
🧡🧡🧡
Jika boleh memilih,
Aku lebih memilih untuk tidak pernah mengenalmu~~
Daripada harus melupakanmu~~
🧡🧡🧡
...Sore hari, Nindya kembali ke diinterogasi. Ia harus berhadapan dengan Hakim Istana dan beberapa orang yang menonton dan menunggu keputusan Hakim....
..."Aku tidak menemukan bukti adanya pisau di ruangan Kasim manapun." Hakim memulai dakwahnya. Nindya maju selangkah. "Hakim, kau bisa memeriksa jubah yang mereka kenakan." Usul Nindya. "Karena, bisa jadi mereka menyembunyikannya di jubah mereka agar tidak ketahuan." Hakim tampak berpikir sejenak. Akhirnya ia menerima usulan Nindya....
...Ia memerintahkan seluruh Kasim untuk maju ke depan untuk diperiksa. Pengawal yang bertugas memeriksa, meneliti satu persatu Kasim Istana. Hingga ia juga memeriksa jubah Kasim dari kediaman Selir Ren Ai yang tadi ditemui Nindya. Ia menemukan sebuah pisau atau belati kecil dari saku jubahnya....
__ADS_1
...Pengawal itu menyerahkan pisau tersebut pada Hakim. Hakim memeriksa ukuran pisau itu dan benar saja, setelah dicocokkan lancip dari pisau sama persis dengan tusukan di dada Selir Ren Ai. Ia memerintahkan Kasim itu untuk maju. Nindya menyimpulkan senyum di bibirnya....
Flashback on:
..."Mm, maaf Tuan Putri aku tidak bermaksud menyalahkan mu." Ucapnya sembari berlutut. Nindya tersenyum lembut. "Tidak apa-apa. Jangan memanggilku Putri. Aku bukan lagi Tuan Putri saat di sini."...
...Nindya membantu Kasim itu berdiri. "Kamu mau aku menceritakan yang sebenarnya?"...
...Kasim itu mengangguk. "Baiklah." Nindya menggerakkan tangannya mengisyaratkan Kasim itu untuk mendekat. Ia membisikkan cerita palsunya. Nindya mengambil pisau yang ia pakai untuk membunuh malam itu dari saku bajunya dan memasukkannya ke saku jubah Kasim itu diam-diam....
Flashback off:
...Itu kan, pisau milikku." Nindya bersandiwara. Hakim dan Kasim melihat secara bersamaan. "Itu adalah pisau yang diberikan kakekku sewaktu aku kecil." Tutur Nindya. "Bagaimana bisa?" Hakim menatap heran. "Aku tau. Jangan-jangan Kasim itu adalah pria yang masuk ke kamarku diam-diam. Mungkin dia mengendap-endap untuk mengambil pisau ku. Karena seorang Kasim tidak mungkin punya pisau. Jadi, itu sebabnya dia mengambil pisau ku untuk membunuh Selir Agung." Terang Nindya....
...Kasim itu menatap Nindya heran. "Tuan Putri, aku tidak mungkin membunuh Selir Agung. Aku kan, Kasim nya." Bela Kasim. "Mungkin, kau punya dendam dengannya." Bantah Nindya. "Dendam apa?"...
__ADS_1
..."Semua orang di sini juga tahu, ini adalah kebenarannya. Maaf kalau aku tidak sopan. Karena Selir Ren Ai adalah Selir yang sedikit angkuh. Mungkin, dia pernah membuatmu tersinggung hingga kau marah dan dendam padanya." Nindya membuat tebakan sendiri....
...Kasim itu diam tak bisa berkata. Ia menatap Nindya dalam. 'Brak' Hakim memukul meja. "Kau berani membunuh Selir Agung dan yang lebih parahnya lagi, kau membuat Tuan Putri terkurung di penjara." Hakim menunjuk wajah Kasim gusar. Sementara, Nindya merasa puas mengetahui rencananya berhasil....
...Setelah diputuskan, Kasim itulah yang dipastikan bersalah. Kasim itu dituntun ke ruang tahanan dan akan dihukum mati besok fajar. Ia melirik ke arah Nindya saat melewatinya. "Nindya, aku tidak menyangka kau akan memfitnahku begini." Ucapnya. Ia bahkan tak memanggil dengan sebutan 'Putri' pada Nindya. "Maaf." Balas Nindya dengan sangat pelan. Ia menunduk tak menatap Kasim itu sedikitpun....
..."Hanya inilah caraku untuk bertahan hidup. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengambil jalan ini." Batin Nindya....
...Nindya diperbolehkan untuk keluar dari ruang tahanan. Ia kembali seperti biasa....
...Hari ini, Nindya memutuskan untuk berkeliling di sekitar Kerajaan. Ia kembali pada larut malam. Nindya berjalan sendiri menuju kediamannya. Ia memang sedang tak ingin ditemani oleh pelayannya. Ia tahu, bahwa selarut ini, ia tidak bisa seenaknya berkeliling sendiri....
...Nindya melewati Kediaman Selir Greeta. Ia melihat Selir yang baru saja kembali entah dari mana. Nindya terlihat penasaran. Ia mengikuti Selir Greeta. Nindya masuk diam-diam. Namun, karena gerbang itu dijaga oleh beberapa pengawal, Nindya memutuskan untuk melewati tembok belakang. Ia akan memanjati tembok itu menggunakan tangga. Entah rasa penasaran dari mana yang mendorongnya untuk mengikuti Selir Greeta....
❤️❤️❤️
__ADS_1