Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Melawan Feng Shui 3


__ADS_3

Lembah Seratus Pedang dikenal memiliki pendekar-pendekar sakti tingkat naga. Namun, mereka tidak pernah menampakkan diri kecuali Nusantara benar-benar membutuhkan mereka.


Raden Bratasena sengaja menempa murid Lembah Seratus Pedang untuk memupuk jiwa rendah hati dan kesederhanaan mereka, tanpa harus bersinggungan dengan dunia luar. Mereka tidak akan tahu seperti apa rusaknya Nusantara sekarang jika terus berada di sini.


Semua murid harus tetap tinggal di sini, sampai akhir hayat, kecuali pendekar yang benar-benar dirasa layak dan memenuhi syarat meninggalkan perguruan. Yaitu mengalahkan dua dari tiga tetua dan mendapat pengakuan bahwa mereka telah mencapai kesucian batin dan kejernihan pikir.


Alasan kenapa murid harus bertarung dengan salah satu dari dua tetua adalah untuk membuktikan kelayakan mereka ketika mereka mengembara nanti.


Hal ini bertujuan untuk menjaga reputasi Lembah Seratus Pedang yang dalam setengah abad terakhir melahirkan pendekar-pendekar sakti.


Jika tidak demikian, maka pendekar di luaran sana mengira kalau murid lulusan Lembah Seratus Pedang adalah murid yang lemah dan tidak bisa bersaing dengan perguruan lain.


Feng Shui dan Mahesa hampir saja berhasil mengalahkan Ki Jagaraksa, namun tetua dua dirasa terlalu kuat. Hanya dengan Pedang Jalakumbang yang memiliki spesialisasi elemen api dan angin, Ki Jagaraksa lantas membungkam seluruh serangan Feng Shui dan Mahesa.


Karena itulah, keduanya terus mengasah kekuatan baru, memutar otak agar bisa mengalahkan tetua dua dan diizinkan pergi mengembara.


“Ajian Tali Jiwa - Kombinasi Ketiga. Aku tidak akan menahan diri. Kombinasi tiga adalah kombinasi kerusakan tingkat tinggi yang bisa mencabik-cabik tubuhmu jadi bagian kecil!” Mahesa menggores tangannya hingga keluar darah.

__ADS_1


Sesosok siluman bermantel hitam dan membawa sabit keluar. Dia seperti dewa kematian.


Feng Shui mengira Mahesa bersekutu dengan iblis, tapi dengan cepat Mahesa menyangkalnya. “Dia adalah penghuni Pedang Penukar Jiwa, sama seperti siluman yang menghuni Pedang Jalakumbang milik tetua dua. Sabitnya setara dengan kekuatan dua puluh pendekar tingkat naga.”


“Aku tidak butuh omong kosong!” Feng Shui menyela. “Buktikan kalau memang Pedang Pengikat Jiwa milikmu jauh lebih kuat dari Pedang Cahaya Kutub milikku!”


“Bersiaplah, Kisanak, akan kutunjukkan seberapa mengerikannya dua klon Cana dan Yudha!” Mahesa membentuk lingkaran yang di tengahnya digambari segitiga terbaik. Dia berdiri di pusat lingkaran, lantas melempar Pedang Pengikat Jiwa tinggi-tinggi.


“Wahai jiwa yang ada di bumi dan langit, bantulah aku! Serahkan jiwa kalian sebagai tumbal untuk Pedang Pengikat Jiwa dan siluman yang menjaganya! Kalian yang haus darah dan balas dendam, sekarang lah saatnya!?”


Raungan naga terdengar sangat keras.


Serangan ini hampir mirip seperti kekuatan Pedang Jalakumbang, mengandalkan gravitasi sebagai kekuatan utama. Hanya saja, pedang milik Mahesa memanfaatkan pasir sebagai magnet utama.


“Bongkahan es Pedang Cahaya Kutub akan melebur bersama pasir dan bebatuan lapangan. Air memang bisa menetralkan pasir, tapi dua benda itu bercampur membentuk satu kesatuan baru.”


Kemudian, Mahesa meneruskan. “Apapun yang mengandung elemen pasir akan tersedot masuk bersama jiwa-jiwa yang haus darah dan balas dendam, termasuk pedangmu, dirimu, dan seluruh kekuatanmu!”

__ADS_1


Feng Shui berulang kali menembakkan panah es cahaya untuk menghancurkan inti magnet yang sudah dipenuhi bebatuan. Namun, serangan itu hanya menghancurkan bagian luarnya saja.


“Angin Feng Shui!”


“Jurus Pedang Cahaya!”


“Kutub Pemecah Besi!”


“Pedang Kutub Angkasa!


“Jarum Pemecah Batu!”


“Sial, kenapa tidak satu pun jurusku berhasil menghancurkan medan magnet itu!” Feng Shui berdecih kesal. Jarak tubuhnya dengan medan magnet semakin dekat. Dia harus memutar otak agar bisa lepas dari cengkeraman kombinasi ketiga Ajian Tali Jiwa.


Sampai suatu ketika, Feng Shui memilih pasrah. Dia merelakan tubuhnya tergabung dalam medang magnet yang makin lama makin besar. Senyuman misteri sempat terlihat sesaat sebelum tubuh Feng Shui dihantam bebatuan dan kerikil yang terhisap ke pusat lingkaran.


Blam!

__ADS_1


Gempa dahsyat selesai. Angin tidak lagi berhembus kencang. Semua murid tidak berkedip. Tiga tetua, termasuk Ki Seno dan Datuk Lembu Sora hanya bisa ternganga menyaksikan lapangan yang tadinya bergejolak, tiba-tiba diam sesunyi hutan rimba.


“Ini sudah selesai,” kata Arjuna. “Medan magnet Mahesa adalah serangan mahadahsyat yang berhasil mengalahkan Ki Aluna Prabu tiga tahun lalu. Selama Cana, Yudha, dan siluman penghuni pedang tidak dimusnahkan, medan magnetnya akan terus menghisap seluruh benda yang pernah bersentuhan dengan pasir.”


__ADS_2