
...Happy Reading...
Riska menghela nafasnya pelan, entah mengapa ia tiba-tiba merasa sangat khawatir pada Irfan. Padahal baru saja beberapa hari ini Irfan tak kembali ke markas lantaran suami nona muda mereka yang tak lain Ethan, meminta Irfan diberi pelatihan yang lebih khusus di markas miliknya.
"Gue jadi kangen sama si rese, ternyata sehari tanpa adu mulut dengannya membuat hidupku kembali suram. Irfan anteng banget elo di sana, elo gak kangen ribut sama gue apa?" tanya Riska sambil memandang langit-langit.
"Tapi semoga aja si rese gk balik dulu deh, soalnya gue belum ada pembahan buat adu mulut nih." Lanjut Riska dengan di iringi kekehan kecil
Di sisi lain tepatnya di markas Ethan, pria paruh baya kini sedang mendekam di dalam sel tahanan khusus orang yang berani menantang dan berniat menghancurkan keluarga Marsandes. Terlihat jelas gurat kemarahan dari raut wajah pria paruh baya tersebut, "Lepaskan saya, lepaskan saya !!" Gertak pria paru baya itu
Para penjaga di sana tidak ada yang menghiraukan, mereka tetap berjaga dengan wajah dinginnya. Lama-kelamaan pria paruh baya itupun mulai lelah karena terus berteriak.
Sekitar 1 jam yang lalu, Irfan diperintahkan Ethan untuk mendatangi ruang bawah tanah. Dengan nafas yang tak beraturan, akhirnya ia sampai keruang bawah tanah. Ethan yang sedari tadi menonton kegiatan si pria paruh baya di layar monitor pun mengalihkan pandangannya pada Irfan yang sudah ada di hadapannya.
"Apa kamu benar-benar siap melakukan semuanya? saya bisa dengan mudah menghabisi dia tanpa melalui kamu. Tapi istri saya bilang, saya harus membiarkan kamu untuk menemui dia terakhir kalinya atau mungkin saja kamu berniat menghabisinya. silahkan saja!!" Ucap Ethan dengan nada datar
"Saya akan memenuhinya dulu tuan muda, jika saya sanggup saya akan menghabisinya." Tegas Irfan
Namun jika di lihat dari nada bicaranya, Irfan seakan menahan getaran di dalam hatinya karena bagaimanapun, tidak ada seorang anak yang ingin menghabisi nyawa ayahnya sendiri. Ya, pria paruh baya itu adalah tuan Igun, ayahnya Irfan.
"Temuilah!!"
Kayla dan Kiran kini sedang duduk bersantai di tanam belakang mension kira ditemani, beberapa gelas jus dan cemilan, "Kay" panggil Kiran
"hmm?"
"gue mau piscok, beli yu! abis itu kita langsung normally." Ajak Kiran
"boleh, gue juga mau beli sesuatu. Ayo!!"
Kiran mengangguk, "tunggu bentar dong Kay!! ini perut gue gk kecil soalnya." Ungkap kiran yang perutnya memang sudah terlihat buncit
"Ribet banget lo Ran bawa-bawa perut."
"Eh bocah sembarangan. Terus kalo perut gue gk dibawa, anak gue mau disimpen di mana? pea lo lama-lama Kay." Balas Kiran
"Ya terserah, gue males nanggepin ucapan elo ah. Buruan dong siap-siapnya!!"
Kiran berdecak, "Iya-iya bawel banget sih."
__ADS_1
Kiran dan Kayla sengaja tidak meminta supir untuk mengantarnya. Mobil yang dikendarainya kini melaju dengan kecepatan sedang, "Kay liat deh!! itu tukang piscoknya kan?" Tanya Kiran
Kayla mengikuti arah pandang Kiran, "iya kayanya, kita parkirin mobilnya dulu." Balas Kayla
Sesudah memarkirkan mobilnya, Kayla dan Kiran langsung turun menghampiri si penjual piscok, "Bang piscoknya ada?" tanya Kiran
Sang penjual piscok mengangguk, "banyak neng, mau berapa piscoknya?" tanya si penjual
"Em berapa ya, 20 aja deh bang," ucap kiran langsung menoleh ke arah Kayla, "mau gak?" tanya Kiran pada Kayla.
"Saya juga 20 ya bang." Balas Kayla
"Siap neng, tunggu sebentar ya!!"
Mereka mengangguk
"Mau langsung ke Mall?" tanya Kiran
"GA jadi deh, gue gak mood Ran. Gue pengen kue buatan momy lagi, kayanya enak deh kalo makannya tuh pake piscok." Balas Kayla
"Emang kue buatan momy seenak itu, sampe dikit-dikit mau kue momy?" tanya Kiran
"Boleh"
"Neng ini piscoknya" Ucap si penjual piscok memberikan beberapa kantong pelantik pada mereka.
"Berapa semuanya bang?" tanya Kiran
"40 ribu neng"
"Ini bang, makasih banyak piscoknya." Ujar Kayla langsung menyodorkan uang merahan
Si penjual menerima uang tersebut lalu mencari kembaliannya, "neng ini kembaliannya"
"Buat abang aja," Kayla mencicipi piscoknya, "bang piscoknya enak banget, kenapa gak buka toko piscok aja? syg lo piscoknya enak, tapi banyak yang gak tahu." Tanya Kayla
"Bukan gak mau neng, tapi abang emang belum cukup tabungan buat buka tokonya." Balas sang penjual dengan tersenyum ramah
Kayla sejenak tampak berpikir, "abang mau gk bantu ngurusin toko saya? tokonya kosong ko bang jadi bisa abang gunain buat buka warung piscok abang. Saya bingung soalnya sayang kalo gk kepake." Ungkap Kayla
__ADS_1
Si penjual piscok matanya tampak berbinar, "ini saya beneran gk lagi mimpi neng?" tanyanya
"Enggaklah bang, gimana mau?"
"Mau neng, saya mau." Balasnya antusias
"Kalo gitu ini kartu nama saya, hubungin aja nanti bang kapan mau mulainya."
"Em itu, soal sewa gimana neng?"
"Gausah dipikirin bang, urusan nanti itumah!!"
"Jo please jangan deket-deket!! kamu bau." Ungkap Laras sambil menutup hidung ketika suaminya mendekat.
"Mana ada bau, aku baru selesai mandi loh ini." Balas Joshua
"Tapi kamu bau Jo, pergi sana kamu bau." Namun sepertinya Joshua sama sekali tak menghiraukan, ia malah terus berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Sini dulu deh cium gak bau kok, orang aku aja baru selesai mandi." Ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya berharap Laras akan memeluknya. Namun hasilnya nihil, sang istri malah terus menjauh, "Jo aku bilang jangan deket-deket Jo!!" Ancam Laras
"Hei sayang aku ini gak bau seriusan," Joshua langsung memeluk erat tubuh mungil istrinya, "cium deh!! gak bau kan??" lanjutnya.
"Bau ih Jo, badan kamu bau sayuran busuk. Lepasin buruan!!" Ucap Laras
Joshua tercengang, sayur busuk? apa istrinya benar-benar mencium bau sayur busuk dalam tubuhnya? ia kembali menciumi badannya, namun hasilnya sama sekali tidak tercium bau sayur busuk.
"Syg kamu ngarang deh, mana ada bau sayur busuk? aku ini wangi."
"Udah deh kamu langsung berangkat aja Jo, kamu bau." Laras tetap keukeuh dengan pendiriannya
Joshua menghela nafasnya, mau tak mau ia harus menuruti keinginan istrinya. Berpikir positif aja Jo!! mungkin anak kamu mempunyai dendam tersendiri padamu.
Berbeda dengan Joshua dan Laras, pasangan James dan Diva malah semakin lengket, "syg gausah mandi!! kamu tetep cantik dan wangi kok meski gk mandi." Ujar James sambil mengeratkan pelukannya
"Tapi mas, badan aku lengket bnget gak enak." Ungkap Diva
"Yaudah kalo gitu mandi bareng."
Blus pipi Diva merona, "gk mau, mandi sendiri-sendiri!!" Titah Diva langsung berlari ke kamar mandi.
__ADS_1