
Dengan segala kehebohannya, Ezra datang dengan tentengan paperbag berisi oleh-oleh untuk Zoya. Sahabat karib Zoya itu langsung memeluknya dan berkata sangat rindu.
"Bohong ah jika kau merindukanku. Kau kan habis bersenang-senang dengan kekasihmu. Rasanya tidak mungkin kau sempat memikirkanku." Ucap Zoya seraya tertawa.
"Ishh, tapi perkataanmu benar sekali." Ucap Ezra sembari tertawa. "Eh tapi aku membawakan oleh-oleh untukmu." Ucap Ezra lagi sembari memberikan paper bag kepada Zoya.
"Uwaah.. coat ini bagus sekali. Thank you my best friend." Ucap Zoya merasa senang mendapatkan oleh-oleh.
Lalu mereka memesan makanan juga minuman di sana. Disela menunggu pesanan datang, mereka melanjutkan obrolan. Ezra bercerita keseruan dan keromantisannya berlibur bersama kekasihnya di Eropa.
"Kau harus kesana suatu hari nanti bersama suamimu." Ujar Ezra.
Zoya tersenyum getir menanggapi ucapan sahabatnya itu. "Itu mustahil untuk di lakukan. Kau tahu kan sampai detik ini saja pernikahanku hanyalah sebuah status saja." Ucap Zoya.
"Hemm, iya juga. Apalagi dari berita yang tersebar suamimu itu ada hubungan dengan adik iparnya ya," Ujar Ezra.
Zoya menghela nafas panjang. Dia tidak tahu harus menanggapi apa tentang hal itu. Karena dia sendiri tidak tahu bagaimana kebenarannya.
"Tapi kau sendiri bagaimana? Apakah kau sudah mencintai suamimu?" Tanya Ezra dengan ekspresi sangat penasaran.
"Emm untuk saat ini aku belum tahu." Jawab Zoya sembari mengangkat kedua bahunya.
Mendengar perkataan Zoya itu Andreas merasa sesuatu mengganjal di hatinya. Pantas lah jika Zoya masih belum mencintainya. Sikapnya saja sama sekali tidak membuat Zoya nyaman. Bahkan setelah beberapa kali adegan romantis terjadi antara mereka, sepertinya tidak menggetarkan hati Zoya.
"Investigasi selesai." Ucap Andreas seraya pergi melangkah mendahului Yuda.
Yuda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan atasannya. Perasaan mereka belum melakukan apa-apa tapi sudah selesai saja.
Merasa hatinya tidak tenang, Andreas pun pergi ke makam Rania. Karena di sana dia dapat mencurahkan segala isi hatinya. Dia juga akan memberitahu bahwa saat ini rasa cinta untuk Zoya sudah tumbuh di hatinya.
Seperti biasa, Andreas membawa buket dan juga bunga tabur yang akan mengharumkan makam Rania.
Andreas menumpahkan seluruh isi hatinya saat setelah usai membaca doa. Andreas masih saja menganggap jika Rania masih ada di hadapannya.
"Rania, aku sudah mencintai Zoya seperti keinginanmu. Tapi aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku harap kau tenang di sana." Ucap Andreas seraya mengusap batu nisan Rania.
****
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul lima sore. Kini memasak menjadi rutinitas Zoya di pagi dan sore hari. Zoya sangat senang karena suaminya mau memakan masakannya.
Masakan sudah terhidang semua, apartemen sudah bersih dan dia juga sudah mandi. Kini hanya tinggal menunggu Andreas pulang.
"Huff, nonton tv aja deh daripada bingung mau ngapain." Gumam Zoya seraya menyalakan tv yang ada di ruang tengah apartemennya.
Saat tv menyala ponsel Zoya ikut berdering juga. Tertulis nama HoneyBee yang tidak lain tidak bukan adalah Ezra.
"Halo Ezra, apa kau sudah merindukanku lagi?" Ujar Zoya dengan gelak tawanya.
"Yee.. Kau ini pd sekali. Mendengar gema suara keceriaanmu sepertinya kau sudah tahu tentang berita yang beredar." Ucap Ezra dari sebrang.
"Berita apa memangnya?" Tanya Zoya merasa penasaran.
"Astaga, ini di internet rame loh. Mungkin di infotaiment tv juga ada. Ini tentang suamimu." Ucap Ezra, membuat Zoya semakin penasaran.
Bertepatan dengan itu televisi menayangkan pernyataan yang di ucapkan oleh Andreas saat wawancara tadi.
"Ezra apakah ini nyata?" Tanya Zoya merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya di layar televisi.
Zoya menepuk-nepuk pipinya secara bergantian. Rasanya sakit itu artinya dia tidak bermimpi. Namun beberapa detik kemudian perasaan Zoya menjadi semakin galau. Lebih galau dari sebelumnya.
"Kau kenapa kok raut wajahmu tiba-tiba berubah?" Tanya Ezra yang melihat jelas wajah Zoya, karena mereka sedang melakukan panggilan video.
"Bagaimana jika ternyata ini hanyalah sebagai alat untuk menutupi isu miring mereka. Secara mereka berdua itu orang penting." Ujar Zoya yang tidak bisa percaya begitu saja.
"Iya juga ya, tapi tidak menutup kemungkinan jika ini kenyataannya. Kau harus memastikannya. Sudah dulu ya daah." Ucap Ezra memberikan saran yang tepat. Lalu telefon terputus.
Zoya kembali menaruh handphonenya di meja. Di layar televisi masih menayangkan berita tentang Andreas. Zoya masih merasa tidak yakin jika yang di maksud adalah dirinya.
DRRRTT ....
Lagi-lagi handphone Zoya berbunyi. Dia pikir itu dari Ezra lagi, namun ternyata bukan. Itu adalah telefon masuk dari Haris.
"Halo Zoya, aku ada di lobi apartemenmu. Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan penting." Ucap Haris yang kemudian langsung menutup telefonnya.
Mau tidak mau terpaksa Zoya harus menemuinya. Zoya bergegas keluar dari apartemennya. Langkahnya terhenti saat melewati unit apartemen yang di tinggali oleh Rafli. Sudah cukup lama Zoya tak lagi berpapasan dengan mantan kekasihnya itu. Dia bertanya-tanya sendiri, mungkinkah Rafli pindah dari sana?
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Zoya kembali melanjutkan langkahnya menuju lobi. Dia memasuki lift untuk turun ke lobi.
TING ..
Pintu lift terbuka, kini Zoya telah sampai di lobi. Dengan jelas dapat dia lihat Haris duduk di salah satu sofa yang ada di lobi. Di samping Haris terlihat bucket bunga warna merah.
Haris langsung berdiri ketika melihat Zoya datang. Dia juga mengukir senyuman semanis mungkin.
"Hai Zoya, maaf sebelumnya jika aku menganggumu." Ucap Haris.
"Tidak apa-apa. Kak Haris mau bicara penting apa ya?" Tanya Zoya to the point.
Tiba-tiba saja Haris meraih kedua tangan Zoya. Yang di takutkan oleh Andreas terjadi hari ini. Haris menyatakan perasaannya pada Zoya.
"Aku menyukaimu Zoya. Maukah kau menjadi istriku?"
Seketika itu Zoya melepaskan tangannya dari genggaman Haris. Zoya cukup kaget dengan pernyataan Haris itu. Dia tidak menyangka Haris menaruh hati padanya.
"Kak maaf saya tidak bisa." Ucap Zoya seraya menggelengkan kepalanya.
"Oke, mungkin sekarang kau belum punya perasaan padaku. Mari kita berkencan selama satu bulan kedepan, jika kau tetap tidak menyukaiku aku akan mundur." Ucap Haris melakukan penawaran.
"Tetap tidak bisa kak, karena saya sudah bersuami." Ucap Zoya dengan lantang. Dia terpaksa harus membongkar statusnya. Hal itu sangat membuat Haris terkejut.
"Jadi kau sudah menikah?" Tanya Haris kembali memastikannya.
Zoya mengangguk. "Maaf jika selama ini saya tidak memberitahu. Saya juga tidak bermaksud mempermainkan perasaan kak Haris." Ucap Zoya merasa bersalah. Sebelum Haris bertanya lebih jauh mengenai siapa suaminya, Zoya pamit pergi. "Sekali lagi saya minta maaf, saya permisi."
Haris terdiam membisu tidak percaya dengan ini semua. Dia merasa sudah gila karena melamar wanita yang ternyata sudah menikah. Salahnya sendiri juga karena dari awal tidak pernah tanya soal status Zoya.
Haris pun berjalan keluar seraya membawa bucket bunganya. Dia menatap sejenak bucket itu dan memutuskan untuk menaruhnya di tangga luar apartemen.
Saat setelah Haris pergi dengan mobilnya, Andreas keluar dari persembunyiannya. Ya, Andreas menyaksikan semuanya dari awal. Dia cukup senang karena Zoya menolak lamaran Haris. Kekhawatirannya kini sudah tidak berlaku lagi.
"Aku harus bertindak cepat, sebelum ada pria semacam haris lagi." Gumam Andreas.
__ADS_1