
Suasana hening di ruang tunggu rumah sakit. Andreas duduk terdiam menunggu proses kepulangan jenazah Rania. Zoya juga ada di sana. Istri kedua Andreas itu duduk tak jauh darinya. Terlihat matanya sembab karena menangis. Zoya juga sangat kehilangan Rania.
Keheningan itu sekejap berubah menjadi kegaduhan yang di buat oleh Flora. Dia datang dengan Jemyma bersamaan dengan kedua orang tua Andreas. Flora langsung menjambak Zoya dan menyalahkannya atas kejadian ini.
"Ini semua terjadi karena kau! Kau tidak becus mengurus putriku. Pasti kau sengaja membuat kondisinya memburuk agar kau menjadi istri satu-satunya Andreas. Dasar kacung tidak tahu diri!" Ucap Flora menghakimi Zoya. Dia tidak berkaca diri, seolah dirinya pernah ikut membantu mengurus Rania saja.
Irma segera menarik Flora agar melepaskan Zoya. Bagaimanapun Zoya menantunya juga. Ini semua juga sudah takdir. Selama ini pun Zoya sudah merawat Rania dengan baik.
"Jeng Flora sudah, kita harus ikhlas menerima, ini semua sudah takdir Allah." Ucap Irma sembari menuntun Flora menjauh dari Zoya.
Zoya memegangi kepalanya yang sakit akibat rambutnya yang di tarik dengan kuat oleh Nyonya Flora. Zoya langsung teringat kembali dengan kata perang yang di bisikkan Nyonya Flora waktu itu. Kini Rania sebagai pembelanya sudah tidak ada. Sudah di pastikan dia akan di tindas olehnya. Zoya menelan ludahnya sedalam mungkin. Ia cukup takut menghadapi ini. Baru dua jam setelah meninggalnya Rania saja dia sudah di kambing hitamkan oleh Nyoya Flora.
*
*
Berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam juga, Andreas mengantarkan sang istri ke tempat peristirahatan terakhirnya. Andreas juga ikut memikul peti Jenazah Rania bersama dengan orang-orang lainnya. Dia berusaha untuk tegar dan tidak menangis lagi.
Rania pernah berkata dia tidak ingin Andreas menangis saat pemakamannya nanti. Saat membicarakan itu Andreas selalu marah. Karena dia sangat menaruh harapan kesembuhannya. Namun Rania tetap ngotot agar Andreas berjanji untuk tidak menangis. Karena ya kita semua tidak ada yang tahu kapan ajal itu tiba. Rania berkata seperti itu juga bukan tanpa alasan. Sakitnya yang sudah parah membuatnya terus memikirkan hal seperti itu.
Kini semua itu terjadi, Rania benar-benar pergi meninggalkan Andreas. Sekuat hati Andreas menahan air matanya. Dia berusaha menepati janjinya untuk tidak menangis. Karena dia yakin saat ini Rania tengah berada tak jauh darinya dan melihatnya.
Peti di turunkan dan jenazah Rania siap di kebumikan. Saat itu Andreas memperhatikan sekelilingnya. Dia tengah mencari seseorang yang sangat di harapkan kedatangannya oleh Rania sejak kemarin. Yaitu Ayah Candra. Andreas benar-benar merasa kecewa. Bahkan di saat terakhir putrinya, Ayah Candra tidak ada.
Flora menyadari jika Andreas mencari ayah mertuanya. "Maaf nak Andreas, jika tahu ini akan terjadi. Mama pasti akan melarang Ayah Candra untuk tetap berangkat. Sekarang Ayah Candra tidak bisa langsung kembali." Ucap Flora
__ADS_1
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada Rania saja." Balas Andreas dengan nada ketus tanpa menatap Ibu mertuanya.
Pada Akhirnya prosesi pemakaman berjalan dengan lancar meski tanpa kehadiran Ayah Candra. Tangisan Flora dan Jemyma bersautan. Mereka berdua memainkan aktingnya dengan baik.
Zoya berdiri diantara kedua orang tuanya yang turut hadir di sana. Zoya pun menangis tanpa suara. Mengingat semua kebaikan Rania selama ini padanya, dia menanamkan pada hatinya untuk menjalankan semuanya sesuai permintaan Rania.
"Saya akan berusaha menjalani apa yang Bu Rania minta. Meski saya tidak tahu apa yang membuat Bu Rania mencarikan istri Tuan Andreas secepat ini, hingga memilih saya. Semoga Bu Rania di tempatkan di surganya Allah Swt. Amiin." Batin Zoya
Satu persatu pelayat meninggalkan tempat pemakaman. Termasuk Zoya dan kedua orang tuanya. Yang tersisa hanya Andreas yang masih terduduk lemas di sebelah nisan Rania, dan di belakangnya kedua orang tuanya mengusap-usap bahunya menguatkan.
"Andreas ayo kita pulang, Rania sudah tenang disana. Kau tidak boleh terpuruk seperti ini." Ucap Mama Irma
"Mama dan Papa duluan saja. Aku masih ingin di sini." Ucap Andreas
"Hmmm, baiklah mama papa pergi dulu. Kau harus kuat dan tabah." Ucap Papa Barhamantya seraya merangkul Mama Irma untuk pulang.
"Jangan sentuh aku. Aku tidak butuh rasa kasihanmu." Ucap Andreas tanpa melihat wajah Jemyma.
"Mas Andreas aku Jemyma bukan Zoya." Ucap Jemyma
"Ya aku tahu. Pergilah, aku tidak membutuhkan kehadiranmu." Ucap Andreas dengan ketus.
Dengan wajah kesal Jemyma langsung pergi. Dia berjalan cepat seraya sesekali menoleh dengan tatapan tajam pada Andreas. Kesialan pun menghampiri Jemyma. Mantan sekretaris sekaligus adik ipar Andreas itu terpeleset tanah yang licin.
"Aw," Pekik Jemyma dengan keras namun Andreas sama sekali tidak menoleh padanya. Akhirnya dia bangkit sendiri dan bergegas kembali menemui mamanya.
__ADS_1
Flora tersenyum melihat kedatangan Jemyma. Dia mengira Jemyma berhasil membuat Andreas terkesan karena telah mengerti perasaannya.
"Bagaimana sayang, kau berhasil kan?" Tanya Flora dengan penuh ekspresi.
"Berhasil apanya ma. Di ketusin iya. Pakai jatuh segala lagi aku. Jadi super duper BT. Sudahlah ayo kita pulang, aku harus berendam air susu dan bunga tujuh rupa." Ucap Jemyma kesal sendiri. Dia langsung saja menyelonong masuk ke dalam mobil. Karena sudah tidak tahan dengan kotoran tanah yang menempel di celana juga telapak tangannya.
Flora yang tadinya sudah berekspektasi tinggi. Merasa kecewa dengan kenyataannya. Dia menghembuskan nafas kasar dan kemudian menyusul putri kesayangannya masuk ke dalam mobil.
*
*
Andreas terua membelai nisan Rania. Dia masih sulit percaya jika kini cinta pertamanya sudah pergi untuk selamanya. Memori kebersamaannya dengan Rania masih tersimpan rapi di hati juga pikirannya.
Glaaar ...
Guntur terdengar dan saat itu juga hujan turun dengan derasnya. Andreas masih tetap bertahan di sana. Dia tidak bergeser sedikitpun meski air hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Andreas melepas kacamatanya yang sudah sangat basah. Pada akhirnya dia tak lagi kuasa membendung air matanya. Dia berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa menepati janji untuk tidak menangis.
"Maafkan aku Rania, maafkan aku. Bagaimana bisa aku tidak menangis saat wanita yang sangat kucinta telah tiada." Hanya ini yang terucap dari mulut Andreas. Kemudian dia membaringkan kepalanya di atas nissan Rania. Tangisannya tak terlihat karena telah bercampur derasnya air hujan.
Suara gemuruh hujan lebat masih terdengar ole Andreas, namun anehnya dia merasa air hujan tidak lagi menetes padanya. Dia pun bangkit dan membuka mata. Ternyata air hujan terhalang oleh payung yang di pakai Zoya.
"Tuan Andreas hujan semakin deras, mari pulang. Jangan sampai Tuan sakit dan malah membuat Bu Rania bersedih di sana." Ucap Zoya dengan suara pelan. Sebenarnya dia takut melakukan hal ini,
__ADS_1
"Aku tidak butuh nasihatmu. Aku juga tidak butuh payungmu. Jangan pernah berharap lebih dariku." Ucap Andreas yang kemudian beranjak pergi meninggalkan Zoya sendiri di sana.
Zoya pun terdiam tanpa kata melihat Andreas pergi begitu saja. Dia menghela nafas panjang. Kemudian menyusul keluar area makam.