Love And Revenge

Love And Revenge
Episode 35: Kembali ke Istana


__ADS_3

🧡🧡🧡


Jika memang kita tak ditakdirkan bersama,


cukup hidup dengan baik,


maka aku pun sudah bahagia~~


🧡🧡🧡


...Nindya membuka matanya perlahan. Ia mendapati seorang gadis dan beberapa pelayanan lainnya yang sedang menjaganya hingga tersadar....


...Nindya memandangi mereka dengan lemah. "Aku di mana?" Tanya Nindya. "Aidah!" Seru Nindya. Ia baru sadar bahwa gadis di hadapannya itu adalah Aidah. "Putri, Anda sudah sadar? Maaf telah membuatmu menderita," Aidah bangkit dari duduknya dan membungkukkan tubuhnya, meminta maaf....


...Nindya tersenyum lemah. "Tidak apa-apa. Kamu dan Tia tidak dihukum oleh Yanda?" Tanya Nindya khawatir....


...Aidah menggeleng. "Yang Mulia sempat menghukum kami dengan beberapa pukulan. Tapi, setelah itu, dia lebih memilih menyuruh kami untuk mencari Tuan Putri." Jelas Aidah panjang lebar....


..."Oh iya ngomong-ngomong kenapa aku bisa di sini?" Nindya melontarkan pertanyaannya. Aidah menceritakan kronologi pertemuannya dengan Nindya....




**Flashback** **on**:



...Ke-empat bandit itu menghentikan perbincangan yang tak dapat mereka dengar dari Nindya dan gadis itu. Mereka melayangkan tamparan dan pukulan pada Nindya....


...Gadis itu mengambil uang dan kalung dari saku Nindya. Bandit itu merampas kalung dan uang Nindya dari tangan gadis itu....



...Nindya berniat merebut kalungnya, namun, salah satu bandit itu, menendang wajahnya dengan sangat keras. Membuat Nindya tak kuasa menahan rasa sakitnya....



...Nindya jatuh tak sadarkan diri. Matanya melebur memandangi gadis dan ke-empat bandit tersebut....


__ADS_1


...Para bandit itu berniat melanjutkan perjalanannya. Namun, mereka segera menghindar saat beberapa anak panah meluncur ke arah mereka. Mereka melihat beberapa pasukan berkostum hitam berlari dan hendak menyerang mereka. Namun, para bandit itu berhasil menghindar dan kabur dari kejaran para pasukan dari Istana itu....



...Beberapa pasukan itu berusaha mengejar para bandit. Namun, mereka hanya berhasil menangkap gadis sandera dari para bandit itu. Para pasukan itu membawa gadis sandera ikut menuju Istana....



...Aidah yang berada di antara mereka langsung buru-buru menghampiri Nindya. Ia memerintahkan para pengawal dan pelayan untuk menggotong tubuh Nindya yang tak sadarkan diri. Mereka menuju Istana menggunakan kereta kuda Istana....



**Flashback off**



...Nindya hanya mengangguk mendengar penuturan Aidah. Ia duduk di ranjangnya perlahan. Ia memandangi para pelayan di kamarnya. "Oh iya, Bunda mana?" Tanyanya. Aidah dan beberapa pelayan saling menatap satu sama lain....



..."Yang mulia Ratu sedang ada urusan. Jadi dia sudah pergi beberapa hari yang lalu," Terang Aidah. Nindya mengangguk lagi....




...Nindya memerintahkan Tia untuk berdiri. Tia menolak. "Tidak, Putri. Tia tidak akan berdiri sebelum Putri menghukum Tia," Tolak Tia. "Jangan begitu. Aku sudah memaafkan mu. Sekarang aku perintahkan mu untuk berdiri," Pinta Nindya....



...Kali ini Tia menurut. Ia berdiri dan tersenyum senang. "Terimakasih Putri," Ucap Tia. Ia membungkuk sekali lagi. "Oh iya, Tia membawakan makanan untuk Putri. Mohon Anda makan dulu," Ujar Tia sembari menyodorkan nampan pada Aidah. Aidah menerimanya dan mengambil mangkuk berisi bubur dari nampan itu. Ia menyendok bubur itu dan hendak menyuap Nindya....



...Nindya menggeleng. "Aku bisa sendiri," Tolak Nindya. Ia mengambil mangkuk berisi bubur dari Aidah dan segera menghabiskannya....



...Setelah bubur lugas alias habis, Nindya menyerahkan mangkuk itu pada Aidah dan meneguk susu hingga tak tersisa. "Terimakasih," Ucap Nindya. Ia memerintahkan Tia dan beberapa pelayan lainnya agar meninggalkannya untuk beristirahat....


__ADS_1


...Tia dan Aidah menurut. Mereka berbalik menuju pintu. Namun, mereka mendengar instruksi dari pelayan yang menjaga di depan, yang mengisyaratkan bahwa Raja datang. Nindya yang bersiap tidur mengurungkan niatnya. Ia turun dari ranjang dan menyambut Ayahanda....



..."Salam Ayahanda. Semoga Ayahanda selalu sehat," Nindya memberikan penghormatannya. "Bangunlah!" Pinta Raja. "Terimakasih, Yanda," Nindya berdiri menyambut Raja. Ia menuntun Raja duduk di kursi di kamarnya....



..."Kamu baik-baik saja?" Raja melontarkan pertanyaannya. "Aku baik-baik saja, Yanda," Jawab Nindya. Raja menatap Nindya dengan sedih. Nindya sadar akan hal itu. "Yanda, kenapa Yanda menatapku seperti itu?" Tanya Nindya. Raja segera menggeleng....



...Nindya merangkul lengan Raja. "Yanda, kapan Bunda pulang? Nindya sangat merindukan Bunda," Ungkap Nindya. Raja terkejut. Ia segera menyembunyikan ekspresi wajahnya saat Nindya menatapnya. "Nindya mendengar dari Aidah kalau Bunda sedang pergi," Ujar Nindya. "Tenang saja. Bunda pasti akan pulang beberapa hari lagi," Raja meyakinkannya. Nindya tersenyum senang. Ia melihat mata Ayahanda yang berkaca-kaca....



..."Yanda, kenapa?" Tanya Nindya. "Yanda jangan bersedih. Bunda pasti sedang berada di perjalanan pulang ke sini," Yakin Nindya. Ia mengusap air mata Raja. "Oh iya, Yanda ingin menanyakan sesuatu," Raut wajah Raja berubah menjadi sangat serius....



..."Iya ada apa, Yanda?" Nindya memberanikan diri bertanya. Raja menatap Nindya serius. "Yanda hanya ingin bertanya ke mana saja kamu? Mengapa meninggalkan kereta kuda yang telah Yanda persiapkan untukmu?" Raja menginterogasi. Nindya menelan ludah. Ia bingung mau jawab apa. "Maaf telah membuat Yanda khawatir," Ucap Nindya sembari bangkit dan membungkuk pada Raja....



..."Yanda tidak perlu itu. Yanda hanya ingin tahu ke mana kamu pergi selama sebulan ini, dan kenapa kamu meninggalkan para pelayan yang Yanda siapkan untuk menjagamu?" Kilah Raja. Nindya menelan ludah kasar....



..."Mm, Nindya dikejar orang jahat, Yanda. Dan akhirnya Nindya berlari dan tersesat. Setelah itu, Nindya tinggal bersama teman Nindya di rumahnya karena Nindya tidak tahu harus ke mana," Aku Nindya. Raja memanggut-manggut. "Tunggu dulu. Teman? teman siapa?" Tanya Raja lagi. "Yanda tidak perlu tau hehe," Nindya menolak memberi tahu....



..."Dan, siapa orang jahat itu. Beraninya menyakiti seorang Putri. Kamu jangan khawatir. Yanda pasti akan memenggal kepala mereka." Mendengar kata 'penggal' sebenarnya membuat Nindya merinding. Tapi, ia memilih tersenyum tipis....



..."Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu istirahatlah. Pasti kamu lelah kan?" Pinta Raja. Nindya mengangguk mengiyakan. Ia mengantarkan Raja sampai di depan pintu kamarnya....



...Setelah mengantar Raja, Nindya merebahkan tubuh di ranjangnya. Tak butuh waktu lama untuk dirinya terlelap....

__ADS_1


__ADS_2