
🧡🧡🧡
Sebelum fajar merekah,
ku titip salam rindu bersama awan pagi yang menggelayut lirih di ujung daun,
dan semoga bias rinduku,
mendekap hangat hatiku~~
🧡🧡🧡
...Malam merangkak perlahan. Menggantikan senja sore. Nindya duduk termangu sambil menatap indahnya rembulan malam. Ia menopang ke-dua tangannya di dagu....
..."Bunda, semoga Bunda sehat selalu, ya. Jangan mengkhawatirkan Nindya. Nindya baik-baik saja kok di sini," Gumam Nindya. Mengirim kabar lewat rembulan. Seakan pesannya dapat didengar oleh Ibunda....
...Ia memejamkan mata perlahan. Dan menarik nafas panjang. "Yanda, maaf telah mengingkari janji," Ucap Nindya pelan....
...Nindya menutup jendela kamar yang terhubung ke luar. Ia merebahkan diri di ranjang. Tak butuh waktu lama untuk dirinya terlelap....
...*Nindya berjalan perlahan di taman bunga. Ia tersenyum meski sedikit heran. Tempat apa yang sedang dilalui nya. Ia terus menyusuri jalanan yang di kelilingi oleh berbagai macam bunga. Nindya dapat menghirup wangi dari bunga-bunga indah itu. Nindya berhenti dan memetik dua helai bunga berwarna kuning dan merah muda. Ia mencoba menghirup aroma bunga itu dalam dalam*....
..."*Nindya*!"...
...*Nindya mendengar seseorang memanggil namanya. Ia segera menghentikan aktifitasnya dan lanjut berjalan ke arah sumber suara. Nindya melihat seorang wanita berbaju putih tampak membelakanginya. Nindya heran sekaligus takut. "Siapa kamu?" Nindya memberanikan diri bertanya. Wanita itu berbalik menunjukkan dirinya pada Nindya*....
__ADS_1
..."*Bunda!" Seru Nindya. Nindya terkejut karena wanita yang ia lihat itu merupakan Bundanya sendiri. Bunda hanya tersenyum menatap Nindya. "Iya, sayang?" Ucap Bunda lembut. Nindya berlari dan memeluk Bundanya dengan riang. Entah kenapa ada perasaan nyaman ketika memeluk sang Bunda. Tiba-tiba, tubuh Nindya berubah menjadi kecil. Ya, tubuhnya sekarang menyerupai Nindya saat kecil. "Bunda kenapa di sini? bunda mau menjemput Nindya, ya?" Tanya Nindya memastikan*....
...*Bunda hanya membelai rambut Nindya dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Bunda, kenapa kita ada di sini? ini tempat apa Bunda? Nindya takut..." Nindya mengadu di dalam dekapan sang Ibunda*....
..."*Ini adalah alam bawah sadar, sayang. Semua yang kamu lihat ini tidak nyata," Terang Bunda. Nindya masih tak mengerti akan ucapan Bunda*....
...*Nindya memilih terdiam dalam pelukan hangat sang Bunda*....
...*Perlahan pelukan itu melonggar. Menciptakan udara bebas untuk mereka berdua*....
...*Nindya memandangi Bunda yang terlihat mulai melebur. "Bunda pergi dulu ya, sayang," Ucap Bunda. Ia mengecup kening Nindya dan membelai rambutnya sekali lagi*....
..."*Baiklah. Kalau begitu Bunda pergi dulu ya, sayang. Hati-hati dan jadilah anak yang baik. Akan ada waktunya Bunda akan menjemputmu ya, sayang," Pamit Bunda. Nindya mengangguk sembari meneteskan air mata*....
...*Bunda mencium kening Nindya sekali lagi dan memeluknya lama. Hingga tubuhnya melebur di dalam pelukan Nindya. Nindya menatap Bundanya dengan mata berkaca-kaca*....
__ADS_1
..."*Bunda!" Serunya. Nindya merasa ada yang menarik tubuhnya dan mementalkan tubuhnya kembali ke rumah Jessiva. Ia terjatuh tepat di atas ranjangnya dan*......
..."Nindya, Nindya bangun!" Jessiva menepuk-nepuk pipi sahabatnya itu. Nindya tersadar sembari mengusap matanya. Ia terkejut saat mengetahui matanya yang telah sembab seperti sehabis menangis....
...Nindya menatap Jessiva dan memeluknya erat. "Bunda! Nindya kangen..." Ucap Nindya. Jessiva terkejut melihat reaksi Nindya. Ia membelai rambut Nindya dan mencoba menenangkannya. "Tadi aku masuk ke kamar kamu karena mendengar suara teriakan yang ternyata berasal dari suaramu. Kamu terus berteriak dan menangis memanggil Bunda," Tutur Jessiva. Ia mengusap punggung Nindya lembut dan duduk di ranjang di samping Nindya....
..."Kamu kenapa? mimpi buruk, ya?" Tanya Jessiva prihatin. Nindya semakin mengencangkan isakannya. Jessiva terus berusaha meredakan tangisnya....
...Setelah dirasa cukup tenang, Nindya mengusap air mata yang mengering di pipi chubby nya. "Aku tidak mimpi buruk kok. Sebenarnya itu mimpi yang indah. Karena aku bisa melihat dan memeluk Bundaku dalam mimpi itu. Tapi, aku masih tidak tahu apa maksud dari mimpi itu," Tutur Nindya. Jessiva mendengarkan dengan seksama....
..."Kamu tahu? Aku dapat merasakan pelukan dan kecupannya dengan sangat jelas," Ungkap Nindya. Jessiva manggut-manggut mengerti. "Kamu benar. Sampai-sampai tadi aku melihat kamu benar-benar menangis," Ujar Jessiva. Nindya menundukkan kepala....
..."Begini saja. Coba kamu ceritakan mimpinya," Pinta Jessiva. Meski berat, Nindya tetap menceritakan kronologi mimpi anehnya itu....
...****************...
...Usai bercerita, Jessiva terus mengernyit. Ia menatap Nindya beberapa kali. "Sebenarnya, aku pun tidak mengerti tentang maksud dari mimpi itu," Akunya. Nindya terlihat kembali sedih. "Mm, mungkin apa kamu sedang merindukan Bunda mu?" Tanya Jessiva memastikan. Nindya mengangguk. "Iya. Aku sempat memikirkannya juga sebelum tidur," Aku Nindya. Jessiva tersenyum. "Oh, mungkin karena itu kamu memimpikan dia Nindya," Tebak Jessiva....
..."Iya juga sih. Mungkin," Nindya pasrah. "Ya sudah. Sekarang kamu tidur lagi. Ini masih dini hari," Pinta Jessiva. Nindya menggeleng. "Tidak, Jessiva. Aku tidak bisa tidur. Aku akan menunggu sampai pagi," Tolak Nindya....
..."Kamu yakin?" Jessiva memastikan. Nindya mengangguk pasti. "Baiklah. Aku akan menemanimu. Karena dari tadi, aku juga tidak bisa tidur hehe," Aku Jessiva. Nindya setuju....
...Mereka pun menghabiskan malam itu bersama di kamar Nindya sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing....
__ADS_1
*❤❤❤*