
🧡🧡🧡
Bagiku, kau ibarat bulan~~
Terlihat dekat,
namun, kenyataannya jauh~~
Dan bagiku,
kau ibarat bintang~~
dapat diamati dengan mudah
namun, kenyataanya susah untuk digapai~~
🧡🧡🧡
..."Tuan Putri, apa langkah yang akan kita ambil selanjutnya?" Tanya Tia. Nindya menyeruput teh nya. Ia menaruh cangkir itu di atas meja....
..."Biar kita tunggu. Jangan terlalu terburu-buru agar tidak gegabah." Amanat Nindya. Ia mengeluarkan kembali surat milik Selir Ren Ai yang ia berikan untuk Tabib Kerajaan yang memeriksa dirinya....
__ADS_1
...Nindya tersenyum simpul. Ia mempunyai rencananya sendiri....
...****************...
...Jessiva duduk dengan anggun di sofa di Rumah Sam. Sam datang membawakannya segelas air putih dan menyodorkannya pada Jessiva. "Terimakasih." Ucap Jessiva menerima gelas dari tangan Sam....
..."Kamu ingin bicara apa?" Tanya Sam sambil memainkan rambut panjang Jessiva. Jessiva meletakkan gelas itu di meja. Ia menatap Sam serius. "Kemarin aku bertemu seorang pria jahat." Jessiva memulai ceritanya. Sam mengerutkan keningnya. "Maksud kamu?" Ia mulai menatap Jessiva serius....
..."Dia ingin membunuhku." Tutur Jessiva. Raut wajah Sam berubah menjadi khawatir. "Lalu? Apa dia melukaimu?" Tanya Sam. Jessiva menggeleng. "Tidak. Sebelum pria itu menyerang ku, ada seseorang yang menembakkan busur panah ke arahnya." Jelas Jessiva. "Maksudmu ada seseorang yang menyelamatkanmu?" Tebak Sam....
...Jessiva mengangguk. "Tapi, tidak jelas siapa. Aku tidak melihat orangnya." Lanjut Jessiva. Sam mengangguk mengerti....
..."Aku penasaran dengan orang yang menyelamatkanku." Jessiva menaruh telunjuk di dagunya. Sam tersenyum simpul. Membuat Jessiva terheran-heran melihatnya. "Kenapa?" Tanya Jessiva heran....
...Sam terus mengejarnya. Mereka menghabiskan sore itu dengan tertawa lepas. Melupakan bahaya yang hampir membunuh Jessiva....
...****************...
...Nindya berdiri mondar-mandir di kamar. Ia menunda penyelidikan malam ini. Ia berniat mengatur akalnya matang-matang. "Aku harus melakukan sesuatu." Gumamnya terus mengulangi kata-kata itu....
..."Selir Ren Ai tidak boleh dibiarkan begitu saja." Nindya duduk di kursi. Mencoba menenangkan pikirannya....
__ADS_1
...Nindya berjalan menuju taman Istana. Ia memetik beberapa bunga kesukaan Ibundanya. Nindya menghirup aroma bunga itu dalam-dalam. Ia membalikkan tubuhnya sedikit terkejut melihat Raja yang berdiri di hadapannya saat ini. Namun, ia bisa dengan cepat merubah ekspresinya kembali....
..."Ayahanda." Nindya memberi salam dengan membungkuk hormat. "Nindya! Sudah lama Yanda tidak mengobrol denganmu." Ujar Raja. "Maaf Yanda sangat sibuk akhir-akhir ini sehingga tidak bisa menemui mu." Ucap Raja sembari membelai rambut Nindya lembut....
...Nindya tak bergeming. Juga tidak merubah ekspresinya sama sekali. "Maukah kamu menemani Yanda berkeliling taman?" Ajak Raja. Nindya membungkuk. "Baik, Yanda. Silahkan!" Nindya mempersilakan Raja untuk berjalan di depannya....
...****************...
...Selir Greeta duduk bersimpuh. Ia meminum secangkir teh. "Apa kamu sudah mengantarkan surat itu padanya?" Tanya Selir Greeta pada pelayannya. "Sudah, Selir." Jawab pelayan tersebut....
..."Bagus. Lakukan langkah berikutnya." Pinta Selir Greeta. Ia tersenyum simpul. "Ingat. Hati-hati."...
...****************...
...Malam telah tiba....
...Jessiva dan Sam makan malam bersama di rumah Sam. Jessiva yang memasak. Ia mengambilkan sepotong ayam dan menaruhnya pada piring Sam....
..."Aku senang kamu suka masakan ku." Sahut Jessiva....
__ADS_1
*❤️❤️❤️*