Love And Revenge

Love And Revenge
Episode 34: Pengorbanan


__ADS_3

🧡🧡🧡


Dalam rindu,


ku rajut do'a untukmu~~


Rindu yang selalu membungkus sudut ruang hati ini~~


Jangan pernah pertanyaan kenapa selalu ada rindu membara di hatiku~~


Karena kembara takkan pernah menyampaikan salam cinta yang kerap ku titipkan di setiap senja buatmu~~


🧡🧡🧡


...Nindya terbangun masih dalam posisi memeluk lutut. Ia membuka matanya yang membengkak akibat menangis semalaman....


...Nindya meregangkan ototnya yang terasa nyeri. Ia mendongakkan kepala ke sekitar danau. Menelusuri setiap tempat di situ. "Sam mana? Dia bilang ingin menjemput ku semalam," Gumam Nindya. Ia berjalan ke arah pohon dan duduk di bawahnya....


..."Apa Sam mengingkari janjinya, ya?" Nindya merenung. Ia menyandarkan kepalanya pada pohon itu. Nindya mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekatinya. Nindya menjauhkan kepalanya dari pohon, waspada. Matanya menelusuri setiap sudut tempat itu. "Apa jangan-jangan itu Sam?" Duga Nindya dengan mata yang berbinar senang....


...Nindya mendengar suara-suara yang berbisik di dekatnya. "SIAPA ITU?" Teriak Nindya, lantang. Ia berdiri dan menjauh dari pohon itu. Tapi kemudian, ada yang menarik tubuhnya dan membekap mulutnya. "Hmph, hmph." Nindya memberontak sekuat tenaga dalam bekapan orang itu. Namun, orang asing itu justru melemparkan sebuah pukulan yang keras hingga membuat Nindya jatuh tak sadarkan diri....


...Setelah memastikan Nindya pingsan, orang asing itu menyeret tubuh Nindya ke balik pohon dan menunggunya hingga tersadar....


...****************...


...Sam duduk di sudut tempat tidur Jessiva. Ia menjaga Jessiva yang mendadak sakit semalaman....


Flashback on:


...Sam ingat bahwa ia harus menjemput Nindya kembali. Sam mengambil topi yang biasa ia pakai. Ia menuju Danau Hijau lagi untuk menjemput Nindya. Tapi sebelum itu, Sam membaringkan Jessiva yang tampak terlelap di tempat tidur....


...Ia menyelimuti tubuh Jessiva dan segera beranjak ke Danau Hijau....


...Namun, sebelum melangkah, Sam mendengar suara yang keras dari kamar Jessiva. Ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya. Ia membuka pintu kamar Jessiva dan menerobos masuk....


...Sam melihat Jessiva yang terjatuh dari tempat tidurnya. "Jess, kamu tidak apa-apa?" Tanya Sam sembari mengangkat tubuh Jessiva dan mendaratkan nya di tempat tidur. "Jess, ada apa denganmu?" Tanya Sam dengan raut wajah khawatir....


...Jessiva menggeleng dan mencoba tersenyum. "Tidak apa-apa. Oh iya, kamu harus menjemput Nindya. Aku takut dia telah menunggumu," Pinta Jessiva. "Kamu yakin tidak apa-apa kalau aku tinggal?" Sam memastikan....


...Jessiva menggeleng tidak apa-apa. Ia mencoba tersenyum, namun, Jessiva tiba-tiba terbatuk-batuk kencang. Sam mengusap punggung Jessiva. "Sam!" Seru Jessiva lemah. Sam melihat ujung bibir Jessiva yang mengeluarkan darah. "Jess, kamu kenapa?" Sam mulai khawatir. Ia menatap wajha Jessiva yang memucat....


..."Aku tidak yakin bisa meninggalkanmu sendiri. Biar ku temani, yah," Tawar Sam. Jessiva menggeleng sambil masih ter batuk-batuk. "T...tidak. Kamu harus...s pergi ke Danau hij...jau," Tolak Jessiva terbata-bata....

__ADS_1


...Sam menggeleng. Rupanya ia tetap memilih menjaga Jessiva. "Tidak. Aku akan menjagamu. Lagi pula, aku yakin, Nindya pasti bisa pulang sendiri tanpa harus ku jemput," Tolak Sam. Jessiva terlihat semakin lemah. Ia tidak kuat lagi. Kepala Jessiva terjatuh tepat di pundak Sam....


...Sam membelai rambut Jessiva yang sudah tak sadarkan diri di dalam dekapannya. Sam menaruh Jessiva dan mendaratkan kepalanya perlahan di tempat tidur. Ia membungkus tubuh Jessiva dengan selimut....


...Ia membelai rambut Jessiva lagi. "Tenang saja. Aku akan menjagamu," Gumamnya....


Flashback off:


...Sam memandangi Jessiva yang masih tertidur lelap. Ia membelai rambut Jessiva dan memainkannya. Tapi kemudian, Sam ingat akan sesuatu....


..."Nindya," Sahutnya. Sam mengambil topi yang biasa ia pakai dan ingin segera beranjak menuju Danau Hijau....


...Sam berjalan dengan cepat....


...****************...


...Sam berhenti di depan pohon besar tempat ia dan Nindya bertemu kemarin. Sam menelusuri pepohonan dan setiap sudut. Namun, ia tak juga menemukan Nindya....


..."Nindya! Nindya!" Seru Sam. Ia memanggil-manggil nama Nindya, berharap mendengar sahutan dari Nindya. Sam menundukkan kepalanya. Ia mulai putus asa. Ia memilih duduk di bawah pohon besar itu sambil menunggu kedatangan Nindya....



...Dari kejauhan, Nindya melihat Sam yang tengah duduk di bawah pohon sembari menunggu kemunculannya. Nindya berusaha untuk berteriak sekuat tenaga. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa. Karena tubuhnya ditahan dan disekap oleh ke-empat pria jahat yang pernah menyiksanya beberapa waktu lalu. Salah satu dari pria tersebut membekap mulut Nindya. Membuat ia tak bisa berteriak meminta tolong....




...Para bandit itu marah dan memukuli Nindya berkali-kali. Namun, Nindya dengan sisa tenaganya, tetap menahan mereka agar tidak menangkap Sam....



...Darah mulai merembes keluar dari kepala Nindya. Nindya justru mengencangkan cengkraman pada ke-empat bandit tersebut. Sesekali Nindya memukul kaki bandit itu agar tak berjalan mendekati Sam....



...Nindya mulai meneteskan air mata dalam bekapan salah satu bandit tersebut. Ia menangis sambil terus menghalau para bandit itu....



...Di sisi lain, Sam yang mulai kewalahan menanti Nindya, mulai beranjak berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu....


__ADS_1


...Para bandit yang melihat hal itu, tentu saja semakin memberontak ingin menangkap Sam. Di sisi lain, Nindya yang mulai kewalahan menahan para bandit, dengan gembira tersenyum. Ia memandangi kepergian Sam. Meskipun sedih, Nindya merasa bahagia karena bisa melindungi Sam....



"*Pergilah Sam! Jagalah Jessiva. Semoga kalian bisa berteman dengan baik tanpa adanya kehadiran ku di antara kalian. Maafkan aku, yang tidak bisa lagi menemani kalian. Aku harap, ini bukanlah pertemuan terakhir kita.


Sam, aku senang bisa melindungi mu. Satu hal yang harus kamu tahu! Aku mencintaimu Sam. Aku mencintaimu*..." Batin Nindya.



...Para bandit itu menatap marah pada Nindya. Namun, Nindya tak peduli. Ia tetap menyunggingkan senyumnya....


...Nindya menatap pada seorang gadis seumurannya yang juga merupakan salah satu dari bandit tersebut. Nindya baru melihatnya pertama kali. Karena saat para bandit itu menyergapnya beberapa waktu lalu, ia sama sekali tak melihat gadis itu....



..."Nona, kita tak pernah punya dendam sebelumnya. Kenapa kamu menyiksaku seperti ini?" Nindya berkata dengan lemah. Gadis itu membungkuk. Ia membisikkan sesuatu pada Nindya....



..."Sebenarnya, aku adalah sandera mereka sebelumnya. Mereka menemukan ku dan menyiksaku berhari-hari. Mereka juga memaksaku mencari mangsa untuk disiksa dan dirampok. Karena aku takut disiksa, jadi aku menuruti saja kemauan mereka," Terang gadis itu....



..."Kamu tahu, kenapa mereka menyiksamu? Itu karena kamu tak punya uang untuk dirampok." Jelas gadis itu memberitahu alasan yang sebenarnya Nindya tahu....



...Nindya tersenyum sinis. "Nona, kamu tau, apa yang kamu lakukan itu salah," Timpal Nindya. "Aku tahu. Tapi aku tak peduli. Karena aku tidak mau lagi disiksa setiap hari," Bantah gadis itu....



...Ke-empat bandit itu menghentikan perbincangan yang tak dapat mereka dengar dari Nindya dan gadis itu. Mereka melayangkan tamparan dan pukulan pada Nindya....


...Gadis itu mengambil uang dan kalung dari saku Nindya. "Hari ini tumben kamu membawa uang." Sahut gadis itu sinis. Bandit itu merampas kalung dan uang Nindya dari tangan gadis itu....



...Nindya berniat merebut kalungnya, namun, salah satu bandit itu, menendang wajahnya dengan sangat keras. Membuat Nindya tak kuasa menahan rasa sakitnya....



...Nindya jatuh tak sadarkan diri. Matanya melebur memandangi gadis dan ke-empat bandit tersebut....

__ADS_1



❤❤❤


__ADS_2