
Suasana di dalam kamar rawat mama Irma hening. Saat ini mama Irma tengah tidur. Sementara Zoya dan Andreas duduk di kursi sofa sibuk dengan diri masing-masing.
Zoya sibuk dengan ponselnya dan Andreas sibuk mencuri pandangan kearahnya. Andreas merasa ingin tahu apa yang dilakukan Zoya dengan ponselnya itu. Sekilas Andreas melihat Zoya sedang chatting dengan seseorang.
"Apakah dia sedang chat dengan Haris?" Andreas bertanya-tanya dalam benaknya.
Tiba-tiba saja Zoya tertawa kecil. Hal itu membuat Andreas semakin penasaran. Apa yang membuat istrinya itu terlihat sangat senang sekali.
"Ekhmm..hmm.." Andreas berdehem. Tapi hal itu tidak membuat Zoya menoleh. Zoya tetap saja asyik sendiri entah sedang chat dengan siapa.
Hingga tiba di saat Zoya pergi ke toilet, ia meninggalkan ponselnya di sofa. Andreas memanfaatkan situasi itu sebaik mungkin. Dia ingin menyudahi rasa penasarannya.
Kini ponsel Zoya sudah ada di tangan Andreas. Terlihat pesan masuk dari kontak bernama HoneyBee. Seketika mata Andreas membelalak. Dari ikon foto kontaknya juga itu sosok laki-laki.
Pesan itu berisi ajakan bertemu untuk jalan-jalan di waktu senggang. Ekspresi Andreas langsung tidak enak. Dia mengendurkan dasi yang melingkar di kerahnya. Rasanya menjadi begitu mencekik. Rahangnya pun terlihat mengetat seakan sedang menahan emosi.
CEKLEK..
Mendengar suara pintu akan terbuka, Andreas buru-buru menaruh ponsel Zoya. Dia mencoba memasang ekspresi seakan tidak tahu apa-apa. Meski sebenarnya api cemburu di hatinya sudah berkobar.
Zoya kembali fokus pada ponselnya. Lagi-lagi dia tersenyum-senyum sendiri. Hal itu membuat Andreas semakin merasa gelisah.
"HoneyBee? Mungkinkah itu Haris?" Andreas bertanya-tanya di dalam benaknya.
TAP..TAP..TAP
Suara langkah kaki memasuki kamar rawat Mama Irma. Itu adalah suara langkah kaki papa Brahmantya.
Melihat papa mertuanya datang, Zoya pun langsung menyimpan ponselnya. Dia berdiri menyambut kedatangannya. Sementara Andreas tetap duduk.
Papa Brahmantya kemudian melihat keadaan istrinya yang terlihat sudah baik-baik saja. Dia merasa begitu lega.
Kemudian papa Brahmantya menyuruh Zoya dan Andreas pulang. Mereka juga harus beristirahat.
Zoya mencium tangan kedua mertuanya sebelum pulang. Begitu juga dengan Andreas yang mencium tangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Andreas berjalan cepat membuat Zoya terpanting-panting mengikutinya. Kemudian saat mengemudi mobil juga kecepatannya cukup tinggi. Hal itu membuat Zoya beberapa kali memejamkan matanya karena takut. Ingin protes tapi dia tidak berani mengatakannya.
"Mas Andreas kenapa lagi sih, dia mau mengajakku bunuh diri apa gimana nih," Zoya merasa cemas dalam batinnya.
CIIITT ..
Andreas mengerem mobilnya secara kasar ketika sampai di tempat parkir. Jika tidak berusaha menahan kepalanya, pasti Zoya sudah membentur dasbor mobil.
"Alhamdulilah aku masih di beri keselamatan." Batin Zoya sembari mengelus dada.
Andreas keluar dari mobil terlebih dahulu. Dia meninggalkan Zoya tanpa sepatah katapun. Zoya segera menyusulnya. Tepat setelah Zoya keluar, Andreas memencet kunci mobilnya.
Langkah Andreas yang lebih panjang membuat Zoya tertinggal jauh. Bahkan kini Andreas sudah berada di dalam lift. Andreas membiarkan pintu lift tertutup begitu saja, padahal terlihat Zoya sedang berlari kecil kearahnya.
TAP..
Pintu lift sudah tertutup rapat. Zoya menghela nafasnya yang sedikit terengah-engah.
"Kenapa tidak menungguku sebentar saja sih? Ternyata aku salah menilainya. Dia tetap saja es batu yang sudah 100 tahun di dalam frezer." Gerutu Zoya sembari menyeka keringat di dahinya.
KLOTAK .. KLOTAK ..
Suara high heels menggema di koridor rumah sakit. Suara itu di ciptakan oleh Jemyma dan mama Flora yang sedang menuju ke kamar rawat mama Irma.
Seperti biasa, mereka datang bukan karena rasa perhatian ataupun rasa kasih sayang. Kedatangan mereka itu hanya untuk cari muka. Terutama Jemyma yang ingin terlihat baik di depan Andreas.
Sejak saat kejadian di rooftop itu, Jemyma dan Andreas belum bertemu kembali.
"Je pokoknya kau nanti harus menangis dan langsung memeluk tante Irma. Ekspresimu harus bagus. Ucap Mama Flora.
"Iya mah, tenang saja aku seorang artis papan atas yang aktingnya tidak diragukan lagi." Ucap Jemyma dengan sangat percaya diri.
"Pokoknya kau harus menggeser posisi gadis kacung itu." Ucap Mama Flora dengan serius.
Sampainya di sana, Jemyma memainkan aktingnya. Dia langsung berlari mendekati mama Irma. Kebetulan mama Irma sedang duduk. Dia langsung memeluknya dan menangis seakan sangat sedih mama Irma masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Aduh Jemyma jangan menangis, tante tidak apa-apa. Tante sudah sehat." Ucap Mama Irma sembari menepuk pelan punggung Jemyma yang tengah memeluknya.
"Syukurlah tante baik-baik saja. Saat mendengar kabar tante sakit rasanya aku sangat sedih. Aku sampai tidak bisa syuting dengan benar." Ucap Jemyma dengan segala bualannya.
"Iya jeng Irma, Jemyma sampai meninggalkan syuting dan mengajak kemari. Dia sangat khawatir." Ucap mama Flora menimpali perkataan putrinya agar lebih meyakinkan.
Mama Irma tersenyum tipis menanggapi itu. Dia cukup terkesan dengan apa yang di lakukan Jemyma.
Sementara Jemyma sedikit kecewa karena Andreas tidak berada di sana. Padahal tujuannya kesana nomor satu agar bertemu Andreas.
"Aduh jeng, menantumu kemana? Masa mertuanya sakit dia tidak menemani. Benar-benar ya anak itu tidak tahu diri." Ucap Flora mencoba menjelekkan Zoya.
"Tidak seperti itu jeng. Zoya baru saja pulang bersama Andreas. Semalam mereka menemani di sini. Zoya gadis yang baik kok. Dia merawatku dengan tulus." Ucap Irma membuat Flora malu sendiri.
"Oh begitu ya jeng, maaf ya aku kira dia tidak kemari." Ucap Flora menutupi rasa kesal dan juga malu.
"Tidak apa-apa jeng. Oh ya semalam mereka berdua tidur bersama loh di kursi itu. Andreas memangku Zoya. Sepertinya mereka sudah saling menerima satu sama lain." Ucap Irma sangat antusuias.
Ekspresi Jemyma seketika berubah. Dia sangat membenci kabar itu. Dia tidak akan membiarkan cinta tumbuh diantara Andreas dan Zoya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Flora. Dia bertekad akan menyingkirkan Zoya dari hidup Andreas. Karena Zoya itu menjadi penghalang dalam rencannya.
"Tidak akan ku biarkan keturunan Himawan bahagia di atas penderitaan keluargaku." Ucap Flora dalam benaknya.
***
Sampai di apartemen Zoya tidak beristirahat melainkan bersih-bersih. Piring-piring bekas kemarin masih ada di bawah tutup saji. Yang membuat Zoya kaget, semua piring isi piring dan mangkuk itu hanya tinggal sedikit. Itu artinya ada yang memakan masakannya kemarin.
Zoya lantas tersenyum. Akhirnya suaminya mau memakan masakannya. Lagipula siapa lagi yang memakannya jika bukan Andreas. Tak ada orang lain di apartemen itu selain dia dan Andreas.
Setelah semua bersih, Zoya pun memasak. Kali ini dia sangat semangat karena suaminya sudah mau memakan masakannya. Selain itu dia juga membuatkan sup untuk mama Irma. Karena katanya mertuanya itu sudah bosan dengan makanan rumah sakit. Tentunya Zoya akan memasakkan menu sehat khusus untuk ibu mertuanya.
Sementara Andreas tengah merebahkan diri di kasur seraya memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Tak lama kemudian dia berganti posisi. Kini dia duduk di tepian kasur menatap tajam satu arah kedepan.
"HoneyBee?" Gumam Andreas seraya tersenyum kecut. "Aku harus mencari tahu siapa dia atau benarkah itu Haris?"
__ADS_1