
...Happy Readingđź“–...
Keesokan harinya sesuai permintaannya pada keluarganya untuk menemui Bianca, James telah bersiap di dalam kamarnya. Ia memandang dirinya di depan cermin,"apa gue harus bener-bener ngerelain Bianca?" gumam James.
Ia menghela nafasnya, "hah baiklah apapun yang Bianca inginkan gue harus menerimanya. Ini semua salah gue, gue gak seharusnya ngelakuin itu sama orang lain. Andai aja waktu bisa kembali berputar, gue pasti gak akan pernah datang ke hotel itu."
James terus merutuki kebodohannya. Tanpa sadar, kini ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan nya.
"Gue gk tahu harus bilang apa ke elo bang. Sejujurnya gue sangat kecewa sama elo tapi, ini ibarat sebuah kecelakaan yang membuat elo harus ngambil sesuatu yang bukan hak lo." Ujar sang adik dari ambang pintu
James menoleh ke arah Kayla, "gue gak tahu harus apa Kay. Sejatinya, gue gak mau lagi kehilangan orang yang gue sayang. Tapi, apa daya gue? gue bahkan yang udah bikin orang yang gue sayang harus ninggalin gue." Balas James
"Gue bingung bang, gue gk bisa bantu banyak. Gue cuman pesen ke lo bang, belajarlah menerima kenyataan. Karena bagaimana pun, ada kehidupan di rahim kak Diva karena kesalahan kalian." Nasehat Kayla pada abangnya
__ADS_1
James memejamkan matanya untuk menetralkan rasa beraalahnya, "Kay gue pengecut Kay, gue bahkan gk pernah bisa nerima kenyataan pahit ini Kay." Air mata James jatuh di pelupuk matanya.
Kayla menatap iba sang abang, "gue yakin li pasti bisa nerima kenyataan ini bang," Kayla mengusap punggung James, " jangan buat kak Bi nunggu lama bang, sekarang buruan gih temuin kak Bi !!" Titah Kayla sambil tersenyum untuk mengalihkan kesedihan James.
James menganggukan kepalanya, " makasih lo selalu ada buat gue Kay." Ucapnya sambil memeluk sang adik.
Sesampainya di restoran milik Kayla, James segera mencari keberadaan Bianca dan Diva. Matanya terus mencari sekeliling hingga terhenti saat mendapati Bianca tepat di meja dekat pojokan. Dengan segera ia pun langsung menghampiri mereka.
"Bi"panggil James saat sudah berada di depan Bianca.
"Bi please maafin aku, aku bener-bener gak mau kehilangan kamu, aku sayang sama kamu Bi." Ujar James sambil memegangi pergelangan tangan Bianca.
Bianca tersenyum sambil menahan air matanya, "James hei jangan nangis dong!! kamu tahu kan aku gk suka cowok cengeng?" ujarnya sambil menghapus air mata James.
__ADS_1
" James kamu percaya takdir kan? Jodoh, rezeky, maut semua sudah ada yang menentukan. Begitupun kisah kita James, sedekat apapun kita bila tidak ditakdirkan berjodoh maka tidak akan pernah berjodoh. Namun sebaliknya, sejauh apapun kita menghidarinya bila memang sudah ditakdirkan untuk bersama pasti akan dipertemukan.
Aku menyayangi kamu lebih dari yang kamu bayangkan James. Maka dari itu aku lebih memilih mundur untuk kebahagiaan kamu di masa depan. Aku rela kamu bersanding dengan orang lain James, itu semua karena aku gk mau bersikap egois dengan mementingkan diri aku sendiri hingga membuat seorang anak kehilangan papah nya.
Diva dan calon anak kamu tidak bersalah James, begitupun kamu. Disini hanyalah takdir dan waktu yang tidak tepat." Jelas Bianca sambil menangkup wajah James
James memejamkan matanya menerima setiap sentuhan tahan bianca di wajahnya. Rasa bersalah itu selalu datang menghampirinya, "Bi aku tahu sebanyak apapun aku meminta maaf, itu tak akan pernah bisa merubah takdir. Demi kamu aku akan segera mempersiapkan pernikahan kami." Ujar James kembali menitikan air matanya.
Bianca merasakn sakit yang terasa sangat perih di hatinya. Ia kembali menangis, "peluk aku James!! peluk aku untuk terakhir kalinya!!" pinta Bianca sambil merentangkan tangannya.
Dengan sisa tangisannya, James berhambur memeluk Bianca, "biarkan hati ini terus mengingat namamu Bi!! Biarkan kamu menempati hatiku setelah semua penyesalanku terhadap nita!! Aku akan terus menyayangi kamu Bi." Bisik James
Bianca memejamkan matanya, "Tuhan, izinkan aku terus mencintainya. Aku akan terus mencintainya sebagai teman mulai dari sekarang. Ajarilah aku keihlasan yang luas Tuhan." Batin Bianca
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Diva mendengar semua perkataan mereka, "Ya Tuhan, biarkan lah aku egois kali ini!! aku memang telah hadir diantara mereka tapi, anakku tidak bersalah. Aku gk mau anak di rahimku tidak mendapat pengakuan papah nya. Izinkan aku untuk bisa menerima kenyataan pahit ini ya tuhan." Ujar Diva sambil menghampus air matanya yang terus mengalir di pelupuk matanya.