
🧡🧡🧡
you're the gold from my dreams~~
🧡🧡🧡
...Sudah seminggu lamanya Nindya menetap di Istana. Selama itu pun, ia tak pernah lagi bertemu dengan Sam dan Jessiva. Hal itu membuat Nindya merasa tak enak karena meninggalkan mereka tanpa berpamitan....
...Nindya berjalan mengelilingi seantero Kerajaan. Ia merasa sudah sangat lama tidak berkeliling di tempat ini. Nindya melihat pintu gudang yang terbuka. Ia heran mengapa pintu itu bisa dibiarkan terbuka begitu saja....
...Nindya memerintahkan beberapa pelayan yang mengikutinya dari belakang untuk menunggu di luar. Sedangkan, ia memilih memasuki gudang. Entah, angin apa yang memaksanya untuk masuk. Ia terbatuk karena pintu gudang yang berdebu serta jaring di mana-mana. Nindya berniat keluar dari gudang itu, namun ia melihat sebuah bingkai foto besar yang terbalik. Nindya memberanikan diri mengambil bingkai foto itu....
..."Tuan Putri!" Nindya terkejut melihat pelayan yang berdiri di belakangnya. "Kamu membuatku terkejut," Nindya mengusap dadanya. "Maaf, Putri," Ucap pelayan itu. "Lupakan! Oh iya, apa ini?" Nindya menunjuk bingkai foto itu. Wajah pelayan itu memucat. "Tuan Putri, itu adalah sebuah bingkai foto," Lapor Pelayan itu. Nindya mengernyit. "Iya aku tau. Tapi foto siapa?" Tanya Nindya tak sabar. Wajah pelayan itu semakin memucat....
...Nindya kebingungan dibuatnya. "Apa sih? Ya sudah aku lihat sendiri saja," Nindya meraih bingkai itu. Pelayan itu dengan cepat mencegah Nindya. "Maaf Putri, Yang Mulia Raja berkata bahwa Putri tidak boleh melihat ke sini," Ujar pelayan tersebut. Nindya mengerutkan kening. "Maksudmu? Kenapa aku tidak boleh ke sini?" Tanya Nindya....
..."Tidak. Aku hanya ingin melihat bingkai itu," Nindya bersikeras. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia sangat penasaran dengan foto dibalik bingkai tersebut. "Maaf Putri," Ucap pelayan itu sembari menahan tubuh Nindya. Nindya mengusap wajahnya kasar. "Kamu tenang saja. Tidak ada Raja di sini," Bisik Nindya berusaha membujuk pelayan itu....
...Pelayan itu tak bergeming dari tempatnya. Hal itu, tentu membuat Nindya geram. "Aku janji tidak akan melaporkanmu pada Yang Mulia Raja," Janji Nindya. Pelayan itu tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri. Nindya semakin geram dibuatnya. Ia menggeser tubuh pelayan itu ke samping....
...Sebelum pelayan itu mencegahnya lagi, Nindya dengan cepat meraih bingkai tersebut. Pelayan itu berbalik dengan cepat. "Putri, jangan!" Pintanya. Namun, Nindya tak menghiraukannya. Ia membalik bingkai itu perlahan. Nindya terkejut melihat wajah seseorang yang di dalam bingkai itu....
..."Bunda," Ya, gambar di dalam bingkai itu adalah Bundanya sendiri. Nindya menelusuri tulisan di bawahnya....
Selamat jalan Yang Mulia Ratu kami. Nindya meneliti tulisannya.
...Nindya mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti maksud dari tulisan itu. Nindya menatap pelayan di depannya. Pelayan itu menunduk. "Apa ini maksudnya?" Nindya mengangkat bingkai foto itu tinggi-tinggi. Pelayan itu semakin menunduk. "Maaf, Putri. Yang Mulia Ratu sudah tidak ada. Yang Mulia Raja melarang kami untuk memberitahu Anda," Ungkap Pelayan itu....
__ADS_1
...Nindya menggeleng-geleng kan kepalanya. "Tidak mungkin. Tidak mungkin," Nindya frustasi. "Katakan padaku bahwa kamu hanya berbohong," Pinta Nindya sambil mengguncang-guncang tubuh pelayan itu. Pelayan itu meneteskan air mata. Tak sanggup melihat Nindya seperti ini. "Maaf, Tuan Putri. Seharusnya aku tidak memberitahumu," Sesalnya....
...Nindya merasakan kakinya yang melemas. Ia merasa kelopak matanya yang mulai berat. Nindya terjatuh dan semuanya menjadi gelap....
...****************...
...Nindya terbangun di ranjangnya. Ia merasakan tubuhnya yang berat. Nindya menyentuh kepalanya yang terasa pusing....
...Ia melihat ke seluruh penjuru kamar. Tak ada satupun orang di sana. Nindya berjalan lurus ke depan. Ia melihat sesosok wanita yang berdiri tersenyum di hadapannya. Nindya mengenali sosok itu. Ya, itu adalah Bundanya. Nindya berlari memeluk tubuh Bunda sambil menangis....
..."Bunda, Bunda ke mana? Nindya kangen..." Adu Nindya di dalam dekapan Bunda. Bunda mengusap pundaknya menenangkan. "Orang-orang bilang, Bunda sudah tiada. Tapi, Nindya tak percaya. Ternyata Bunda memang masih hidup," Nindya semakin mempererat pelukannya. Bunda melepaskan pelukan Nindya. Ia menatap Nindya sembari tersenyum....
..."Sayang, dengarkan Bunda!" Pinta Bunda. Nindya menatap Bunda dengan mata yang penuh buliran-buliran air mata....
..."Nindya, apa pun masalahmu ke depannya nanti, kamu harus kuat, ya. Jangan menyerah," Bunda memberikan nasihat. Ia membelai rambut Nindya dengan penuh kasih sayang....
..."Maaf Bunda hanya bisa menemanimu sampai di sini. Yang penting kamu harus janji tidak boleh sedih lagi, ok?" Lanjut Ibunda....
...Ibunda tersenyum senang. "Makasih ya, sayang, Bunda pergi dulu," Ujar Bunda akhirnya. Nindya menahan tubuh Ibunda. "Bunda, mau ke mana?" Tanya Nindya. Ibunda memberinya kecupan lembut. Ia berjalan lurus ke depan....
...Ia berhenti dan membalikkan tubuhnya sekali lagi. Nindya memandangi tubuh Ibunda yang mulai melebur. Nindya semakin mengencangkan tangisannya seiring leburan tubuh Ibunda....
...Ia berlari mengejar Ibunda. Namun, ia tak berhasil mendapatnya. Karena tubuh Ibunda telah menghilang....
...Nindya terisak-isak. "Bunda, jangan tinggalkan Nindya. Nindya mohon. Nindya janji akan jadi anak yang baik. Bunda, Nindya mohon jangan tinggalkan Nindya hu...hu...hu," Isak Nindya....
...****************...
__ADS_1
...Nindya terbangun di ranjangnya. Ia memandangi beberapa pelayan yang berdiri menjaganya. Nindya bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan ke arah pintu. Namun, para pelayan itu menghadangnya....
...Nindya menatap para pelayan itu dengan bingung. "Maaf, Tuan Putri. Yang Mulia Raja memerintahkan kami untuk tidak membiarkanmu keluar saat ini," Terang para pelayan itu....
...Nindya berniat menerobos para pelayan itu. Namun, ia merasa tubuhnya melemah dan matanya yang terasa berat karena mengantuk. Nindya menatap para pelayan itu dengan tajam. "Apa yang kalian lakukan padaku? Kalian memberikan obat apa padaku?" Nindya menatap marah pada mereka....
...Para pelayan itu berlutut dihadapan Nindya. "Maaf, Tuan Putri. Yang Mulia Raja memerintahkan kami agar menaruh obat tidur di minuman mu agar Putri tidak keluar dari kamar," Papar salah satu pelayan....
...Nindya memegangi kepalanya. Ia setengah mati menahan rasa kantuk yang kini menyerangnya. Ia berjuang melawan efek obat tidur yang diberikan para pelayan itu padanya....
...Nindya menatap pelayan itu dengan mata yang berat. "Kenapa? Kenapa kalian melakukan ini padaku?"...
..."Maaf, Tuan Putri. Hari ini adalah hari peringatan kematian Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Raja bilang, agar tidak mengizinkan mu keluar karena takut Tuan Putri akan sedih," Terang pelayan itu lagi....
...Nindya tak peduli. Ia sekuat tenaga menerobos para pelayan itu. Para pelayan itu terus mencegah Nindya. Nindya kewalahan karena jumlah pelayan yang sangat banyak. Ia mencengkram bahu salah satu pelayan di situ. "BIARKAN AKU KELUAR," Bentaknya. Para pelayan itu tak goyah. Mereka tetap berusaha menghalau Nindya agar tidak keluar dari kamarnya....
..."Kalau kalian membiarkanku keluar, aku akan melepaskan kalian," Ancam Nindya....
..."Berhenti!" Tia datang dan menatap tajam ke arah para pelayan itu. Ia melepaskan tangan mereka yang tengah menahan pundak Nindya. "Apa yang kalian lakukan pada Tuan Putri?" Ia menatap marah pada para pelayan itu....
..."Lepaskan Tuan Putri sekarang!" Pintanya. Para pelayan itu saling menatap ragu. "Kalian ingat, sebelum ini Tuan Putri tidak pernah menyusahkan kalian. Jadi, jangan menyusahkan dia sekarang," Ujar Tia. Ia meyakini para pelayan itu....
...Namun, para pelayan itu rupanya masih enggan membiarkan Nindya keluar. Nindya semakin geram. Ia berhasil menerobos para pelayan itu, saat mereka tengah berdebat dengan Tia....
...Tia tersenyum pada Nindya. Ia mencegah para pelayan itu agar tidak mengejar Nindya. Nindya segera berlari dengan lunglai ke aula. Ia sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak tumbang. Nindya hampir sampai di aula kerajaan. Ia mempercepat langkahnya. "Bunda, tunggu Nindya!"...
__ADS_1
*♥️♥️♥️*