Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Kunang-Kunang Penyelamat


__ADS_3

“Mustika Pedang Kalacakra... dia memilikinya juga! Seno Aji, kau akhirnya menemukan pemuda ini. Aku sudah menunggu 400 tahun lamanya. Mungkin inilah alasan Sang Hyang Widi memberiku umur panjang.”


Sang pertapa terus berbicara dengan Sadewa meskipun tahu Sadewa dalam kondisi tidak sadarkan diri. “Kunang-Kunang Kalacakra akan menyembuhkan semua lukamu. Aku akan mengajarimu begitu kau menemukan posisiku di dekat goa samping sungai tempat ritual tahap dua berlangsung.”


Pertapa itu pergi meninggalkan Sadewa bersama kitab kuno dan mustika merah yang tiba-tiba terpatri di gagang Pedang Kalacakra.


...


Malam setelah kepergian kakek pertapa, gerombolan cahaya berpendar merah mulai mendekati tubuh ringkih dengan kaki dan tangan patah itu. Ratusan, atau bahkan ribuan kunang-kunang merah berkumpul di sekitar tubuh Sadewa.


Ini bukan kunang-kunang biasa yang memancarkan warna kuning, tapi ini adalah kunang-kunang khusus. Mereka menyerap sinar matahari untuk bertahan hidup.


Aura yang terpancar dari Mustika Pedang Kalacakra memanggil kunang-kunang itu datang.


Merekalah Kunang-Kunang Kalacakra, sangat berbeda dari yang lain. Kunang-kunang ini hanya bisa ditemukan di tempat-tempat tertentu dengan energi alam asri, belum tercemar aliran hitam sedikitpun.


Dewa Pasha yang menciptakan kunang-kunang ini sebagai penyembuh mereka yang putus asa dan ingin bunuh diri dengan terjun ke dasar jurang.

__ADS_1


Jika kunang-kunang biasa memfungsikan cahaya kuningnya sebagai penerang, Kunang-Kunang Kalacakra ini akan memberi energi kehidupan bagi mereka yang hampir mati, atau malah kunang-kunang ini bisa menghidupkan orang yang sudah mati.


Tapi, cerita itu hanya mitos yang beredar dari mulut ke mulut.


Ratu Kunang-Kunang Kalacakra yang bernama Dewi Yustika datang dan kunang-kunang lainnya memberi jalan pada sang ratu.


“Kau harus berada di ambang kematian agar kita bisa menyembuhkan seluruh lukamu. Kau juga harus merasakan sakit yang amat dahsyat agar kekuatan kami bisa berfungsi.” Dewi Yustika menyuruh anak buahnya membuat gelembung cakra besar.


Satu dari ribuan kunang-kunang mendekat. Dia adalah sang panglima yang bertugas memastikan apakah rasa sakitnya melampaui batas yang diizinkan Dewa Pasha atau malah rasa sakit yang diderita Sadewa tidak memenuhi syarat penyembuhan.


Sang panglima memasukkan satu sayapnya yang lantas menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak merasakan rasa sakit yang berarti, Sadewa tidak memenuhi syarat penyembuhan.


“Aku curiga rasa sakit yang dia derita jauh lebih mengerikan dari pada dihunus seribu pedang berturut-turut sampai kau mati rasa, seperti orang mati. Mungkin itu yang terjadi dengan sayapmu. Kau tidak merasakan apapun karena kau harus memasukkan seluruh tubuhmu agar dapat merasakan rasa sakit yang sama.”


Benar saja.


Begitu sang panglima memasukkan sekujur tubuhnya, dia berteriak sampai ajal menjemput.

__ADS_1


Dewi Yustika menyayangkan hal tersebut karena dia adalah satu-satunya panglima yang dianggap paling kuat menahan rasa sakit dan kebal terhadap hunusan pedang.


“Lukanya terlalu kuat. Dia sudah memenuhi syarat penyembuhan. Aku tidak ingin ada koloni kita yang menjadi korban selanjutnya. Kita harus cepat selagi detak jantungnya masih berfungsi.” Dewi Yustika memerintah seluruh koloni Kunang-Kunang Kalacakra melakukan prosesi penyembuhan.


Perlahan, kunang-kunang merah itu mengerubungi tubuh Sadewa sehingga terdengar suara kertakan yang sangat keras di beberapa bagian tubuh Sadewa.


Krak!


Krek!


Krak!


Setelah bunyi kertakan selesai, tiga ekor kunang-kunang masuk ke dalam tubuh Sadewa, lantas keluar dengan membawa jantung serta hatinya. Cahaya merah Kunang-Kunang Kalacakra semakin pekat dan terus mengisi energi kehidupan di jantung Sadewa.


Puluhan kunang-kunang yang ada di lengan kiri Sadewa sudah terbang karena hampir kehabisan energi, lantas diisi kunang-kunang lain yang cahayanya masih menyala merah, pertanda kalau energi mereka masih utuh.


Ratu Yustika meminta kunang-kunang yang sudah mulai redup, pergi ke tepian goa guna menyerap energi alam yang akan dirubah jadi energi kehidupan baru.

__ADS_1


“Prosesi ini berlangsung cukup lama. Kalian yang belum mendapat jatah penyembuhan, cepat bersiap! Pastikan energi kehidupan kalian cukup untuk menyembuhkan tubuh Sadewa!”


__ADS_2