
"Hanya untuk sebuah bucket bunga dia sampai seperti itu. Ternyata semudah itu dia melupakan semuanya." Gumam Rafli seraya tersenyum getir.
Saat ini dia tengah melihat album foto kenangannya bersama Zoya yang masih tersimpan rapi. Sejujurnya di lubuk hati yang paling dalam, Rafli masih mencintai Zoya. Tidak mudah baginya melupakan Zoya.
Kehadiran Bianca dalam hidupnya pun, tidak bisa membuatnya move on dari Zoya. Bayang-bayangnya masih selalu melekat di hati.
DUG .. BLAM ..
Bianca menutup pintu mobil dengan sangat keras. Terlihat sekali raut wajah muramnya. Entah apa yang sedang terjadi. Yang pasti hal pertama yang Rafli lakukan adalah menyimpan ponselnya di saku.
"Dasar sialan! Ihhh, bikin BT!" Bianca mengomel sendiri.
"Ada apa sih?" Tanya Rafli dengan raut wajah biasa saja.
"Tuh liat kesana, ada nenek tua baju rombengan. Tadi dia megang-megang aku." Jawab Bianca dengan raut wajah kesalnya.
"Terus apa masalahnya? Aku lihat tidak ada yang berkurang darimu." Ujar Rafli merasa heran dengan Bianca yang selalu saja membesar-besarkan masalah.
"Masalahnya tangannya itu kotor, pasti banyak kumannya. Aku baru saja selesai perawatan mahal." Ucap Bianca seraya terus mengusap tangannya dengan tisu basah.
Nenek tua yang memegang Bianca itu sebenarnya hanya ingin mengembalikan dompetnya yang terjatuh. Saat ini terlihat nenek itu bersedih karena di bentak habis-habisan oleh Bianca.
Tanpa berkata-kata lagi Rafli turun dari mobil. Dia pergi menghampiri nenek itu dan meminta maaf atas nama Bianca.
"Kau itu apa-apaan sih, malah menghampirinya." Ucap Bianca dengan raut wajah kesal saat Rafli sudah kembali.
"Nenek itu hanya berniat membantumu. Seharusnya kau tidak perlu sekesal itu sampai membentaknya. Bagaimanpun dia lebih tua darimu." Ucap Rafli menasehati Bianca.
Bianca malah menye-menye dan membuang pandangan dari Rafli. Dia merasa tidak suka di nasehati seperti itu. Karena baginya yang di lakukan itu sudah benar.
Rafli sangat menyadari jika dia salah menilai Bianca selama ini. Saat awal kenal dulu, dia pikir Bianca dapat menjadi pengganti Zoya. Tapi melihat sifatnya sekarang, dia berbeda sembilan puluh derajat dari Zoya. Bianca memang cantik rupanya namun tidak dengan hatinya.
Tapi karena Bianca adalah keponakan dari orang yang sudah membuat Rafli seperti sekarang, tidak mungkin bagi Rafli untuk menghindarinya.
***
__ADS_1
Di ruang tengah apartemennya, Zoya tengah mengobati lukanya. Tiba-tiba saja Andreas datang mengambil alih kotak obatnya.
"Sini biar aku bantu." Ucap Andreas.
Andreas langsung meraih tangan Zoya dan mengobati bagian lukanya. Andreas melakukannya dengan perlahan. Sesekali dia juga meniupinya agar Zoya tidak merasa sakit.
Zoya terdiam merasa terpukau dengan sikap Andreas yang semakin hari semakin manis. Dia jadi tersenyum-senyum sendiri menatapnya.
"Apa masih ada luka lainnya?" Tanya Andreas.
"Ha, apa mas?" Zoya malah balik bertanya. Karena sejak tadi dia hanya fokus menatap Andreas dan hanyut dalam lamunan.
Andreas memberikan tatapan dalam. "Apa sejak tadi kau hanya menatapku?" Tanya Andreas yang membuat jantung Zoya berdegup kencang. Apalagi dia bertanya dengan jarak wajah yang sangat dekat.
"E e iya." Jawab Zoya seraya menjauh dan mengalihkan pandangan dari Andreas. "Maksudnya melihat untuk memastikan yang mas obati itu benar." Sambung Zoya yang kini merasa salah tingkah. Secepatnya Zoya beranjak dari tempat duduknya.
"Saya akan ke dapur, memasak untuk makan malam." Ucap Zoya seraya beranjak.
GREP..
"Tanganmu masih sakit. Biar aku pesan makanan dari luar saja." Ucap Andreas lagi-lagi dengan jarak yang sangat dekat. Tatapannya yang teduh membuat jantung Zoya serasa akan meledak.
Seraya menelan saliva perlahan, Zoya mengangguk mengiyakan suaminya itu.
Tadinya Andreas sengaja membatalkan pertemuan pentingnya untuk mengajak Zoya dinner. Tapi semua itu gagal akibat ulah Jemyma yang melukai Zoya.
Suasana apartemen yang di huni pasangan suami istri itu kembali hening. Seraya menunggu kurir makanan datang, mereka berdua tidak tahu harus mengobrolkan apa. Mereka duduk di kursi yang sama. Namun kini sedikit berjarak. Tak jarang mereka saling bertemu pandang dan kemudian mengalihkan pandangan lagi ke ponsel masing-masing.
"Ehhmm.." Mereka berdua secara bersamaan ingin membuka obrolan.
"Em mas Andreas dulu saja," Ucap Zoya.
"Kau saja. Ladys first." Ucap Andreas memberikan kesempatan untuk Zoya berbicara lebih dulu.
"Hmm, pertanyaan saya tidak begitu penting. Mas Andreas saja." Ucap Zoya. Karena memang dia hanya ingin bertanya mengapa Andreas pulang cepat. Padahal tadi dia berkata akan pulang larut malam.
__ADS_1
Sebelum melontarkan pertanyaan yang sangat penting baginya, Andreas menghela nafas panjang. Kemudian dia menatap dengan serius mata Zoya.
"Bagaimana perasaanmu padaku?" Tanya Andreas.
"Hah.." Zoya terperanjat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Andreas. Baru saja detak jantungnya normal, kini sudah berdebar kencang lagi.
"Perasaan saya, e .. Saya.." Ucapan Zoya terus terbata-bata karena dia bingung. Jujur saja hatinya merasakan getaran saat berdekatan dengan Andreas. Tapi hal itu sungguh sulit ia katakan.
TING TUNG
Suara bel pintu berbunyi, sepertinya makanan pesanan Andreas sudah sampai. Zoya pun bergegas mengambilnya. Pada akhirnya pertanyaan seputar perasaan tertunda di jawab oleh Zoya. Karena mereka memutuskan untuk makan.
Di sela makan, otak Zoya juga tengah bekerja keras memikirkan jawaban untuk pertanyaan Andreas. Dia harus menyusun kata yang tepat agar tidak terjadi kesalah pahaman. Karena Zoya yakin seusai makan, Andreas pasti akan menagih jawabannya.
Benar saja, saat sudah beres makan malam Andreas kembali membuka obrolan seputar perasaan.
"Bisa kan kita lanjutkan obrolan yang tadi." Pinta Andreas.
Zoya hanya mengangguk dan tersenyum sekilas. Dia sudah mempersiapkan jawabannya dengan matang.
"Saya juga sama seperti mas Andreas." Jawab Zoya simpel diiringi dengan senyum. Raut wajahnya terlihat malu-malu kucing.
Bukan tanpa alasan Zoya hanya berkata sama, tidak menyebut suka juga atau cinta juga. Hal itu karena Andreas sendiri belum pernah menyatakan cinta secara langsung.
Namun begitu saja sudah memuaskan untuk Andreas. Dia senang mengetahui cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Andreas tak lagi bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Dia tersenyum malu-malu sampai mengalihkan pandangan dari hadapan Zoya.
"Kalau begitu besok kita temui mama untuk mempersiapkan acara pernikahan sebagaimana mestinya." Ucap Andreas.
Zoya mengangguk seraya tersenyum. Tapi dalam hatinya mendadak kembali merasakan kegundahan.
Keharmonisan rumah tangganya ini, tidak di sukai oleh Jemyma dan Flora. Dia teringat saat seusai akad nikah dulu Flora membisikinya kata perang yang di mulai. Zoya masih bisa bernafas tenang karena hingga kini belum ada tindakan apapun dari Flora. Tapi mengingat apa yang di lakukan Jemyma padanya tadi, rasanya ngeri membayangkan jika Flora sudah bertindak. Pastinya ibu dari Jemyma itu bisa melakukan hal yang lebih padanya.
"Kau kenapa, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat? Apa ada masalah?" Tanya Andreas yang begitu pekanya dengan ekspresi raut wajah Zoya.
"Tidak kok mas, saya tidak memikirkan apapun." Jawab Zoya seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mencoba bersikap seakan semua baik-baik saja. Dia tidak mau membicarakan tentang Flora pada Andreas. Karena dia tidak mau hubungan mereka memburuk. Bagaimanapun Flora pernah menjadi mertua Andreas. Jadi sebisa mungkin Zoya menjaganya.
__ADS_1