
“Misinya mudah. Kau harus mengalahkan siluman kera putih yang selama ini dianggap sebagai raja siluman di Hutan Raksasa Putih.” Gatra berkata seolah menganggap Sadewa mampu menyelesaikan semua misi itu tanpa kesulitan apapun.
“Mudah gundulmu! Memang seperti ini potret burung gagak tapi tidak memiliki burung sendiri, padahal jenis kelaminmu itu jantan!”
“Jangan sampai aku memukul kepalamu dengan tongkat ini! Ingat, sudah ada dua benjolan karena mulutmu yang benar-benar tidak pernah diajari sopan santun!” Gatra mengancam Sadewa sehingga pemuda berkuncir itu diam membisu.
Sebenarnya Sadewa geram dengan misi terakhir ini.
Mana mungkin pemuda yang baru mencapai tingkat Pendekar Bumi Awal bisa mendaki pohon setinggi dua ratus tombak. Dan yang lebih mustahil, pendekar muda seperti Sadewa dikira bisa mengalahkan siluman kera putih yang sudah ratusan tahun menguasai hutan ini.
“Sadarlah, Guru, di mana letak kewarasanmu yang menyuruh seorang pemula sepertiku mengalahkan raja hutan ini? Otakmu ditaruh mana? Apa kau tidak pernah berpikir?” Sadewa yang geram, meluapkan semua emosinya.
“Ehh, kau yang harusnya berpikir, dasar Antena Kutu! Sekarang aku tanya, sejak kapan burung gagak punya otak yang digunakan untuk berpikir?”
“Sejak...” Sadewa tidak bisa menjawab.
Benar juga kata Gatra, mana mungkin ada khodam penjaga pusaka yang memiliki otak. Mereka adalah makhluk astral yang tidak bisa dilihat dari sudut pandang mata orang normal.
Sadewa tersenyum sinis dan memicingkan mata. “Guru, seandainya kau manusia sepertiku, akan kutendang paruhmu!”
Tidak mau kalah, Gatra membela diri dan membalas ucapan muridnya. “Murid macam apa yang berani sekali menendang paruh berhargaku?”
“Berbicara denganmu hanya menguras tenaga, sebaiknya aku langsung melakukan misi untuk mencuri telur emas.” Sadewa bergerak cepat dengan ilmu meringankan tubuh tingkat dasar yang dia peroleh saat latihan bersama Prabu Jangkar Turi.
Dia meloncat dari satu batu ke batu lain, lalu memanjat pohon dengan susah payah. Sadewa bergelantungan di beberapa ranting untuk mengukur seberapa berapa jauh lagi dia harus mencari satu titik pandang yang cocok untuk mencari pohon tertinggi di hutan ini.
Meskipun sudah punya ilmu meringankan tubuh, tetapi tetap saja, Sadewa harus memanjat karena pepohonan di bagian tengah hutan tergolong pepohonan yang tingginya mustahil dijangkau pengguna ilmu meringankan tubuh tingkat dasar.
Dari ketinggian pohon di tengah hutan, Sadewa mengetahui letak sarang siluman elang. “Sedikit ke Selatan dan loncat sekitar seratus pohon lagi! Aku harus menghitung berapa pohon yang sudah kuloncati agar bisa mengukur jarak aman dengan sarang siluman elang.”
Setelah mendekati pohon milik elang penjaga, Sadewa terkejut, ternyata pohon tersebut tingginya menjulang sampai ke langit-langit. Meneguk ludahnya sendiri karena tidak percaya, Sadewa kebingungan bagaimana menaiki pohon dengan ketinggian melebihi kabut.
Dari jauh memang tidak terlalu tinggi, tapi ketika dilihat dari dekat, pohon itu bagai seorang raksasa yang sedang bermain-main dengan kurcaci.
__ADS_1
“Benar-benar guru yang gila,” batin Sadewa sebelum meloncat ke pohon milik elang penjaga.
“Tapi muridnya lebih gila!” bisikan itu langsung membuat konsentrasi Sadewa pecah.
Pemuda berkuncir hilang keseimbangan dan terjatuh dengan posisi kepala di bawah. Untung saja tangan kirinya reflek sehingga Sadewa melakukan pendararatan dengan tubuh memutar seperti melakukan lompatan harimau.
Keributan yang ditimbulkan Sadewa dan Gatra menarik perhatian macan kumbang yang memang memiliki habitat utama di dekat sarang elang.
Semak belukar tinggi yang terletak empat meter di hadapan Sadewa, tiba-tiba bergoyang seperti ada sosok yang bersembunyi di sana. Tak berselang lama, suara auman terdengar nyaring. Suara derapan kaki macan kumbang makin lama terasa makin cepat.
Kini, Sadewa dikepung oleh empat macan kumbang yang kelaparan dan sedang mencari jatah makan siang.
...
Kalian bisa baca kelanjutan novel ini secara GRATIS di platform f1zz0 dengan judul Pusaka Pedang Kalacakra. Sudah ada 80 ribu kata di sana. Update rutin 2-7 bab per hari dan DIJAMIN TAMAT. Author : Jaka Sembung.
...
“Guru, bantu aku! Dengan tangan kanan yang masih lumpuh, aku tidak akan bisa melawan empat macan kumbang sekaligus. Setidaknya, kalau kau tidak mau membantu, sembuhkan saja tangan kananku agar aku bisa bertarung seperti sedia kala!”
Auman macan itu semakin keras seiring nada bicara Sadewa yang semakin naik.
Mereka merasa terancam dengan bunyi suara Sadewa dan menganggapnya sebagai musuh yang bisa merusak ekosistem macan kumbang di hutan.
“Guru sialan! Gara-gara ulahmu, aku harus melawan empat-empatnya sekaligus!” Sadewa terus menggerutu, tapi tidak dia teruskan karena dia melihat macan dari arah kanan sudah bersiap dengan kuda-kuda menyerang.
Keempat macan kumbang itu terus mengaum kepada Sadewa dari empat arah berbeda. Keempat arah mata angin sudah tertutup dan dia tidak bisa kabur dari ancaman macan kumbang.
“Gunakan kekuatan yang telah kau latih! Fisikmu, kuda-kudamu, gerakan dasarmu, caramu membaca gerakan musuh, dan jangan lupakan dua jurus yang selama ini kau asah hingga kau menjadikan dua jurus itu sebagai jurus andalan!”
“Tendangan sabit dan pukulan pemecah air, apa itu yang kau maksud?” Sadewa mematung ketika dikepung empat ekor harimau.
Gatra akhirnya memberitahu Sadewa kalau hewan-hewan yang ada di Hutan Raksasa Putih memiliki energi yang bisa digunakan untuk menambah dampak kerusakan pada lawan mereka.
__ADS_1
“Kenapa mereka tidak mengaum ke arahmu?” Sadewa lagi-lagi menanyakan hal bodoh.
“Kau itu benar-benar punya otak atau otakmu kau jual ke pengepul sampah di tengah alun-alun? Aku ini kasat mata. Aku tidak bisa dilihat mata orang normal, tak terkecuali hewan-hewan di sini. Tidak ada yang bisa melihatku kecuali sesama bangsa siluman dan bangsa lain yang memiliki kekuatan mata batin.”
Gatra yang sekarang mengeluh perihal Sadewa. “Sudah berapa kali aku jelaskan padamu tentang hal ini? Pertanyaanmu selalu saja sama, kenapa yang lain tidak bisa melihatku, sedangkan kau tidak!”
“Diam, Guru, aku sedang konsentrasi!” Sadewa loncat dan bergelantung di atas pohon. Serangan macan pertama sudah dilayangkan. Dengan kelincahan dan ketahanan fisik, Sadewa harusnya bisa mengelak dengan mudah, apalagi dia sudah menguasai ilmu meringankan tubuh tingkat dasar.
...
Kalian bisa baca kelanjutan novel ini secara GRATIS di platform f1zz0 dengan judul Pusaka Pedang Kalacakra. Sudah ada 80 ribu kata di sana. Update rutin 2-7 bab per hari dan DIJAMIN TAMAT. Author : Jaka Sembung.
...
Sebelum macan itu menolehkan mukanya ke Sadewa, jurus pukulan pemecah air langsung dikerahkan. Sadewa memusatkan energinya di telapak tangan kanan dan posisi kiri menggenggam kuat.
Menunggu aliran energi berkumpul di satu titik, Sadewa cepat-cepat menghantamkannya pada salah satu macan kumbang sehingga sosok itu terlempar sejauh lima puluh meter. Efek kerusakan yang ditimbulkan sangatlah dahsyat, bahkan bisa meruntuhkan tiga puluh pohon hanya dengan satu kali pukul.
Satu macan lagi maju menyerang dan Sadewa sudah dalam posisi kuda-kuda menyerang. Ini berarti jebakan. Sadewa seolah-olah menunjukkan pose bertahan, tapi di pikirannya, dia ingin memanfaatkan momen kecerobohan satu dari tiga macan tersisa, untuk melakukan serangan balik cepat.
Cpak!
Cpak!
Kaki kanan Sadewa melesat mengenai bagian kepala macan kumbang tadi, sementara dua lainnya mengaum keras seperti meminta bantuan. Tak pelak, elang penjaga tadi mendengar auman macan di bawah pohonnya dan elang itu turun untuk melawan Sadewa.
Perawakan elang itu besar sekali, bahkan delapan orang saja bisa muat kalau duduk di punggungnya. Saat elang itu menyerang, Sadewa bisa menghindari serangannya. Tapi naas, dua macan kumbang sudah menunggu di arah menghindar Sadewa.
Crat!
Satu kuku macan tersebut mengenai lengan kiri Sadewa sehingga darah mengucur deras.
...
__ADS_1
Kalian bisa baca kelanjutan novel ini secara GRATIS di platform f1zz0 dengan judul Pusaka Pedang Kalacakra. Sudah ada 80 ribu kata di sana. Update rutin 2-7 bab per hari dan DIJAMIN TAMAT. Author : Jaka Sembung.