
🧡🧡🧡
Terkadang, ketika seseorang menghilang,
Seluruh dunia seperti terpuruk~~
🧡🧡🧡
3 tahun kemudian:
...Kini, Nindya bersama Aidah tinggal sendiri di sebuah rumah. Nindya menyewa penginapan kecil. Karena, ia tidak tahu lagi harus pergi ke mana. Nindya duduk termenung seorang diri. Ia memikirkan segalanya yang telah berlalu. Dan semua yang telah ia lakukan....
...Nindya bangkit dari tempat duduknya menuju meja. 'Tok...tok...tok' Aidah mengetuk pintu kamar. Ia membawa nampan yang terdapat cerek dan cangkir teh. "Silahkan diminum, Tuan Putri." Aidah mempersilahkan. "Jangan memanggilku Putri. Aku bukan Putri lagi." Larang Nindya....
...Nindya mengambil minuman itu. Ia mencium aroma yang sangat ia kenal. Nindya tahu campuran bahan di dalam teh tersebut. "Aidah, bisakah kamu tolong berikan ini pada Sam?" Nindya menyerahkan secarik kertas untuk Aidah. Aidah menerimanya. "Baik, Tuan Putri. Aku janji akan memberikan ini padanya." Janjinya....
...Nindya memutar otaknya. Ia mengingat segala kenangan tiga tahun belakangan ini....
Flashback on
...Nindya mengambil Sam dari Jessiva. Ia bahkan sempat memaksa Sam menikah dengannya. Ia dan Sam juga sempat kembali menjalin hubungan mesra. Namun, ternyata Sam tidak melakukannya dengan tulus. Di hatinya masih ada Jessiva seorang....
...Malam itu, Sam memutuskan kabur dari tempat tinggal Nindya. Ia berniat kembali pada Jessiva. Sam tahu, saat ini, Jessiva pasti sedang terisak dan bersedih menunggu dirinya pulang....
...Sam melompat lewat jendela. Kebetulan pada saat itu, Nindya sedang pergi ke suatu tempat. Ia tidak tahu, bahwa Nindya bersama Aidah sedang memperhatikan tindakannya itu di balik dinding luar. "Tuan Putri, apa aku harus mencegahnya pergi?" Tanya Aidah. Ia berniat menghampiri Sam. Namun, Nindya menahannya. "Tidak. Ini sudah tiga bulan. Aku telah memberinya kesempatan. Kalau selama tiga bulan ini dia tidak menyukaiku, maka ia berhak mengambil keputusannya sendiri." Ucap Nindya. Walaupun jauh di lubuk hatinya ia merasakan kecewa yang amat dalam....
..."Pergilah, Sam. Aku tidak akan menghalangi jalanmu lagi." Batinnya....
__ADS_1
Flashback off
...Nindya mengambil cerek dan menuangkan teh itu ke dalam cangkir. Nindya mulai meneguk teh itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Nindya menengok pada Aidah setelah menghabiskan secangkir teh itu. "Aidah, terimakasih." Ucapnya. "Terimakasih, karena telah membantuku pergi dengan tenang." Usai mengucapkan kalimat itu, Nindya ambruk....
...Dia menjatuhkan tangannya di meja. Aidah berlutut di depannya. "Tuan Putri, maafkan aku. Aku melakukan semua ini untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin melihat kamu semakin jahat. Makanya, aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya." Tutur Aidah. "Aku memang telah menaruh obat yang bisa membawa Putri pergi. Aku harap, Putri bisa pergi dengan tenang setelah ini." Lanjutnya....
..."Tidak apa-apa. Mungkin, dengan aku mati, aku bisa menebus dosaku pada orang-orang yang telah ku bunuh." Ucap Nindya....
..."Aku akan memberikan...
...tugas untukmu yang terakhir kali. Nanti, kuburkan aku di samping Bunda ku." Titah Nindya. Ia memuntahkan darah dari mulutnya....
..."Bunda, aku merindukanmu." Batin Nindya....
...Aidah memandangi Tuan Putrinya yang telah memejamkan mata. Ia membungkuk dan berlutut. "Terima ini sebagai bentuk penghormatan terakhirku. Terimakasih telah menjadi nona ku." Aidah berlutut formal pada Nindya. "Mungkin, setelah ini aku bisa menyusul mu mati, Tuan Putri." Sahutnya pelan....
...Sam menatap Aidah dengan malas. Ia pikir, pasti Nindya akan memaksanya untuk bersama lagi. Namun, kenyataannya, Aidah hanya memberikan sepucuk surat pada Sam tanpa berkata apa-apa. Aidah pergi meninggalkan Sam sendiri di tempat itu. Ia juga telah menguburkan jasad Nindya dengan baik....
...Sam membuka secarik kertas itu dengan heran. Ia membuka lembaran pertama....
Isi kertas:
...Pangeran yang pertama kali kutemui. Wajahnya benar-benar tampan. Andai bisa memilikinya....
Halaman 2:
Sam, Jess.
__ADS_1
...Terimakasih karena pernah menjadi teman baikku. Setelah semua yang pernah aku lakukan, aku memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Sebelum aku melakukan hall yang sangat jauh....
...Kalian, hiduplah dengan baik....
Flashback on: (Masih dalam surat)
...Nindya masuk ke ruangan gadis sandera bernama Risya itu. Nindya membuka pintu ruangan yang ia gunakan untuk mencambuk Risya. "Ke mana gadis itu?" Tanya Nindya. Aidah dan Tia terlihat bingung mendapati Risya yang sudah tidak ada di tempatnya. Nindya melihat seorang gadis tergeletak tak berdaya di pojok ruangan itu....
...Nindya membalikkan tubuh gadis itu. "Risya!" Ucapnya kaget. Ia memeriksa tubuh Risya. Ada bekas tusukan di lehernya. "Seseorang telah membunuhnya." Ujar Nindya....
Flashback 2:
...Nindya diam-diam menuju penjara tempat Kasim Selir Ren Ai ditahan. Ia memerintahkan Aidah untuk melepaskan Kasim itu dari penjara. Karena besok adalah hari kematiannya. Ya, besok ia akan dieksekusi....
..."Pergilah dari sini kalau kamu ingin selamat." Pinta Aidah. Kasim itu menatap bingung. Meski begitu, ia bersyukur karena nyawanya terselamatkan dan dia bisa kembali berkumpul dengan orang tuanya di rumah....
Isi surat end.
...Sam menimang-nimang kertas itu. Ia meneteskan air mata. Nyatanya, Nindya tidak pernah membunuh siapapun yang bersalah. Nindya, gadis ceria itu, hanya akan membunuh orang yang pantas dibunuh. Ia tidak pernah membunuh Risya. Juga tidak pernah mengorbankan Kasim itu....
Sam meremas kertas itu kuat-kuat.
..."Nindya, Jika kamu tidak pernah berubah, mungkin aku bisa mencintaimu."...
❤️❤️❤️
__ADS_1