Love And Revenge

Love And Revenge
Episode 39: Mencari tahu kabar


__ADS_3

🧡🧡🧡


I thought we have chemistry


🧡🧡🧡


...Keesokan paginya lagi, Sam terbangun di sofa ruang tengah. Ia menguap sejenak dan beranjak ke kamar Jessiva untuk melihat keadaannya. Sam termangu melihat Jessiva yang telah rapih. Selain itu, ia juga terpesona akan kecantikan makhluk di hadapannya ini....


...Jessiva tersenyum kikuk. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?" Jessiva salah tingkah. Sam menggeleng cepat. "Tidak apa-apa. Hanya saja, kamu sudah sembuh?" Sam memastikan. Jessiva mengangguk mantap. Ia mendekati Sam perlahan. "Kamu benar tidak bisa menemukan Nindya, ya?" Tanyanya. Raut wajahnya kembali sedih....


...Sam menggeleng. "Sampai sekarang, Nindya belum juga pulang. Padahal ini sudah lebih dari satu minggu." Aku Sam. Jessiva mengangguk sedih. Sam mendekatinya dan menepuk pundaknya. "Tenanglah. Ku pikir, mungkin ia telah pulang ke rumahnya. Tidak mungkin kan selamanya dia di sini." Duga Sam....


..."Tapi kenapa dia tidak pamit dulu kepada kita?" Keluh Jessiva. Sam memegang kedua pundak Jessiva. "Jess, kamu tenanglah! Aku yakin Nindya pasti punya alasannya sendiri." Nasihat Sam. Jessiva mengangguk mengerti. "Ya sudah, ayo kita sarapan!" Ajak Jessiva. Sam setuju. Mereka sarapan dengan makanan yang apa adanya dan masih diselimuti kekhawatiran akan Nindya yang menghilang tanpa berpamitan....


...****************...


...Nindya membuka mata perlahan. Ia sudah tertidur selama satu hari. Nindya memegangi kepalanya yang pusing. "Aidah!" Seru Nindya. Aidah masuk ke kamar dan segera menghampiri Nindya dengan cepat. "Baik, Tuan Putri, apa ada perintah?" Aidah membungkuk formal pada Nindya. "Tidak apa-apa. Hanya, bisakah membawakan ku minum?" Ucap Nindya. Aidah berjalan mengambilkan segelas minuman untuk Nindya dan langsung menyodorkannya. Nindya menerima dan meneguknya hingga habis....


..."Apa Tuan Putri ingin makan?" Tawar Aidah. Karena Nindya sudah tidak makan selama dua hari. Ia hanya minum jika haus. Nindya menggeleng. "Kamu boleh pergi." Pintanya. Aidah membungkuk dan hendak keluar dari kamar....


..."Tunggu!" Aidah menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap Nindya. "Apa ada yang bisa ku bantu Tuan Putri?" Tanyanya. Ia pikir, mungkin Nindya sudah ingin makan saat itu. "Kemari!" Nindya memerintahkannya mendekatkan kupingnya. Aidah menurut. Nindya membisikkan sebuah perintah untuk Aidah....


..."Kamu harus pastikan mereka baik-baik saja!" Titah Nindya. Aidah mengangguk. Nindya tersenyum tipis....


...****************...


...Sam menemani Jessiva membeli kebutuhan di Pasar. Pagi ini, seperti biasa, Pasar sangatlah ramai pengunjung. Hingga membuat Sam dan Jessiva harus bersabar mengantri....

__ADS_1


...Sepulang dari Pasar, Sam dan Jessiva melihat ke arah kerumunan banyak orang. Sam mengajak Jessiva untuk melihat apa yang sedang mereka kerumuni. Sam menerobos kerumunan orang-orang itu. Ia melihat kertas pengumuman informasi dari Yang Mulia Raja. Di situ tertuliskan bahwa, Putri Raja yang menghilang telah ditemukan....


...Satu lagi berita duka dari pengumuman di kertas itu bahwa, Yang Mulia Ratu mereka telah tiada. Sam dan Jessiva saling berpandangan. Mereka kemudian memutuskan untuk langsung pulang ke rumah....


...****************...


...Nindya berjalan di taman dengan ditemani Tia. Ia berkeliling seantero taman. Nindya melihat tak jauh dari situ, tampak Raja yang juga terlihat sedang berjalan ditemani beberapa pelayan. Nindya memutar tubuhnya secepat mungkin menjauh dari Raja. Saat ini, ia masih malas berbicara dengan siapapun....


...Raja melihat Nindya yang berjalan pergi. Ia membiarkan Nindya. Ia tahu, bahwa saat itu, suasana hati Nindya sedang tidak baik....


...****************...


...Tia mengikuti Nindya dari belakang. Ia merasa sedih melihat Nindya yang masih larut dalam kesedihannya. Nindya berjalan menuju kamarnya. Ia duduk sembari menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang seperti biasa. Ia memejamkan mata....


...'Tok...tok...tok' Suara ketukan dari pintu. "Masuk!" Pinta Nindya. Nindya membuka mata dan mendapati Aidah yang datang menghampirinya. Aidah membungkuk formal. "Mereka baik-baik saja, Tuan Putri." Lapor Aidah. "Kamu sudah memastikan dengan baik?" Nindya memastikan lagi. Aidah mengangguk....


...Nindya mengangguk. "Ya sudah. Keluarlah! Aku ingin beristirahat lagi." Pinta Nindya. Aidah membungkuk sekali lagi dan meninggalkan Nindya untuk beristirahat. Nindya tersenyum senang. "Mereka baik-baik saja." Ucapnya....


..."Apa mereka marah karena aku pergi tanpa pamit?" Duga Nindya....


...Ia senang karena Sam dan Jessiva baik-baik saja. Namun, di sisi lain, ia juga takut Sam dan Jessiva marah karena ia pergi tanpa pamit. Nindya memejamkan mata. Ia menggeleng-geleng kan kepalanya lelah....


"Seandainya Bunda ada di sini. Aku bisa menceritakan segala keluh kesah ku padanya." Batin Nindya dalam hati.


...Nindya meneguk segelas air dan menenangkan pikirannya....


...****************...

__ADS_1


...Raja memerintahkan seluruh pelayannya untuk keluar dan membiarkannya sendiri. Raja duduk sendirian di ruangannya. Ia menutupi wajahnya. Ia sudah tak kuat menahan kesedihannya. Rasanya, ia ingin menangis sekencang- kencangnya. Namun, nyatanya Raja baru bisa menangis dengan diam sekarang. Bagaimana tidak, Ratu yang ia cintai telah pergi meninggalkan nya. Dan sekarang, Putrinya pun seakan menghindari nya....


...Raja telah menahan kesedihannya sangat lama. Karena seorang Raja tidak boleh menangis di depan para pelayan atau siapapun itu. Ia harus kelihatan kuat. Oleh sebab itu, ia tak pernah sekalipun meneteskan air matanya di depan pelayan dan seluruh penghuni Kerajaan. Ia baru bisa menangis sekarang....


...Namun, inilah beban yang ditanggung para Raja. Tidak boleh terlihat lemah di depan Rakyatnya dan harus tetap tegar dan bijaksana apa pun yang terjadi. Hal itupun juga pernah disampaikan oleh Ratu kesayangannya itu. Ia ingat saat itu ia masih muda dan masih kekanak-kanakan....


Flashback on:


...Raja yang pada saat itu berstatus Putra Mahkota, menangis karena perintahnya tak diikuti oleh Ibu Suri (Ibu Raja) yang pada saat itu berstatus Permaisuri. Saat itu, ia masih berusia 17 tahun. Ia baru seminggu menikahi Ratu yang pada saat itu masih berstatus Putri Mahkota....


...Putri Mahkota datang menghampiri Putra Mahkota dan menghiburnya. Ia menggenggam tangan suaminya lembut. Putra Mahkota menatapnya sinis. Namun, Putri Mahkota tak peduli. Ia duduk di samping Putra Mahkota....


..."Aku hanya ingin berkata, jadilah seorang pemimpin yang kuat ke depannya. Karena kamu tidak boleh terlihat lemah di depan bawahan apalagi di depan para Rakyat mu. Mereka membutuhkan mu untuk menguatkan mereka. Oleh karena itu, jadilah pemimpin yang bijaksana dan berani. Maukah kau berjanji?" Nasihat Putri Mahkota. Ia mengacungkan jari kelingkingnya pada Putra Mahkota....


...Putra Mahkota menatapnya dan perlahan tersenyum. Ia meraih kelingking Putri Mahkota. Ia mengangguk berjanji. ...


...Putra Mahkota belum pernah berbincang langsung dengan istrinya itu. Ternyata, ia merasa nyaman saat berbincang dengannya....


...****************...


...Raja mengingat memorinya bersama Ratu saat ia masih muda. Betul, Ratu lah yang ada saat ia bersedih. Ratu juga yang menghibur dan menguatkan nya saat ia butuh sandaran. Maka dari itu, Ratu adalah wanita yang paling Raja sayangi....




*❤️❤️❤️*

__ADS_1


__ADS_2