
Segerombolan anak kecil berlarian kesana-kemari, mengiringi perjalanan Zoya menuju ke rumah orang tuanya. Zoya merasa senang melihat keceriaan anak-anak yang sedang bermain itu. Rasanya dia ingin kembali menjadi seperti mereka yang bebas tanpa beban.
Tak hanya menemui anak-anak, banyak juga ibu-ibu yang sedang merumpi di sore hari yang cerah itu. Zoya menyapa mereka dengan ramah. Mereka juga terlihat tersenyum membalasnya. Namun setelah itu terdengar gunjingan dari mereka tentang Zoya yang menjadi istri kedua.
Zoya pun mempercepat langkahnya. Dia tidak perduli dengan apa yang orang-orang bicarakan tentangnya. Yang penting tindakannya itu tidak merugikan orang-orang yang menggosipkannya.
Akhirnya Zoya sampai di kediaman orang tuanya. Sebelum masuk, dia melihat kearah kontrakan yang dahulu di tinggali oleh Rafli. Biasanya mereka selalu tegur sapa, lalu melambai-lambaikan tangan saat baru pulang kerja ataupun ketika di pagi hari. Tapi kini semua itu hanya kenangan.
"Zoya," Suara dari ibu Aminah membuyarkan lamunan Zoya.
"Ibu.." Zoya langsung berjalan cepat menghampiri ibunya yang berdiri di ambang pintu. Zoya langsung mendaratkan pelukan rindunya pada sang Ibu.
"Aku sangat merindukan Ibu." Ucap Zoya, itulah kata pertama yang selalu terucap ketika pulang ke rumah orang tuanya.
"Ibu juga merindukanmu nak," Balas Ibu Aminah.
"Lalu kau tidak merindukan Ayahmu ini?" Sahut Pak Deri.
"Aaa, rindu dong. Rindu sekali." Ucap Zoya sembari beralih memeluk sang Ayah. Dia seperti anak kecil yang sangat manja dan menggemaskan.
Pak Deri menyambut Zoya dengan pelukan hangat penuh kasih sayang. Zoya memang sering berkunjung, namun ia jarang bertemu sang ayah.
"Sudah, sesi pelukannya cukup." Ucap Zoya dengan senyum unjuk giginya bak anak kecil sungguhan. "Ayo kita masuk. Aku membawa sesuatu, karena ini hari spesial Ibu." Ucap Zoya dengan penuh keceriaan.
"Eh tunggu nak, kau kemari sendirian lagi?" Tanya Bu Aminah yang lagi-lagi tidak melihat menantunya ikut.
"Iya Zoya, suamimu tidak pernah berkunjung kemari sejak setelah kalian menikah. Hubungan kalian baik-baik saja kan?" Sahut Pak Deri menimpali.
"Hmm.. Baik kok baik." Jawab Zoya seraya tersenyum untuk meyakinkan kedua orang tuanya. "Mas Andreas hanya sedang sibuk saja Ibu, Ayah." Sambung Zoya.
"Syukurlah jika baik-baik saja. Ya sudah ayo masuk." Ucap Pak Deri.
Baru satu langkah memasuki rumah. Terdengar suara salam. Suaranya sangat tidak asing bagi Zoya. Lantas mereka bertiga menjawab salam dan mengurungkan niat masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sangat panjang umur, baru di bicarakan orangnya sudah muncul. Ya, Andreas lah yang datang. Andreas langsung mencium tangan kedua mertuanya secara bergantian.
"Ibu, Ayah saya minta maaf karena saya tidak pernah menemani Zoya datang kemari." Ucap Andreas
"Tidak apa-apa nak Andreas. Kami paham kok, nak Andreas kan pasti banyak sekali pekerjaan." Ucap Ibu Aminah, sementara pak Deri hanya mengangguk-angguk saja.
Zoya malah diam terpaku melihat kedatangan suaminya. Dia merasa tidak percaya jika pria yang tengah tersenyum ramah di hadapannya ini adalah Andreas, suaminya.
"Zoya, ajak suamimu masuk ke dalam. Kok malah bengong aja." Ucap Bu Aminah seraya menepuk pelan bahu putrinya.
"Ah iya Ibu. Mari masuk mas." Ajak Zoya seraya tersenyum sekilas pada Andreas.
Saat mereka semua sudah masuk ke dalam, ada tamu lagi yang datang. Bukan hanya satu orang tapi ada sekitar enam orang yang membawa kue dan makanan lainnya yang jumlahnya cukup banyak.
"Permisi, apakah ini benar rumah bapak Deri dan Ibu Aminah? Kami dari Delicious Resto ingin mengantarkan pesanan." Ucap salah satu orang berseragam hitam merah itu.
"Iya benar, silahkan di bawa masuk semuanya ya." Ucap Andreas pada orang yang mengantarkan pesanannya.
"Mas ini banyak sekali untuk apa?" Tanya Zoya dengan ekspresi keterkejutannya. Sementara kedua orang tuanya sibuk mengarahkan untuk menempatkan semua makanan itu.
"Bukankah kau bilang akan merayakan acara ulang tahun Ibu, jadi aku pesan ini semua." Jawab Andreas dengan santainya.
"Tapi mas ini kayanya berlebihan deh," Ucap Zoya merasa tidak enak.
"Tidak ada yang berlebihan untuk keluarga istriku." Ucap Andreas seraya berlalu menghampiri orang dari restoran yang akan menyerahkan tanda terima.
"Haa?" Zoya terperanjat mendengar perkataan yang keluar dari mulut Andreas. Zoya menggelengkan kepalanya dan menepuki pipinya secara bergantian. Rasanya sakit, berarti ini bukan mimpi.
"Es batu seratus tahun dalam frezer sepertinya terkena badai matahari." Gumam Zoya yang memperumpamakan sikap Andreas saat ini.
__ADS_1
Pipinya seketika memerah. Dia menjadi salah tingkah dan tersenyum sendiri. Namun saat Andreas menatapnya, dia langsung terburu-buru memalingkan wajah. Dia tidak mau sampai Andreas melihat pipinya yang merona itu.
Makanan yang di pesan oleh Andreas memenuhi seisi ruang tamu kediaman orang tua Zoya. Saat ini mereka pun jadi bingung, makanan sebanyak itu tidak mungkin di habiskan hanya berempat.
"Nak Andreas, Ibu sangat berterimakasih untuk semua ini. Tapi ini terlalu banyak." Ucap Ibu Aminah.
"Hmm, bagaimana jika di bagikan kepada tetangga saja?" Usul Zoya. Andreas pun mengangguk setuju. Begitu juga dengan Ibu Aminah dan Pak Deri.
Akhirnya acara yang tadinya hanya ingim privat sekeluarga saja. Kini menjadi ramai. Berbagi kebahagiaan itu sangatlah indah. Para tetangga pun turut mendoakan yang baik-baik untuk Ibu Aminah sekeluarga. Banyak juga yang mendoakan agar Zoya cepat hamil. Karena kabar pernikahan Zoya sudah tersebar sejak lama di lingkungannya.
Anak-anak kecil pun turut meramaikan rumah Zoya. Mereka tengah berbaris antri untuk mendapatkan kue, yang tengah di potong oleh Zoya. Namanya juga anak kecil, ada saja yang berebut minta di dahulukan hingga menangis. Zoya dengan sisi keibuannya yang lembut langsung menenangkan mereka. Hingga akhirnya kedua anak kecil itu tidak bertengkar lagi dan berhenti menangis.
Andreas tersenyum melihat itu. Dia berpikir jika memang Almarhumah Rania tidak salah memilihkannya pendamping. Meski usia Zoya masih cukup muda, dia sudah cukup matang dalam segala hal.
Usai selesai dengan urusan kue. Zoya berbincang dengan tetangganya yang juga teman sekolahnya dulu. Teman Zoya itu baru saja memiliki anak. Baru berusia sekitar tiga bulan. Zoya merasa sangat gemas dan ingin menggendongnya. Beruntung, temannya mengizinkannya. Zoya pun sangat senang. Dia mengambil alih bayi menggemaskan itu dan menyuruh temannya menikmati makanan dengan leluasa.
"Aduh,, duh.. gemesin sekali. Bayi capa ini, hmm.." Timang Zoya seraya sesekali menciumnya.
Hal itu membuat Andreas sangat tertarik. Dia mendekati Zoya dan membelai bayi dalam gendongan Zoya itu.
"Mas Andreas mau menggendongnya?" Zoya menawarkannya, karena dia tahu suaminya itu sudah lama menginginkan anak, tapi karena Rania sakit semua itu tidak bisa terwujud.
"Tidak, aku tidak lihai sepertimu. Aku hanya ingin melihatnya saja." Ucap Andreas seraya terus memegangi tangan mungil bayi menggemaskan itu.
Zoya dan Andreas saat ini terlihat seperti Ibu dan Ayah yang mengurus bayinya sendiri. Pemandangan yang sangat indah.
CEKREK ..
Terdengar suara kamera yang memotret mereka berdua. Hal itu di lakukan oleh Ezra tanpa sepengetahuan mereka berdua.
"Ekhmm.. Ekhmm.." Ezra berdehem seraya tersenyum melihat Zoya dan Andreas yang bak keluarga cemara itu. Seketika Andreas pun sedikit menjauh dari Zoya.
"Kenapa ekspresinya kayak orang ke gep gitu sih?" Ezra cukup terkekeh melihat ekspresi mereka, terutama Andreas.
__ADS_1
"Kalian itu sudah sangat cocok sekali. Tunggu apa lagi? Bikin gih satu atau yang kembar juga tidak apa-apa." Celetuk Ezra dengan beraninya.
"Ezra!" Pekik Zoya seraya melotot pada Ezra. Sementara Andreas malah tersipu dan menahan ekspresi agar tidak terlihat salah tingkah.