Love And Revenge

Love And Revenge
Episode 37: Bersedih...


__ADS_3

🧡🧡🧡


Tuhan,


bawalah ia untukku!


setidaknya untuk sekali ini saja


namun untuk selamanya~~


🧡🧡🧡


...Nindya berlari menerobos aula kerajaan. Ia terpaku memandang bingkai foto Ibundanya yang dikalungi bunga. Nindya meneteskan air mata. Para pejabat dan pelayan melihat ke arahnya....


...Nindya tak peduli. Ia jatuh berlutut. "Bunda, maaf Nindya terlambat, Nindya tak sempat mengantar Bunda," Ucap Nindya di sela-sela tangisnya. Ia menyentuh bingkai foto Ibunda. Nindya menyunggingkan senyumnya. "Bunda yang tenang ya," Sahutnya....


...Raja datang menuju aula tersebut. Ia melihat Nindya yang tengah menangis dengan posisi berlutut. "Pelayan, bawa Putri ke kamarnya." Titah Raja. Para pelayan maju dan memegangi tubuh Nindya. Nindya menepis tangan mereka. Ia masih memandangi wajah Bundanya di bingkai tersebut....


...Nindya membungkukkan tubuhnya. Ia meneteskan buliran-buliran air mata. "Bunda, terimakasih karena telah membimbing Nindya." Ucap Nindya. Ia berdiri dan berjalan perlahan. Melewati beberapa pelayan dan orang-orang yang memandanginya. Nindya berjalan menuju kamarnya. Ia juga melalui Raja tanpa membungkuk atau memberi salam formal. Suasana hatinya sedang memburuk saat itu. Itulah sebabnya mengapa ia tidak bisa berpikir jernih....


...Raja memaklumi keadaannya sekarang. Ia memerintahkan para pelayan untuk menemani Nindya ke kamar dan menjaganya dengan baik....


...Sesampainya di kamar, Nindya terduduk di atas ranjang. Ia terus menatap ke bawah frustasi. "Kalian keluarlah!" Pinta Nindya. "Aku sedang tidak ingin diganggu." Ujarnya. Aidah dan Tia datang menghampiri para pelayan dan memerintahkan mereka untuk keluar....

__ADS_1


...Nindya berbaring di ranjangnya. Ia membayangi memori-memori indah saat ia bersama Ibundanya....


Flashback on:


...Sesampainya di kamar, Nindya memilih untuk duduk di atas kursi di depan Ibundanya. "Bunda, Nindya mau membicarakan sesuatu." Sahut Nindya. "Apa?" Ratu membenarkan posisi duduknya dengan anggun. "Hmm, Nindya ingin keluar Bunda, boleh kan?"...


..."Hah? maksudnya keluar ke mana?" Ratu mengerutkan keningnya....


..."Yah, Nindya hanya ingin keluar Bunda. Kan Nindya tidak pernah berjalan-jalan keluar ibu kota atau setidaknya kerajaan ini saja." Ujar Nindya memelas. "Memang, apa yang ingin kau lakukan, putriku?" Ratu tersenyum lembut pada putri tunggalnya tersebut. "Bunda tahu, tapi apakah Ayahandamu akan setuju?" Ucap sang Ibunda. Nindya mengerutkan kening memutar bola matanya, memikirkan ucapan Ratu"Ehmm, Nindya akan menjelaskan sendiri nanti pada Yanda, bagaimana?"...


...Nindya membulatkan bola matanya seakan mendapat ide. Namun Ratu melihatnya dengan tatapan khawatir. Nindya yang seakan mengerti tatapan Ibundanya, dengan cepat menjelaskan, "Bunda, aku yakin Yanda tidak akan memarahiku. Jika ia menolak izinku ia hanya cukup mengatakan penolakan, tidak akan sampai marah kan, Bunda?" Ujar Nindya dengan serius....


...Ratu akhirnya menganggukkan kepalanya. Nindya berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada Ratu. "Terimakasih Bunda." Ujarnya senang. Ratu menyunggingkan senyumnya pada putri kesayangannya itu....


Flashback off:


...Aidah yang mendengar isakan dari dalam kamar segera merapatkan telinga ke pintu kamar. "Putri, apa Anda baik-baik saja?" Tanya Aidah memastikan kondisi Nindya. "Aku baik-baik saja." Sahut Nindya dari dalam kamar....


...Aidah berniat membuka pintunya. Mengecek kondisi di dalam. Namun, Tia mencegahnya....


...Nindya memejamkan mata. Ia hanya bisa menanggung semua kesedihan dan sesak di dada dengan menangis....


Flashback off:

__ADS_1


...Nindya kecil menemani Ibundanya di dapur. Ia memakan cemilan sembari memperhatikan Ibunda yang memasak. "Bunda, kenapa Bunda memasak? Kan ada pelayan." Sahut Nindya polos. Ibunda tersenyum lembut padanya. "Sayang, tidak semuanya harus mengandalkan pelayan. Selama kita masih bisa melakukannya tidak ada salahnya kok." Nasihat Ibunda....


...Nindya mengangguk mengerti. "Tapi nanti besar Nindya yang mengurus Ibunda kan saat Bunda sudah tua." Ucap Nindya tulus. Ibunda tersenyum. "Kenapa tiba-tiba mengatakan itu?" Tanyanya sembari terkekeh. Nindya menggenggam tangan Ibunda lembut. "Bunda, Nindya janji akan menjaga Bunda nanti besar. Nindya serius." Lanjutnya....


..."Iya iya. Nindya memang anak Bunda yang baik." Pujinya. Ia membelai rambut putrinya....


Flashback off


...Nindya membasahi bantalnya dengan air mata. Ia merasa suasana hatinya sedang tidak baik sekarang. Ia merasa belum siap menerima semua kenyataan ini. Ini terlalu cepat baginya. Sekarang Nindya mengerti arti dari mimpinya saat ia masih bersama Jessiva beberapa waktu lalu....


...Nindya memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia merasakan tubuhnya yang melemah. 'Bruk' Nindya terjatuh tepat di ranjangnya. Kesedihan telah membuat tubuhnya melemah lantaran masih belum bisa menerima kenyataan....




*❤️❤️❤️*



Maaf ya, akhir-akhir ini sering telat upload. Soalnya aku sibuk ujian di sekolah.


Sekali lagi maaf ya.

__ADS_1



HAPPY READING SEMUANYA 😘😘


__ADS_2