
🧡🧡🧡
Jika kamu tak sanggup membalas cintaku,
Setidaknya, pandanglah aku yang setia menunggumu~~
🧡🧡🧡
...Nindya menatap Ayahanda yang kini tengah berdiri memunggungi. Perasaannya tak enak. Ia memiliki firasat buruk. Apalagi melihat Raja yang entah sejak kapan menunggunya di depan kediaman miliknya....
...Nindya membungkuk hormat pada Raja. "Putri, kamu dari mana?" Tanya Raja dengan raut wajah yang tak seperti biasanya. "Aku mencari angin di luar, Yanda." Jawab Nindya sedikit kikuk. Raja tersenyum singkat. "Keluarga Kerajaan sedang berduka atas kematian Selir Agung kita. Kenapa kamu malah pergi ke luar?" Nindya berusaha tetap tenang. Ia menjawab sebisa mungkin. "Apa yang kamu lakukan semalam?" Tanya Raja lagi....
..."Bawa ke sini!" Pinta Raja pada pengawal. Pengawal itu memberikan sesuatu pada Raja. "Lihat ini." Raja menyodorkan bekas-bekas bubuk ramuan yang kemarin Nindya gunakan untuk melumpuhkan para pelayan penjaga kediaman Selir Ren Ai....
__ADS_1
..."Putri, Yanda tahu, kalau bubuk ramuan ini adalah ramuan yang diberikan mendiang kakek kepadamu." Raja memulai interogasi nya. Nindya tak bergeming. Ia bingung harus menjawab apa....
..."Kenapa barang itu bisa ada pada Yanda?" Tanya Nindya pura-pura tidak tahu. "Seharusnya Yanda yang bertanya, kenapa bubuk ini bisa ditemukan di depan kediaman Selir Ren Ai?" Raja membalikkan pertanyaan. "Selain itu, ada saksi pelayan yang mengatakan bahwa kamu keluar dari kamar tepat di malam kematian Selir Agung. Untuk apa kamu keluar di jam tidur?" Tanya Raja menatap Nindya tajam. "Yanda tidak percaya padaku?" Nindya menatap dengan wajah memelas....
..."Yanda percaya padamu. Tapi, buktinya sudah jelas. Dan Putri tidak punya pembelaan sama sekali." Lanjut Raja. Ia melangkah mendekati Nindya. "Yanda hanya ingin tahu, apa alasanmu melakukannya?" Tanya Raja dengan setengah berbisik. "Jadi, Yanda percaya Nindya yang melakukannya?" Nindya mengangkat kepalanya menatap Raja. "Baiklah. Kalau Yanda percaya, Nindya tidak punya pembelaan." Ucap Nindya....
..."Baik. Karena itu pilihan Putri dan kau tidak ada pembelaan. Pengawal, kurung Tuan Putri ke ruang bawah tanah. Jangan biarkan dia keluar tanpa seizin ku." Titah Raja. Dua pengawal bergerak memegang kedua tangan Nindya dan menuntunnya menuju penjara. Nindya memejamkan mata pasrah. Raja mendekat perlahan....
(Note: Ruang bawah tanah adalah Penjara Kerajaan)
...🏵️🏵️🏵️...
...Nindya tidak pernah menyesali keputusannya. Kali ini, ia harus merelakan tubuhnya berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari di dalam ruang tahanan. Nindya pikir, Raja akan sangat bersedih telah kehilangan Selir nya. Namun, kenyataannya darah lebih kental daripada air. Raja lebih mementingkan Putri satu-satunya dari wanita yang amat ia cintai....
__ADS_1
...Ups, bukan satu-satunya. Jangan lupa dengan putri Selir Greeta yang baru lahir....
...Di dalam penjara, Nindya duduk memeluk lutut. Ia harus terbiasa selama berhari-hari tinggal di ruangan yang menurutnya tak nyaman itu. Nindya mengangkat kepala. Ia melihat seorang pengawal penjaga sel, datang bersama kedua pelayan pribadinya, Aidah dan Tia. Pengawal itu mendorong Aidah dan Tia masuk ke dalam ....
...Nindya segera menghampiri kedua pelayan setia nya itu. Aidah dan Tia langsung berhamburan memeluk Nindya. "Tuan Putri, kenapa kita bisa dikurung di sini?" Tanya Tia dengan wajah khawatirnya. "Tuan Putri tidak apa-apa?" Aidah memeriksa kondisi Nindya. "Aku tidak apa-apa. Kalian bagaimana?"...
...Aidah dan Tia menggeleng mengisyaratkan bahwa tidak ada yang terjadi pada mereka....
...Nindya memeluk kedua pelayan yang sangat ia percaya itu. "Maafkan aku karena telah membuat kalian terkurung di sini bersamaku." Ucapnya sambil membelai rambut keduanya. "Tuan Putri tidak perlu minta maaf. Kami bersedia bersama Tuan Putri di manapun Tuan Putri berada." Balas Aidah dan Tia tulus. Nindya meneteskan air mata mendengar ketulusan kedua pelayan yang sudah ia anggap sebagai saudarinya tersebut. Padahal, dia merasa dirinyalah penyebab mereka terkurung di sini bersamanya....
❤️❤️❤️
__ADS_1