Love And Revenge

Love And Revenge
Episode 43: Kenyataan sebenarnya


__ADS_3

🧡🧡🧡


Jangan salahkan hatiku~~


Salahkan lah hatimu yang belum juga terbuka untukku~~


🧡🧡🧡


...Keesokan paginya, Nindya terbangun dan keluar dari kamarnya. Ia memanggil Aidah dan Tia untuk menyampaikan perintahnya....


..."Tia, Aidah! Siapkan satu orang yang pandai memanah. Dan bawalah beberapa busur panah untukku!" Nindya memberi titah....


...Ia bersama Aidah dan Tia berjalan menyusuri rumah Jessiva. Pagi ini, Nindya berniat mengunjunginya. Namun, sebelum menuju rumah Jessiva, Nindya telah melihatnya berjalan seorang diri dari kejauhan....


...Nindya memerintahkan seorang pria yang diutusnya untuk membidik Jessiva diam-diam. Sedangkan, Nindya hanya akan menyaksikan....


...Nindya memperhatikan Jessiva dan pria itu dari seberang. Ia bersembunyi di semak-semak. Merasa tak sabar karena gerakan si pria yang lamban, Nindya menyambar busur panah dari tangan Tia. Ia bersiap membidik Jessiva....


...Jessiva terkejut melihat seorang pria dari balik semak belukar tengah mengarahkan panah ke arahnya. Jessiva mencoba berteriak meminta tolong. Namun, pastinya tak ada yang mendengarnya....


...Sedangkan Nindya, ia telah menarik busur panahnya, bersiap melayangkan anak panah ke arah Jessiva. Ia melihat pria itu yang juga sudah menarik busur panahnya....

__ADS_1


...Nindya melepaskan panahnya mengenai pria tersebut. Rupanya, ia masih merasa tak tega membunuh Jessiva. "Ayo pergi!" Ajak Nindya pada Aidah dan Tia yang terlihat kebingungan lantaran Nindya yang melayangkan anak panah pada pria suruhannya, melainkan Jessiva. Namun, mereka tetap mengikuti langkah Tuan Putri mereka....


...Jessiva terkejut. Ia bingung, siapa yang telah menyelamatkannya. Ia celingak-celinguk mencari sosok seseorang yang mungkin telah menyelamatkannya. Namun, Jessiva tidak menemukan siapa-siapa di sana. Ia segera mengambil kantong belanjaannya dan segera meninggalkan tempat itu menuju rumah Sam....


...****************...


...Nindya memejamkan mata berat. Ia duduk berpangku tangan di meja sekitaran taman....


"Kenapa seperti ini?" Batinnya.


...Ia benar-benar merasa tersiksa sekarang. "Tuan Putri, Selir Greeta meminta bertemu." Lapor Tia. Nindya membuka mata. "Suruh dia masuk!" Pintanya....


...Selir Greeta masuk dengan membawa Putri kecilnya. Ia tersenyum manis seperti biasa. Nindya menghampiri Selir Greeta dan mengajaknya duduk bersama. "Bibi, apa ini Putrimu?" Tanya Nindya sopan. Ia membelai rambut Putri dari Selir Greeta. "Iya. Dia adalah Putriku. Usianya baru dua minggu." Jawab Selir Greeta....


...Nindya mengangguk. "Siapa namanya?" Tanya Nindya lagi. Selir Greeta tersenyum manis. "Namanya Aline Adita." Ucapnya. "Nama yang indah." Puji Nindya....


...Nindya bersikap sangat sopan kepada Selir Greeta. Karena ia tahu, Selir Greeta adalah satu-satunya Selir yang baik kepadanya dan Ibundanya....


..."Nindya, Bibi ke sini karena ada yang ingin Bibi bicarakan." Selir Greeta memulai perbincangannya. Nindya menatapnya serius. "Silahkan, Bi."...


..."Sebenarnya, Bibi berat mengatakan ini kepadamu. Tapi, sepertinya Bibi harus mengatakannya." Papar Selir Greeta. "Katakan saja, Bi. Nindya akan mendengarnya." Pinta Nindya. "Jadi, saat kamu sedang keluar Istana, Ibunda mu juga masih ada..." Selir Greeta menggantung ucapannya sejenak. "Lalu, Bi?" Nindya tak sabar....

__ADS_1


..."Bibi melihat Selir Ren Ai diam-diam menuju kediaman Yang Mulia Ratu di malam hari." Tutur Selir Greeta. Nindya mengerutkan keningnya. "Lalu?" Tanyanya. "Bibi curiga penyebab kematian Yang Mulia Ratu." Lanjutnya. "Maksud bibi?" Nindya menatap tak mengerti. "Bibi tidak tau harus memberitahumu atau tidak." Selir Greeta bertele-tele. Nindya semakin serius menatapnya....


..."Kenapa, Bi?" Nindya penasaran. Selir Greeta terlihat ragu. "Sebenarnya, Yang Mulia Ratu meninggal dengan bekas tusukan di bagian lehernya." Tuturnya. Nindya menggebrak meja. "KURANG AJAR!" Ia naik pitam....


..."Putri, tenang. Duduklah!" Selir Greeta menenangkan Nindya. "Apa Yanda ku tidak menyelidiki kasus ini?" Tanya Nindya berusaha mengontrol emosinya." Selir Greeta menggeleng pelan. Ia menatap mata Nindya. "Apa yang akan Putri lakukan untuk masalah ini?" Ia melontarkan pertanyaan beratnya. Nindya memijat kepalanya. "Kalau memang kenyataannya begitu, maka aku harus menyelidiki masalah ini diam-diam." Tegasnya. Selir Greeta mengernyit. "Putri tidak akan membunuh Selir Ren Ai, kan?" Tanyanya....


...Nindya terlihat bingung. "Meskipun sikapnya selama ini menunjukkan sikap menantang pada Bunda, tapi aku tetap harus menyelidikinya baik-baik. Jangan sampai salah langkah. Atau tidak, aku sendiri yang akan kena imbasnya." Bahas Nindya. Selir Greeta mengangguk dan tersenyum....


❤️❤️❤️




HAPPY READING SEMUA 😘😘



Tinggalkan jejak kalo kalian suka


__ADS_1


Bye~~


__ADS_2