Perpindahan dimensi dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan waktu yang cukup lama, sedangkan tujuan Mahapatih Mayapada adalah membawa mereka berdua ke sebuah perguruan yang letaknya di puncak Bukit Kabut.

__ADS_1


Energi Mahapatih Mayapada terkuras drastis. Dia muntah darah. Namun, dia tak mau menyerah. Sadewa Pasha adalah satu-satunya orang yang dia harap bisa menyelamatkan Istana Basundara dari orang-orang licik seperti Panglima Jalak Putih.


Para prajurit yang berdiri di luar tidak sabar menyiksa Sadewa Pasha dan Anang. Mereka mendobrak pintu kamar Sadewa. Tiga sabetan pedang langsung diarahkan ke dalam kamar, tanpa tahu apa yang ada di dalam sana.


__ADS_2