
🧡🧡🧡
Biarkan aku tertidur lelap~~
Sebab lelap tak mengingatkanku pada manisnya senyummu~~
🧡🧡🧡
...Nindya mengendap-endap malam hari seorang diri. Ia celingukan melihat kondisi yang aman atau tidak. Nindya membawa sebuah belati di tangan kirinya. Ia berniat menuju kediaman Selir Ren Ai....
...Ia mengendap-endap dengan mengenakan tudung di kepalanya dan melangkahkan kakinya menuju kediaman Selir Ren Ai. Namun, Nindya melihat sangat banyak pelayan yang berjaga di luar kediaman Selir Ren Ai....
...Nindya mengurungkan niatnya menuju kediaman Selir Ren Ai. Ia mundur perlahan-lahan....
...****************...
...Keesokan paginya, Nindya terbangun dan dengan cepat menyembunyikan tudung dan belati yang ia pakai untuk mengendap-endap semalam....
...'Tok tok tok' Nindya sedikit terkejut mendengar ketukan di pintu. Ia mengatur nafasnya sejenak. "Masuk!" Pintanya. Tia berjalan masuk dengan membawa sebuah nampan diikuti Aidah di belakangnya. Mereka menaruh nampan di meja....
..."Keluar!" Pinta Nindya. Ia tak melirik nampan berisi makanan itu sedikitpun....
__ADS_1
...Nindya memegang kepalanya yang terasa pusing. "Tuan Putri, ada apa dengan Anda?" Tanya Tia dan Aidah khawatir. Nindya menggeleng. "Apa perlu kami panggilkan Tabib?" Tawar Tia. Nindya berusaha menggeleng. Namun, rasa sakit di kepalanya membuatnya terpaksa mengangguk....
...Nindya berbaring di ranjang sembari diperiksa oleh Tabib Kerajaan. Nindya bangkit dan terduduk di ranjangnya seusai diperiksa. Ia menoleh sejenak pada Tabib tersebut....
...Seorang pelayan masuk dengan membawa sebuah nampan berisi kue camilan. Ia menaruh camilan itu di atas meja. Nindya menatapnya bingung. "Siapa yang memberikan camilan itu?" Tanya Nindya. Pelayan itu membungkuk. "Tuan Putri, Selir Greeta memberikan camilan itu karena ia tahu kalau Tuan Putri sedang sakit dan sengaja membawakan camilan itu untukmu." Lapor pelayan tersebut....
..."Selir Greeta juga menyampaikan permohonan maafnya karena tidak bisa menjenguk mu." Lanjut pelayan tersebut. Nindya mengangguk mengerti. Ia memerintahkan pelayan itu untuk keluar....
..."Oh iya, kamu tau di mana keberadaan Selir Ren Ai?" Tanya Nindya pada Aidah dan Tia yang tengah berdiri di hadapannya. "Ku dengar, Selir Ren Ai sedang keluar dari kediaman untuk mengerjakan sesuatu." Lapor Aidah....
..."Baguslah... menjauhlah dariku semetara dan nantikan tanggal kematian mu." Batin Nindya dengan seringainya....
...****************...
...Aidah berjalan mendekati Nindya. Ia membisikkan sesuatu di telinga Nindya....
...Nindya menatap Aidah sejenak. "Baiklah. Tapi jangan lama-lama." Pinta Nindya. Ia bangkit dan duduk di kursi di kamarnya. Ia mengajak Aidah untuk duduk bersamanya....
..."Terimakasih. Tapi tidak usah Tuan Putri, aku berdiri saja." Tolak Aidah. Nindya mengambil secangkir teh dan menyeruputnya. Ia menaruh kembali cangkir itu dan beralih pada Aidah. "Kamu bilang tadi ingin membicarakan sesuatu. Cepat bicarakan!" Pinta Nindya....
...Aidah mendekati Nindya. "Putri, Selir Greeta bilang, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres tentang Selir Ren Ai." Aidah memulai ceritanya. Nindya mengerutkan keningnya serius. "Lanjutkan!" Pintanya. Aidah mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Ia menyodorkan kertas itu pada Nindya yang langsung mengernyit....
__ADS_1
..."Ini surat dari Selir Ren Ai yang ia berikan secara diam-diam untuk Tabib Kerajaan." Jelas Aidah. Nindya mengambil surat tersebut dan membacanya dengan teliti....
...Periksa Tuan Putri dan pastikan dia baik dan aman....
...Nindya membaca surat yang entah kenapa terlihat seperti ancaman untuk dirinya. Nindya menatap Aidah. "Ini surat yang diberikan oleh Selir Greeta?" Tanya Nindya. Aidah mengangguk. Nindya berpikir sejenak. Ia kemudian tersenyum simpul. "Aku tahu." Sahutnya. Aidah mengangguk pasti....
..."Malam ini, aku akan menyelesaikannya sendiri." Ucapnya dengan senyum seringainya....
*❤️❤️❤️*
Jangan lupa like, vote, dan komen ya~~
HAPPY READING SEMUA 😘 😘
__ADS_1