
🧡🧡🧡
Aku tak peduli akan hatiku yang terus menolak tentang perasaanku untukmu!
Satu hal yang pasti,
AKU MENCINTAIMU!~~
🧡🧡🧡
...Sam memeriksa kaki Jessiva yang membiru. Ia menyentuh kakinya perlahan. "Aw, sakit," Jessiva meringis kesakitan. "Tenang. Aku akan mencoba memutar nya perlahan. Kamu tidak usah takut. Tidak sakit kok," Terang Sam, mencoba menenangkan Jessiva. Jessiva mengangguk pasrah. Ia membiarkan Sam memutar pergelangan kakinya. Berkat perkataan Sam, Jessiva sama sekali tak merasa sakit. Ia justru memandangi Sam yang tampak sibuk mengobati kakinya. Tanpa sadar, Jessiva tersenyum melihat perhatian yang diberikan Sam untuknya. Entah kenapa, ia merasa sangat senang diberi perhatian begitu oleh Sam....
..."Bruk.." Jessiva dan Sam menoleh ke arah kamar Nindya saat mendengar suara keras. Mereka dengan cepat berlari ke kamar Nindya. Jessiva dan Sam melihat Nindya yang telah menyadarkan diri....
..."Nindya, kamu sudah sadar?" Tanya Jessiva. Nindya hanya mengangguk pelan. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" Sambung Sam. Nindya menatap lurus ke depan. "Aku tidak apa-apa. Bisakah kalian keluar sebentar? Aku ingin beristirahat," Pinta Nindya. Jessiva dan Sam menyetujui. Jessiva membungkus tubuh Nindya dengan selimut....
...Nindya hanya tersenyum sekilas dan kembali menatap lurus ke depan. Rupanya ia tanpa sengaja melihat Jessiva dan Sam di luar kamarnya tadi. Hal itu membuat Nindya merasakan api cemburu di hatinya. Ia segera berbaring untuk menenangkan pikirannya....
"Tidak. Aku tidak boleh bertengkar dengan Jessiva hanya karena hal ini. Aku harus keluar untuk menenangkan pikiranku," Batin Nindya.
...Ia memejamkan matanya....
...Sam pamit pada Jessiva. Jessiva mengantar Sam sampai di depan pintu. Setelah itu, ia membuka pintu kamar Nindya berniat memeriksa keadaan nya. Namun, Jessiva terkejut saat melihat Nindya yang sudah tak lagi di kamarnya. Membuat Jessiva bertanya-tanya....
__ADS_1
"*Oh, mungkin Nindya sedang di kamar mandi*," Duga Jessiva.
...Ia mengecek di kamar mandi. Namun, ia tetap tak menemukan Nindya. Perasaan khawatir mulai menyelimuti pikirannya. Ia mencoba berpikir dengan baik....
...Jessiva mengecek seisi kamar Nindya lagi, namun tak menemukan apa-apa. Ia pikir, mungkin Nindya meninggalkan setidaknya surat untuknya. Jessiva mulai panik. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari keluar rumah menyusul Sam. Ia berniat memberitahu kepergian Nindya....
...Tanpa mau berlama-lama, Jessiva berlari ke arah Sam. "Sam, Nindya hilang," Ujar Jessiva *to the point*. Perlahan ekspresi Sam berubah menjadi khawatir. "Hah? Hilang bagaimana maksudmu?" Tanya Sam yang tanpa sadar telah mencengkram pundak Jessiva dengan kuat....
...Terbersit rasa cemburu di hati Jessiva yang melihat kekhawatiran Sam pada Nindya. Namun, ia tak mau memikirkannya saat itu. Jessiva segera menepis pikiran itu. Baginya, sekarang yang terpenting adalah menemukan keberadaan Nindya segera....
..."Maaf," Ucap Sam saat sadar dirinya telah mencengkram Jessiva begitu kuat. "Tidak apa-apa," Balas Jessiva. "Oh iya, kamu bisa membantuku mencari Nindya? aku khawatir padanya. Apa lagi sekarang dia sedang sakit," Pinta Jessiva. "Tapi, aku tidak tau keberadaannya sekarang," Balas Sam. "Aku tau kamu pasti tau di mana dia. Sebab, aku percaya padamu," Ungkap Jessiva, tanpa sadar mulai menyentuh tangan Sam....
__ADS_1
...Jessiva buru-buru menjauhkan tangannya dari tangan Sam. "Maaf, aku terlalu khawatir," Ucap Jessiva. "Iya tidak apa-apa," Balas Sam. "Oh iya, ngomong-ngomong, dari pada kita saling meminta maaf, lebih baik kita mulai mencari Nindya, bagaimana?" Ajak Sam. Jessiva memerah. Namun, ia berhasil menepisnya sebelum Sam mengetahuinya. "Ok. Mm, kamu tau tidak tempat apa yang mungkin paling sering dikunjungi Nindya?" Tanya Jessiva. Sam menggeleng. "Tidak tau. Kamu kan yang paling dekat dengannya," Ujar Sam....
...Sam dan Jessiva sama-sama terdiam hingga Sam teringat akan sesuatu....
"*Danau hijau*," Batinnya.
"*Bisa saja Nindya pergi ke sana, kan*?" Duganya.
..."Aku tau Nindya pergi ke mana," Sam berbinar. "Di mana?" Tanya Jessiva penasaran. "Tapi, ini masih kemungkinan. Belum tentu Nindya betul-betul di sana," Ungkap Sam. Mematahkan sedikit semangat Jessiva yang tadi hampir kembali. "Ok, aku pergi dulu ya," Pamit Sam. Ia hendak membalikkan tubuhnya. Namun, Jessiva dengan cepat menahan tangannya....
..."Tunggu. Aku ikut," Pinta Jessiva. "Tidak usah. Kamu pulang saja. Biar aku yang mencarinya, ok?" Pinta Sam sembari menggenggam tangan Jessiva, menenangkan nya. Jessiva akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah," Ujarnya sembari menunduk. Sam tersenyum dan memutar tubuhnya ke danau hijau yang beberapa waktu lalu pernah mereka kunjungi bersama. Jessiva hanya tersenyum memandang punggungnya....
❤❤❤
__ADS_1