
🧡🧡🧡
Berbisik lah~~~
meski lewat angin sepoi-sepoi pun tak mengapa,
aku hanya ingin mendengar sapa mu~~
karena aku di sini menunggu putik bunga rindu ku,
yang berserak lepas dari helai kelopak nya~~
dan terbang terbawa angin ke pangkuan mu~~
🧡🧡🧡
...Jessiva menghampiri Nindya yang sedang tertidur pulas di kamarnya. Jessiva tersenyum geli. "Dasar tukang tidur," Ledeknya pelan. Ia tak berniat mengganggu tidur Nindya. Dan memilih menghampiri kamarnya sendiri....
...Di dalam kamar, Jessiva menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia berpikir sambil memandang langit-langit kamarnya....
...*Sam menarik tangan Jessiva hingga terjatuh ke hadapannya yang masih terduduk. Wajah Sam dan Jessiva kini sangat dekat. Hingga hidung Jessiva menyentuh hidung mancung Sam. Jessiva merasakan debaran jantungnya yang semakin kencang. "Jika telah mengatakan sesuatu padaku, selesaikan dulu baru boleh pergi," Pinta Sam. Jessiva berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sam*....
...Jessiva mengusap wajahnya. "Aduh, kenapa aku harus memikirkan Sam, sih?" Keluh Jessiva. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil giok yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya. Entah mengapa, ia jadi teringat akan benda tersebut....
...Jessiva duduk di sudut tempat tidur sembari menatap pada giok yang sedang digenggamnya. "Ayah, Ayah di mana? Apa benar kata teman-teman dan bibi pengasuh, kalau ayah pergi meninggalkan ku?" Jessiva mulai meneteskan air mata. Ia mengusap air giok yang basah akibat tetesan air matanya. "Ayah, kau di mana? Aku ingin menceritakan banyak hal padamu,"...
Flashback on:
__ADS_1
...Jessiva kecil mengikuti langkah ayahnya yang tengah menggenggam tangan mungil nya menyusuri jalanan. "Ayah, kita mau ke mana?" Tanya Jessiva kecil. Ayah Jessiva kecil menggeleng. "Ikut ayah saja," Pintanya. Jessiva menurut dan memilih diam mengikuti ayahnya....
...Ayah terus menuntunnya berjalan sembari menenteng tas kecil berisi pakaian dan perlengkapan untuk Jessiva....
...****************...
...Jessiva kecil memandangi sebuah bangunan di depannya. Ia dan ayahnya telah sampai di sebuah tempat yang Jessiva sendiri pun tak tahu di mana. "Ayah, kita di mana?" Jessiva melontarkan pertanyaannya sekali lagi. Ayah tak menjawab....
...Selang beberapa menit, muncul seorang wanita berjalan menghampiri Jessiva kecil dan ayah. Ayah menyuruh Jessiva menunggunya, sedangkan ia memilih berbincang dengan wanita itu tak jauh dari tempat Jessiva kecil berdiri....
...Setelah cukup lama berbincang, ayah menghampiri Jessiva yang tengah memperhatikan seluruh tempat itu. Ia menarik punggung Jessiva dan memeluknya. ...
...Jessiva menatap ayahnya bingung. "Sayang, kamu ikut bibi itu dulu, ya. Dia mau memberimu sesuatu. Ayah akan pergi sebentar. Besok, ayah akan kembali ke sini menjemputmu, oke?" Terang sang ayah sembari menyentuh ke-dua pipinya lembut....
...Jessiva kecil terlihat ragu. "Nak, dengar kata ayah. Jangan melawan pada bibi itu yah," Ayahnya memberi nasihat. "Jadilah anak yang baik," Pinta ayah Jessiva sembari mengusap kepalanya. Jessiva mengangguk. Sang ayah mengecup kening dan pipinya kemudian memeluknya sekali lagi. Jessiva kecil membalas pelukan sang ayah dengan lembut. "Baiklah pergi sana!" Pinta ayah Jessiva. Ia mengusap kepala Jessiva kecil dengan lembut. Lalu meyerahkannya pada wanita yang sedari tadi menunggu dirinya dan Jessiva kecil berpamitan....
...Wanita itu menggenggam tangan Jessiva kecil dan menuntunnya masuk. Saat telah masuk ke dalam, Jessiva menengok ke belakang dan melihat ayahnya mengusap matanya yang berkaca-kaca....
...Ayah kemudian berdiri dan membalikkan tubuhnya menjauh dari tempat itu. Jessiva kecil yang melihat hal itu hendak berteriak, namun, urung ia lakukan, karena ia pikir, mungkin benar, ayahnya akan kembali untuk menjemputnya besok. Meskipun hatinya merasa ayahnya berbohong....
...****************...
...Selang beberapa hari, Jessiva kecil bingung, mengapa ayahnya belum juga kembali. Ia meminta ditemani oleh bibi pengasuh yang bernama Iselle untuk mengantarnya ke gerbang agar bisa menemui ayahnya. Namun, bibi Iselle tak mau dan memilih mengabaikan Jessiva kecil yang terus merengek....
...Karena lelah, Jessiva kecil menuju kamarnya, ia mengambil tas miliknya dan mengobrak-abrik tas itu. Jessiva kecil melihat sebuah kertas yang melayang jatuh dari tasnya. Ternyata kertas itu adalah sebuah surat dari ayahnya. Karena belum bisa membaca, Jessiva kecil meminta Ara dan teman-temannya yang lain membantunya membaca surat itu....
...Namun, bukannya membantu, Ara dan yang lain justru mengganti kata-katanya dengan perkataan yang menjelekkan Jessiva kecil....
...Jessiva kecil yang mengetahui kalau Ara berbohong, akhirnya mendesak bibi Iselle agar memberi tahu keberadaan ayahnya. Karena lelah mendengar desakan Jessiva kecil, bibi Iselle akhirnya memberi tahu kebenarannya. Bahwa ayahnya pergi meninggalkannya karena menikah dengan wanita lain....
...Jessiva kecil yang tak percaya akan hal itu, memilih berdiam diri di kamarnya selama tiga hari. Ia menghabiskan waktunya untuk menangis dan merenung. Bibi Arine datang dan menghiburnya. Ia juga memarahi dan menegur bibi Iselle atas perlakuan kasarnya pada Jessiva kecil. Tapi bibi Iselle tak peduli....
__ADS_1
...Bibi Arine hanya bisa meyakinkan Jessiva kecil bahwa ayahnya pasti akan datang menjemputnya tidak lama lagi. Semula, Jessiva kecil ragu, namun bibi Arine terus menghibur dan meyakinkannya....
...Akhirnya, Jessiva kecil kembali ceria dan yakin bahwa ayahnya pasti akan kembali menjemputnya besok atau mungkin beberapa hari lagi....
Flashback off:
...Jessiva menaruh giok itu di dadanya. Dan terisak pelan. "Ayah, kau dimana? Ku mohon kembalilah," Pinta Jessiva di sela-sela tangisnya....
...'Tok...tok...tok' Jessiva terkejut mendengar suara ketukan di pintu. Ia segera menghapus air matanya dan menaruh giok itu kembali di lemari. "Sebentar!" Pintanya dari dalam. Sebelum membuka pintu, Jessiva menarik nafas panjang dan membuka pintu kamarnya....
..."Nindya, kenapa?" Jessiva memandang ke arah Nindya yang sedang berdiri di depan kamarnya. Nindya menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin memastikan apakah kamu ada di dalam atau tidak," Jawab Nindya....
...Jessiva tersenyum tipis. "Ya sudah, silahkan lanjutkan istirahatmu. Aku akan kembali ke kamar dulu," Nindya mengundurkan diri, beranjak ke kamarnya yang bersampingan dengan kamar Jessiva....
...Jessiva menutup pintu kamarnya dan terduduk di sudut tempat tidur seraya menyandarkan kepalanya pada dinding kamarnya yang tersambung dengan kamar Nindya....
...Di kamar, Nindya memilih duduk di sudut ranjangnya dan merenung memikirkan keluarganya dan nasib Kerajaan saat ini. "Yanda, Bunda! Nindya kangen..." Ungkap Nindya pelan. Ia menghabiskan waktunya untuk memikirkan keadaan Istana, Aidah dan Tia, serta orang tuanya sembari menyandarkan kepalanya pada dinding kamar....
...Di balik dinding itu, ada Jessiva yang juga tengah menyandarkan kepalanya pada dinding sambil terus memikirkan ayahnya....
...Hari pun mereka habiskan untuk memikirkan keluarga mereka masing-masing....
(**Hari mewek sedunia😭**😭)
__ADS_1
❤❤❤