
“Bapakmu adalah orang suci. Dia selalu berdoa agar anaknya diberkahi kekuatan Dewa Pasha yang nantinya disebut sebagai anak dalam ramalan. Tugas utamamu mendamaikan bumi saat era kehancuran terjadi. Pedang Kalacakra yang kau punya, adalah sebuah tanda bahwa kau adalah orang yang dipilih langsung Dewa Pasha untuk meneruskan titahnya sebagai Dewa Keselamatan.”
Sadewa terheran-heran. “Bagaimana mungkin aku diberi mandat oleh Dewa, sedangkan tangan kananku seperti mati rasa. Aku jatuh dari jurang. Tangan kananku cacat. Mustahil aku jadi pendekar kuat jika hanya memiliki satu tangan!”
Mendengar ucapan Sadewa, pria bernama Gatra itu mengecek tangan kanannya dengan penuh selidik, membuatnya sedikit salah tingkah.
“Tidak ada masalah. Semua sudah beres, tapi waktu pemulihannya butuh waktu 2 minggu hingga tangan kananmu bisa berfungsi normal.” Gatra berhenti sejenak, lantas melanjutkan kalimat terakhirnya dengan suara yang sangat pelan. “Bahkan bertambah kuat.”
Sadewa sangat antusias mendengar hal tersebut. Tapi, dia tidak tahu sampai kapan harus terkurung di hutan yang disebut-sebut sebagai Hutan Raksasa Putih.
Apakah dia bisa kembali atau tidak, semua bergantung pada bagaimana cara Sadewa menyelesaikan ritual tahap dua yang mana dia harus berhasil membangkitkan energi alam milik Dewa Pasha yang selama ini tertahan di dalam tubuhnya.
Hanya itu satu-satunya cara, atau mungkin ada cara lain yang Sadewa sendiri belum mengetahuinya.
Byur!
Pria yang memperkenalkan diri sebagai Gatra itu mendorong Sadewa ke sungai yang aliran airnya tiba-tiba jadi sangat deras.
Melihat Sadewa yang gelagapan minta tolong karena tidak bisa berenang, Gatra tertawa dan segera terbang menolongnya. Semua ini karena tangan kanan Sadewa yang masih dalam tahap pemulihan setelah jatuh dari jurang.
Gatra tidak menyangka, sikap yang dimiliki Sadewa hampir mirip seperti sikap Dewa Pasha dulu yang dikenal suka ceplas-ceplos dalam bicara. Tingkahnya juga agak aneh.
Mungkinkah perubahan sikap dan tingkah Sadewa dikarenakan roh-nya sudah menyatu dengan roh Gatra Sang Gagak?
Beberapa detik berselang, Sadewa dibuat terkejut dengan apa yang ada di depannya. Gatra menunjukkan bentuk aslinya yang berupa burung gagak raksasa berwarna hitam dengan mata merah menyala.
__ADS_1
Sadewa yang ketakutan melihatnya, langsung tergelincir dari atas batu. Kakinya tergores dan berdarah. Beruntung aliran air sungai tiba-tiba berubah jadi sedikit tenang.
Menyadari Sadewa belum siap melihat wujud aslinya, Gatra kembali ke wujud manusianya yang lumayan tampan dengan wajah sedikit tirus. Pakaiannya putih dan dia membawa sebilah pedang panjang dengan mustika merah yang terpatri di bagian tengah gagangnya.
“Setelah satu jam berada dalam wujud ini, aku pasti kembali ke wujud asliku berupa gagak tadi. Wujud ini terlalu menguras energi. Pasalnya, aku adalah siluman. Menjelma jadi manusia membutuhkan ilmu tingkat tinggi karena aku harus benar-benar mengingat ciri tubuh manusia yang akan aku serupai.”
Sadewa kembali berdiri dengan postur tubuh tegap seteah tadi sempat tergelincir dari atas batu. Setelah itu, dia membungkuk seraya mengucap dengan lantang. “Murid memberi hormat pada guru!”
Gatra lantas mengajak Sadewa kembali ke dasar jurang tempat pemuda berkuncir itu jatuh.
Kitab kuno bersampulkan kuning kemerahan diambil. Gatra membuka halaman kelima yang menjelaskan tentang tingkatan pendekar dunia. Kitab ini dikarang langsung oleh Dewa Pasha sehingga apapun yang tertulis di dalamnya, dijadikan acuan oleh pendekar aliran putih seluruh dunia.
Gatra yang benar-benar hafal kitab tersebut, menjelaskan beberapa tingkatan pendekar kepada Sadewa agar dia bisa membuka halaman selanjutnya .
“Ada lima tingkatan pendekar di dunia ini. Setiap tingkatan memiliki syarat dan ketentuan tertentu. Apabila kau ingin naik tingkat, kau harus menyelesaikan sebuah misi atau memenuhi target khusus yang diberikan seorang guru. Juga, orang yang kau jadikan guru, minimal sudah mencapai tingkat pendekar naga menengah.”
“Pertama ada Pendekar Tanah dan itu yang paling awal. Kemudian Pendekar Bumi, Pendekar Langit, Pendekar Kahyangan, dan terakhir, Pendekar Naga. Kelimanya memiliki tiga tahap: dasar, menengah, dan akhir. Masing-masing tahap memiliki syaratnya sendiri. Yang tersulit dari kelimanya adalah naik dari tingkat Pendekar Kahyangan Akhir ke tingkat Pendekar Naga Awal. Normalnya, butuh waktu belasan tahun agar mereka bisa mencapai tingkatan terakhir dari seluruh tingkatan pendekar.”
“Yang perlu ditekankan, tidak ada seorangpun yang memulai pengembaraannya di dunia persilatan sebelum dia menitih dari awal, Pendekar Tanah.”
Sadewa tiba-tiba menghentikan penjelasan Gatra. “Kenapa dinamai dengan tingkatan tanah, bumi, langit, kahyangan, dan naga? Pasti ada alasannya. Sebagai orang yang benar-benar hafal kitab ini, harusnya kau bisa menjelaskan padaku tanpa harus memikirkan jawabannya lebih dulu.”
“Sementara, akan kujawab pertanyaanmu, tapi tidak menyeluruh. Sisa jawabannya, kelak, kau akan mengetahuinya sendiri seiring berjalannya waktu. Pengembaraanmu masih panjang. Kau bisa mencari jawabannya kala mengembara nanti.”
Sadewa mengiyakan. Dia yang sebelumnya sableng dan sedikit semprul, berubah jadi pribadi yang serius dan memiliki rasa penasaran tinggi akan hal baru.
__ADS_1
Gatra menarik nafas dalam, lantas mengajak Sadewa duduk di tepian sungai. “Dinamakan tanah karena beradasar pada asal mula manusia itu diciptakan. Setelah melewati fase tanah, manusia akan hidup dan berpijak di bumi. Itulah alasan kenapa Pendekar Bumi menjadi tingkatan kedua.”
“Lalu, pendekar langit karena ketika kita mati, roh kita naik ke langit?” Sadewa menyerobot ucapan Gatra untuk kali kedua.
“Lebih tepatnya, langit adalah rumah kedua manusia setelah ajal menjemput. Posisi langit yang lebih tinggi dari bumi adalah alasan kenapa tingkat langit dijadikan tingkatan ketiga dalam rantai kekuatan pendekar.”
Usai diam sejenak, Gatra meneruskan. “Kenapa Kahyangan berada di atas tingkatan Langit? Jawabannya karena Kahyangan adalah tempat para Dewa singgah dan melakukan segala aktivitasnya. Letak Kahyangan sendiri ada di langit paling atas. Yang berarti, pendekar tingkat langit harus mendaki langit-langit lain agar bisa mencapai apa yang disebut sebagai Kahyangan.”
Perbincangan Sadewa dan Gatra mengingatkannya pada cerita yang sering dia dengar dulu dari ibunya waktu masih berumur lima tahun.
Tanah adalah tempat awal manusia terbentuk. Kata Ibu Patmi, semua manusia asalnya dari tanah dan kelak akan kembali ke tanah juga.
Oleh karena itu, tingkatan awal pendekar seringkali disebut dengan Pendekar Tanah untuk mengingatkan mereka kepada Sang Hyang Widi.
Sang Hyang Widi memberikan kekuatan agar setiap pendekar tidak terlampau sombong kala sudah berada di puncak.
Kalaupun ada satu sosok pendekar yang memulai belajarnya dari tingkatan ketiga, tingkat Pendekar Langit, bisa dipastikan orang itu memiliki bakat dan kecerdasan di atas rata-rata, tapi dia selalu bertingkah sombong nan angkuh.
Tahapan Tanah dan Bumi harus dilewati meski dia sudah jadi pendekar kuat dengan energi tak terbatas. Sadewa contohnya, dia punya energi paling kuat karena dia memiliki tiga kelebihan.
Pertama, Sadewa mewarisi berkah Dewa Pasha sekaligus pedangnya yang dianggap sebagai pedang terkuat di alam semesta.
Kedua, tubuh dan roh Sadewa sudah menyatu dengan roh Gatra yang digadang-gadang sebagai siluman paling kuat di alam semesta.
Ketiga, bakat alami Sadewa yang membuatnya jadi pendekar disegani, bahkan diperkirakan jadi sosok yang paling kuat di antara pendekar seumurannya di alam semesta.
__ADS_1
“Sekarang, waktunya belajar. Tingkatanmu masih pendekar Tanah walau kau sudah hafal banyak sekali dasar ilmu persilatan, termasuk ilmu berpedangmu yang sudah setara tingkat Pendekar Langit Akhir.”