Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 51 // Kehadirannya


__ADS_3

Berbalik dengan kesedihan yang dirasakan oleh Zoya, Flora malah merasa begitu bahagia. Sebentar lagi rencananya akan berhasil untuk menjadikan putrinya sebagai Nyoya Andreas. Namun, entah mengapa Jemyma yang awalnya begitu antusias kini malah merasa bosan.


Jemyma duduk di seberang Flora dengan bibir mengerucut. Ia baru saja pulang dari kediaman orang tua Andreas. Moodnya menjadi tidak baik karena hingga kini Andreas belum tertarik padanya.


"Ada apa sayang? Berjalan lancar bukan," Ujar Flora seraya menaruh majalah keatas meja.


"Berjalan lancar apanya mah." Ucap Jemyma dengan sewot. "Aku capek terus berpura-pura perhatian dengan tante penyakitan itu. Toh juga mas Andreas tidak melirikku sama sekali." Sambungnya dengan menggebu.


"Sabar sayang, semuanya kan butuh proses. Pokoknya kau harus terus datang kesana sesuai arahan mama. Kau harus menjadi istri Andreas." Ucap Flora dengan penuh penekanan. Dia sangat berambisi untuk hal ini.


"Sebenarnya apa sih alasan mama terus mendorongku mendekati mas Andreas? Jika hanya karena kekayaan, Hans juga tidak kalah kaya mah. Lebih baik aku menerima lamaran Frans saja." Ucap Jemyma


Frans adalah kekasih Jemyma yang dulu pernah melamarnya. Sayangnya, Flora tidak merestui mereka. Hubungan mereka harus terputus karena Jemyma patuh kepada ibunya. Namun hingga kini Jemyma dan Frans tetap berkomunikasi dengan baik.


"Sudahlah lakukan saja sesuai arahan mama. Bukankah dari dulu kau sangat menyukai Andreas. Jadi mama akan membuat dia menjadi milikmu." Ucap Flora tanpa berbelit. Padahal sebenarnya alasan utamanya bukanlah itu. Balas dendam lah yang menjadi alasan ia melakukan semua ini. Ia ingin menghancurkan keluarga Himawan. Merebut seluruh kekayaan yang dulu di rebut darinya.


***


Sudah terlalu lama merasakan kegalauan hati, akhirnya Zoya memutuskan untuk mencari pekerjaan untuk mengisi waktu luangnya. Sejak berpisah dari Andreas, dia tak lagi kembali menginjakkan kaki di Butik. Butik itu kini tutup kembali karena tidak ada yang mengelola.


"Kau mau kemana?" Tanya Ezra, kebetulan memang Zoya menginap di apartemen milik Ezra.


"Aku ingin jalan-jalan sembari mencari pekerjaan. Aku tidak bisa berdiam diri begini terus. Masih ada orang tua yang harus aku pikirkan." Jawab Zoya


"Hmmh, tapi bukannya kau masih menyimpan uang dari mantan suamimu itu. Kenapa tidak buka usaha sendiri saja. Misalnya jualan baju atau apa gitu." Ucap Ezra memberikan sebuah masukan untuk Zoya.


Gadis muda yang sudah berstatus janda itupun mulai berpikir. Dia rasa perkataan sahabatnya ada benarnya juga. Ia masih menyimpan cukup banyak uang pemberian Andreas dulu. Tidak ada salahnya menggunakan uang itu sebagai modal usaha.

__ADS_1


"Ide bagus. Tidak ada salahnya aku pergunakan uang ini kan, karena aku mendapatkannya selagi menjadi istri sahnya dulu." Ucap Zoya dengan senyum yang mulai mengembang namun di dalam hati berasa sedikit ganjal. Mengingat kembali nasib pernikahan singkatnya dengan Andreas yang hancur akibat fitnah seseorang.


"Sudah jangan bersedih lagi, ayo aku temani jalan. Sambil mencari ide mau jualan apa." Ucap Ezra memecah kegalauan Zoya yang mulai berselimut kembali.


Ezra mengambil tas dan langsung menggandeng tangan Zoya keluar dari apartemen.


**


Perjalanan Zoya dan Ezra pun terhenti di sebuah event bazar. Mereka berdua cukup antusias melihat banyaknya pedagang di sana. Sambil cuci mata, mereka mencari referensi untuk membuka usaha.


Situasi disana sangat ramai. Ditambah matahari yang cukup terik membuat langkah Ezra dan Zoya melambat. Mereka berdua merasa lelah setelah satu jam lebih berkeliling. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk mampir ke sebuah stand minuman disana.


Shrruuup ...


"Ahh .... segarnya." Ucap keduanya bersamaan.


Cuaca siang itu cukup panas, teriknya matahari tidak mengurangi keantusiasan pengunjung. Ezra pun masih sangat bersemangat. Namun Zoya merasa sedikit lelah. Ia beberapa kali berhenti sejenak. Melihat sahabatnya yang terlihat letih, Ezra pun mengajaknya pulang saja.


"Sepertinya cukup sampai disini saja penjelajahan kita. Aku lihat kau begitu pucat, apa kau merasa sakit?" Tanya Ezra mengkhawatirkan keadaan Zoya yang tiba-tiba terlihat pucat.


"Hmm, kepalaku terasa sedikit pusing. Mungkin karena panas sekali cuaca siang ini. Tapi aku tidak apa-apa kok." Jawab Zoya dengan membubuhkan senyum di akhir kata. Namun beberapa detik kemudian ia jatuh pingsan. Hal itu tentu membuat Ezra panik.


*


*


Samar-samar terlihat atap berwarna putih. Pemandangan pertama yang Zoya lihat ketika membuka mata setelah sadar dari pingsan. Ia melihat sekeliling, baru ia sadari jika saat ini ia sedang dalam ruang perawatan.

__ADS_1


"Syukurlah anda sudah siuman." Ucap Dokter yang memeriksa Zoya sejak tadi.


Mendengar suara Dokter berkata siuman, Ezra langsung beranjak dari tempat duduknya. Ekspresinya sudah tidak panik seperti tadi. Bahkan bisa dikatakan eskpresi Ezra menunjukkan kebahagiaan. Ia terus senyum-senyum saja. Zoya yang melihatnya merasa aneh. Dirinya sedang terbaring lemah tapi sahabatnya malah senyum-senyum tidak jelas.


"Dok saya kenapa?" Tanya Zoya seraya mendudukkan diri. Tentu Ezra langsung membantunya.


"Kau hamil Zoya." Ezra menjawabnya lebih dulu dari dokter. Ia sejak tadi sudah tidak sabar ingin menyampaikan hal itu.


Zoya langsung membelalakan mata merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ezra.


"Benarkah saya hamil dok?" Tanya Zoya memastikan kebenarannya pada dokter.


"Iya, selamat anda hamil." Jawab Dokter.


**


Zoya masih saja belum percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Saking sibuknya memikirkan masalahnya dengan Andreas, ia sampai tidak sadar sudah telat datang bulan. Sampai dokter menyampaikan kabar kehamilannya yang cukup mengejutkan.


Zoya terus saja melihat foto hasil USG miliknya. Didalam rahimnya telah tumbuh janin yang kini berusia 10 minggu. Setelah memandangi foto USG, lagi-lagi Zoya mengusap halus perutnya. Ada darah dagingnya dengan Andreas di dalam rahimnya.


"Kenapa kau hadir di saat situasi seperti ini, papamu mungkin saja tidak akan mengakuimu." Ucap Zoya dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


Ezra datang dari belakang dan langsung mendekap sahabatnya yang terlihat rapuh itu.


"Jangan menangis, kau juga tidak boleh menyalahkan kehadirannya. Dengarkan aku, anak ini adalah jawaban dari doa-doamu. Kau harus kembali bersatu dengan Andreas." Ucap Ezra menyemangati Zoya.


"Kembali bersatu dengan mas Andreas, apakah itu mungkin?" Zoya bergumam. Ia merasa akan sangat sulit mengembalikan hubungannya dengan Andreas.

__ADS_1


__ADS_2