
🧡🧡🧡
Haruskah ku akui?
bahwa aku tak bisa jauh darimu walau hanya sedetik~~
🧡🧡🧡
...Nindya terbangun dengan pancaran wajah yang berbeda dari biasanya. Ia tak semangat menghadapi hari ini. Nindya berjalan ditemani Tia dan Aidah di belakangnya. Mereka tak berani mengatakan sepatah kata pun pada Nindya yang saat ini suasana hatinya sedang memburuk....
...Nindya berjalan menghampiri sebuah vas bunga. Tia dan Aidah mengikuti. Nindya memetik bunga tersebut dan menciumi aromanya....
..."Kalian tau, bunga apa ini?" Nindya menyodorkan bunga tersebut di depan Aidah dan Tia. Aidah dan Tia terdiam sejenak. Mereka menggeleng tak tahu. Nindya tersenyum miring. "Tentu saja kalian tidak tau. Bunga ini adalah bunga kesukaan Bunda." Terangnya. Tia dan Aidah bingung harus menjawab apa....
..."Sewaktu aku masih kecil, Bunda sering memetik bunga ini." Tutur Nindya....
Flashback on:
...Nindya kecil berlari menghampiri Ibunda. Seperti biasa, ia selalu membawa camilan buah atau kue. Kali ini, ia membawa dua buah jeruk di tangan mungilnya. Nindya kecil menyodorkan jeruk itu pada Ibunda. Memintanya mengupasnya....
...Nindya kecil melihat Ibunda memetik beberapa bunga di situ. "Bunda, itu bunga apa?" Tanya Nindya. Ibunda tersenyum. Ia menempelkan bunga itu tepat di batang hidung Nindya. Nindya kecil menghirup aroma bunga tersebut....
..."Ini adalah bunga favorit Bunda, sayang." Ujar Ibunda sembari membelai lembut rambut Nindya kecil....
...Nindya kecil mengangguk mengerti. "Nama bunga ini adalah Anyelir." Terang Ibunda. "Bunganya harum seperti cengkeh." Lanjut Ibunda. Nindya kecil memandangi Ibunda dengan polos. "Mari, bantu Bunda memetik bunga ini." Pinta Bunda. Nindya kecil mengangguk. Ia membantu Ibunda memetik bunga favoritnya sore itu....
__ADS_1
Bunga Anyelir
Tanaman hias dengan nama ilmiah Dianthus caryophyllus memiliki bunga bercorak menarik dengan aroma yang harum. Aromanya mirip dengan cengkeh. Selain itu, bunga ini juga bisa diolah menjadi salad, selai, atau sirup seperti mahkota mawar.
Flashback off
...Nindya tersenyum miring. Sekali lagi, ia mengingat memori-memori tentang dirinya bersama Ibunda. "Itu adalah kenangan aku bersama Bunda. Hal seperti itu, bagaimana kalian bisa tau?" Tanpa sadar, ia menaikkan volume suaranya....
...Tia dan Aidah membungkuk. Mereka terkejut menghadapi kemarahan Nindya. "Tuan Putri, maafkan kami." Ucap Tia dan Aidah....
...Nindya memejamkan mata sejenak. Mencoba menenangkan emosi yang tak ada sebabnya saat ini. "Baiklah. Ayo kembali! aku lelah dan ingin beristirahat." Pinta Nindya. Tia dan Aidah berdiri mengantarkan Nindya kembali ke kamar....
...****************...
...Nindya duduk mengangkat kakinya. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia bersandar pada tepi ranjangnya....
...****************...
...Sam duduk menemani Jessiva yang sudah seminggu tak sadarkan diri. Ia mengkhawatirkan Jessiva saat ini. Namun, di sisi lain, ia juga memikirkan Nindya....
"Nindya, di mana kamu?" Batin Sam.
...Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. "Apa serumit ini ya yang namanya pertemanan?" Gumamnya sendiri. Sam berjalan hendak mengambil segelas minuman di dapur. Namun, ia melihat Jessiva yang menggeliat di ranjangnya....
__ADS_1
...Sam menyentuh tangan Jessiva. "Jess, kamu sudah sadar?" Sam menatapnya yang telah membuka mata perlahan. Jessiva mengangkat tangannya. "NINDYA!"...
..."Nindya mana?" Tanya Jessiva lemah. Sam menggeleng. "Aku ambilkan air, ya." Tawarnya dan tanpa basa-basi langsung melesat ke dapur dan kembali dengan membawa segelas air putih....
...Sam membantu Jessiva duduk. Jessiva menerima air putih itu dan meneguknya hingga tersisa separuh. Jessiva menatap Sam dengan wajah yang masih pucat. "Nindya mana, Sam?" Tanyanya tak sabar. "Jangan bilang kamu pulang tak bersamanya." Sambar Jessiva. Sam menunduk. Ia bingung antara memberitahukan pada Jessiva atau tidak....
..."Sam, jujurlah di mana Nindya sebenarnya?" Tanya Jessiva seakan menebak pikiran Sam. Sam menceritakan pencariannya satu minggu yang lalu....
...~~~...
...Jessiva menatap tak percaya. Ia menahan tangisnya. "Nindya ke mana memangnya? Kamu benar sudah mencarinya ke mana-mana?" Jessiva masih tak percaya. Sam mengangguk. "Jangan-jangan, Nindya disergap oleh orang jahat itu lagi." Duga Jessiva. Sam tak menjawab. Karena pada awalnya, ia juga berpikiran seperti itu....
...Sam mencoba menenangkan Jessiva. "Sudahlah. Jangan menangis." Ucapnya. Jessiva semakin tak kuasa menahan tangisnya. Hingga, buliran-buliran air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh bertumpah-ruah di ujung matanya. Sam menghapus air matanya....
..."Oh iya, tadi saat aku pergi mencari makanan, aku melihat sebuah kertas pengumuman yang sudah dipasang sebulan yang lalu." Tutur Sam sengaja mengalihkan pembicaraan. Jessiva menghapus air matanya lagi. "Pengumuman apa?" Tanya Jessiva penasaran. Sam menyelipkan rambut Jessiva yang jatuh menutupi pipinya....
..."Di pengumuman itu tertulis bahwa Putri Raja Kesultanan Timur hilang." Paparnya. Jessiva memutar bola matanya. "Kenapa kamu tiba-tiba memberikan informasi tak penting seperti ini? Tidak nyambung." Kesalnya. Sam tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menghiburmu supaya kamu tidak menangis lagi." Terang Sam tulus....
...Jessiva menatap Sam lekat. Ia mengangguk mengerti. "Terimakasih karena sudah mau menghiburku." Ucapnya. Sam kembali tersenyum. "Baiklah. Silahkan istirahat sekarang. Aku tidak akan mengganggumu." Pinta Sam sembari menyelimuti tubuh Jessiva. Jessiva diam menurut. Ia melemparkan senyum tanda terimakasih pada Sam....
...Sam keluar dari kamar Jessiva dan mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga habis. Ia menaruh gelas itu di atas meja sampai meja itu bertabrakan dengan gelas yang ditaruhnya....
"Nindya, kamu di mana?"
__ADS_1
*❤️❤️❤️*