
🧡🧡🧡
Wahai lelaki impian,
aksara apa lagi kah yang harus ku urai menjadi syair manis pengantar lelap tidurmu?
Karena hadirmu telah meluruhkan nafas kegelisahan
dan membawa giur rindu yang tak pernah usai~~~
🧡🧡🧡
...Nindya keluar dari kamarnya dan mendapati Jessiva yang juga baru keluar dari kamarnya. Mereka sama-sama duduk di sofa dan memilih diam tak bersuara. Mata keduanya sembab akibat menangis cukup lama....
...Nindya melirik mata Jessiva yang terlihat sembab sama sepertinya. Jessiva hanya diam dan menatap lurus ke depan. Nindya memilih menundukkan Kepala. Barulah Jessiva memberanikan diri melirik Nindya yang matanya sembab sepertinya. Meski begitu, keduanya belum mau memulai pembicaraan. Mereka memilih diam tanpa bicara bahkan sekedar menoleh....
__ADS_1
...'Prang' Suara piring pecah dari dapur. Jessiva bangkit dari sofa menuju dapur disusul Nindya. Nindya melihat piring yang berjatuhan di lantai. Ia memilih memungut pecahan piring itu dan membersihkannya. Sedangkan Jessiva memperhatikan makhluk yang membuat piring berjatuhan itu dengan kesal. "Ya ampun, ku kira apa? Ternyata hanya seekor kucing," Gumam Jessiva. Ekspresinya berubah saat melihat luka di kaki kucing itu. Jessiva memperhatikan kucing itu dengan iba. Perlahan, ia mendekati kucing itu dan membelainya lembut, agar ia tak membuat kucing itu takut....
...Nindya yang telah selesai membersihkan piring pun menatap kucing itu dengan prihatin. "Dia terluka," Sahutnya. Jessiva mengangguk. "Sebaiknya kita obati dia dulu, ayo!" Ajak Nindya. Jessiva menggendong kucing itu dan mendekapnya. Ia lalu menaruh kucing itu di sofa....
...Nindya mengambil obat luka di lemari yang berada di ruang tengah. Sedangkan, Jessiva tetap menemani kucing itu sambil terus membelainya....
...****************...
...Selesai membersihkan dan mengobati luka kucing itu, Nindya kembali menaruh sisa obat di lemari. Dan kucing itu terlihat sudah tertidur di pangkuan Jessiva. Nindya memandang Jessiva yang terlihat senang. Ia terus membelai lembut bulu kucing itu hingga kucing itu benar-benar terlelap. Nindya ikut duduk di sofa dan membelai kepala kucing....
...'Tok...tok...tok'...
...Nindya beranjak membukakan pintu dan mendapati Sam yang tengah berdiri gagah di depan pintu. "Ehem, boleh aku masuk?" Izin Sam. Nindya mempersilahkan Sam masuk dan kembali menutup pintu....
..."Wah, sepertinya kalian punya peliharaan baru," Ucap Sam, mengejutkan Jessiva yang tengah memainkan bulu kucing itu. Jessiva tersenyum. "Jess, apa kabar?" Tanya Sam. "Aku baik," Jawab Jessiva....
__ADS_1
...Nindya merasa ada yang aneh, kenapa hanya Jessiva yang ditanya kabarnya sedangkan dia tidak. Nindya segera memusnahkan pikiran buruk di kepalanya dan memilih duduk di sofa. "Dia terluka?" Sam membungkuk melihat luka di kaki kucing itu. Ia mengusapnya lembut....
..."Iya, tadi sudah kami obati," Ujar Jessiva. Ia kemudian memindahkan kucing itu dari pangkuannya dan menaruhnya di sofa dengan hati-hati. Ia lalu pamit ke kamar kecil. Menyisakan Nindya dan Sam di ruang itu....
..."Aku ke kamar dulu, ya" Pamit Nindya. Ia melangkah ke kamar meninggalkan Sam seorang diri di ruang tamu....
...Tak lama kemudian, Jessiva menghampiri Sam yang terlihat sedang mengusap-usap tangan. Sam mengangkat kepala menyadari kedatangan Jessiva. Jessiva memilih duduk di samping Sam....
..."Ok, aku pamit dulu ya. Nindya mana?" Sam mengundurkan diri sembari mencari-cari keberadaan Nindya yang saat ini berada di kamar....
..."Nindya sedang di kamar mungkin. Mau aku panggil?" Tawar Jessiva. Sam menggeleng. "Tidak usah. Biarkan dia istirahat," Tolak Sam. "Kamu datang ke sini hanya untuk duduk lalu pulang lagi?" Protes Jessiva. Sam hanya tertawa kecil....
...Jessiva mengantarkan Sam sampai ke depan rumah. Lalu ia kembali ke dalam dan bermain dengan kucing barunya yang masih terlelap....
...Nindya membuka pintu kamar. Ia mengedarkan pandangan kesana-kemari "Dia sudah pulang," Ucap Jessiva. Nindya hanya mengangguk lalu duduk di samping Jessiva sembari ikut memainkan bulu hewan imut yang ada di hadapannya....
__ADS_1
*❤❤❤*