Legenda Senopati Terakhir

Legenda Senopati Terakhir
Dihadang Pendekar Lencana Giok


__ADS_3

"Akhirnya kau mencapai tingkat Tulang Macan Menengah!"


Raden Bratasena memuji perkembangan Sadewa karena dalam satu setengah bulan pemuda itu berlatih keras tanpa henti. Kenaikan tingkat tulang Sadewa tentu tak lepas dari bantuan Ginseng serta Jinten Hitam khusus yang disediakan para sesepuh lembah.


Padahal sangat sulit menemui pemuda 18 tahun memiliki Tulang Macan Menengah, bahkan di sekte dan perguruan besar sekalipun.


Berulang kali Sadewa melakukan gerakan di udara untuk sekedar menguji kekuatan barunya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, bahkan dia bisa lompat setinggi empat meter tanpa bantuan ilmu meringankan tubuh.


Kekuatan fisik ditambah berkah Pasha membuat Sadewa yakin dirinya tidak bisa dikalahkan oleh siapapun yang usianya sebaya dengannya.


"Sadewa! Sudah berapa kali kau diperingatkan untuk menjauhi Sumur Pedang Kembar atau tubuhmu terhisap masuk dan tidak bisa keluar lagi!" seruan keras terdengar dari balik tirai bambu di dekat gubuk pengobatan.


"Sejak kapan Ki Aluna Prabu ada di sini?" Sadewa membalik badan, pura-pura tidak bersalah meskipun sudah belasan kali melanggar.


"Ya ampun, ternyata yang dikatakan Raden Bratasena benar, kau tidak pernah bosan untuk mencari tahu hal yang membuatmu penasaran, termasuk apa isi sumur tersebut."


Sadewa meringis tipis kala Ki Aluna Prabu menyuruhnya pergi ke dapur, menyiapkan dua gelas kopi. Ini sudah rutinitas setiap kali Ki Aluna Prabu ingin menceritakan sesuatu pada Sadewa. Pemuda itu dengan cerianya pergi menuju dapur, meloncat-loncat seperti anak kecil.


Dua kopi mengepulkan asap sudah terhidang di depan mereka, Ki Aluna Prabu memulai perbincangan.

__ADS_1


"Alasan kenapa lembah ini dinamakan Lembah Seratus Pedang karena dulu lembah ini pernah menjadi kolam darah akibat pembantaian sekte yang menolak bergabung dengan Perguruan Elang Hitam. Pelakunya satu orang. Dia sangat kuat karena memiliki dua pedang kembar yang bisa membelah tebing tanpa harus ditukar dengan energi kehidupan penggunanya.”


Ki Aluna Prabu mengatakan kalau pendekar itu menyesali perbuatannya ketika kakek kandung Raden Bratasena datang untuk membalaskan dendam orang-orang sekte.


"Sumur ini adalah bentuk penghormatan kakek Raden Bratasena agar generasi selanjutnya tahu kalau sang pendekar meninggal dalam keadaan baik, tanpa penyesalan, juga rasa bersalah.”


Membenarkan posisi duduk karena sudah tidak nyaman, Sadewa mengajukan satu pertanyaan pada Ki Aluna Prabu.


"Berarti nama sumur itu diambil dari pedang kembar milik sang pendekar?"


Ki Aluna Prabu mengangguk. "Lebih tepatnya, dinamai oleh kakek kandung Raden Bratasena yang juga merupakan pendiri Lembah Seratus Pedang. Yang aku tahu, tidak berhasil menetralkan energi hitam yang ada di pedang itu, terutama Pedang Batu Bintang, kakak kandung Pedang Bulan Inka."


"Pedang saja ada namanya, hebat juga ya ... apa Guru tidak berniat menamai burungku dengan nama-nama unik seperti pedang kembar itu?"


"Satu hal..." Sadewa mengacungkan tangan setelah dia mengambil ikat kepala dan pedang kecilnya. "Hampir dua bulan lebih aku berlatih di sini, Guru belum memberitahuku lembah ini posisinya ada di mana."


Ki Aluna Prabu kembali menghela nafas berat. Jika dihitung, Sadewa sudah menanyakan hal yang sama hampir setiap hari. Ketua Lembah Seratus Pedang tidak mau memberitahukan lokasi lembah ini pada Sadewa meskipun pemuda itu memohon sampai berlutut.


“Akan kuberitahu lokasi Lembah Seratus Pedang, tapi dengan satu syarat.” Ki Aluna Prabu memanfaatkan rasa penasaran Sadewa yang sangat tinggi.

__ADS_1


“Katakan syaratnya, Guru, aku siap melakukan apapun!”


“Kalahkan Pinanggih Anom dalam pertarungan terakhir Festival Kembang Siluman. Jika kau berhasil, aku memberimu izin untuk mencoba kekuatan Pedang Mata Langit milikku. Aku juga akan memberitahumu lokasi asli Lembah Seratus Pedang.”


“Baik, Guru, akan kulakukan yang terbaik.”


Sadewa kembali ke kamarnya dengan perasaan senang. Setiap langkahnya selalu diiringi siulan ria. Pinanggih Anom yang melihat Sadewa datang, tiba-tiba merasa kesal.


Dua pedang kayu diambil Pinanggih Anom, satunya dilempar ke arah Sadewa.


“Hei Pemuda Berkuncir, jangan jumawa hanya karena Raden Bratasena mengistimewakanmu dari murid-murid lain. Murid lencana emas tidak selemah yang kau pikir. Sebelum bertarung dengan mereka, agaknya kurang elok bila aku tidak menguji kekutanmu dulu.”


Di kesempatan ini, Sadewa hanya bisa menolak ajakan Pinanggih Anom. Dia tahu, niat Pinanggih Anom mencengatnya bukan sekadar tes kekuatan. Pasti ada maksud lain, atau bahkan dendam terselubung.


Sadewa menatap mata Pinanggih Anom. Ada urat kebencian di sana. Mahesa juga pernah memberitahunya kalau Pinanggih Anom tidak pernah suka bila ada murid baru yang tiba-tiba mengancam posisinya sebagai pemegang lencana giok.


Hening.


Emosi Pinanggih Anom meningkat tatkala melihat Sadewa membawa sebilah pedang kecil di lingkar celananya. Dia mengira Sadewa ingin menyakitinya ketika murid-murid lain sedang tidur.

__ADS_1


Karena emosi yang tidak terkontrol, Pinanggih Anom melesat cepat sembari mengayunkan pedang kayu tepat ke leher Sadewa.


“Ja-jangan serang aku!” Sadewa tidak bisa berbuat banyak. Kecepatan Pinanggih Anom membuatnya tak sempat menahan kuda-kuda. “A-aku tidak ingin ber...”


__ADS_2