
Di sebuah gedung hotel, Rafli tengah duduk sendiri. Dia sedang menunggu seseorang yang akan memesan jasa Event Organizernya. Ya, kini Rafli menjadi pengelola sebuah EO ternama. Pekerjaan itu ia dapatkan dari pengusaha kaya yang pernah ia tolong dari perampokan. Orang itu tidak lain adalah paman dari Bianca.
Lima belas menit menunggu, akhirnya kliennya datang. Mereka akan membahas masalah dekorasi acara yang akan di laksanakan.
"Pokoknya saya ingin dekorasinya itu penuh balon. Karena putri saya itu suka sekali dengan balon. Lalu di beri bintang-bintang begitu bisa ya?" Klien mulai berdiskusi dengan Rafli.
"Oh bisa pak, tentu. Mari, bisa bapak tunjukkan detailnya posisinya seperti apa yang di inginkan." Ucap Rafli mengajak kliennya mengelilingi seluruh sudut ruangan yang akan di dekor itu.
Rafli meninghalkan handphonennya di atas meja. Di saat tengah sibuk berinteraksi dengan klien, seorang OB masuk kesana. Awalnya OB itu hanya melakukan pekerjaannya. Bersih-bersih area itu. Namun kemudian, OB itu mengambil handphone Rafli. Kebetulan sekali, handphone milik Rafli tidak terkunci. OB itu dengan mudah mengaksesnya. Entah apa yang di lakukannya. OB itu mengembalikan handphone di tempat semula lalu pergi.
Sementara itu, di lokasi syutingnya Jemyma tengah di touch up riasannya oleh asisten pribadinya.
Triiing ..
Handphonenya berdering. Dia pun menyuruh sang asisten menyudahi meriasnya dan mengambilkan handphone miliknya.
"Sudah beres semuanya mbak. Saya sudah melakukan sesuai instruksi yang mbak katakan." Suara seorang pria yang menelefon Jemyma.
"Bagus, nanti aku kasih bonus. Tapi kau sudah pastikan tidak ada cctv di sana kan?"
"Tenang mbak saya sudah mematikan cctv di area itu. Aman terkendali."
"Oke, nanti aku transfer."
Jemyma tersenyum bahagia. Dia tahu saat ini Zoya tengah berusaha menyelesaikan masalah ini. Tapi dia tidak akan membiarkan kehidupan Zoya tentram begitu saja.
"Lihat saja kacung sialan, usahamu akan sia-sia. Hanya kebencian yang pantas kau dapatkan." Gumam Jemyma merasa sangat senang.
***
Di kediamannya Irma sedang duduk santai, dia menikmati secangkir teh hangat sembari memainkan handphonenya. Diam-diam Irma masih mengulik berita seputar sahabatnya yang meninggal mendadak itu. Rasanya kronologi kematiannya terasa janggal. Terungkapnya tentang kasusnya pun rasanya begitu aneh. Seperti ada seseorang yang sudah menyusun rencana. Bisa di katakan masih ada sesuatu hal besar di balik kejadian itu. Menurutnya masih ada puncak penadah uang jarahan arisan itu.
Saat berpikir keras menelaah semuanya, ada pesan masuk dari nomor yang tidak di kenali. Irma pun langsung membuka pesan itu.
Seketika matanya membuka lebar. Gambar serta kata-kata menohok yang ada dalam pesan itu membuat dada Irma sesak. Ternyata menantu yang selama ini dianggapnya baik, tidak seperti yang dikiranya.
__ADS_1
'Saya Rafli, kekasih Zoya dan kami masih saling mencintai inilah buktinya. (Foto mesra berdua seperti yang di terima Andreas saat itu)
Tapi tidak apa-apa, saya masih membiarkan Zoya bersama putra anda. Karena mungkin saja anak saya akan lahir di tengah keluarga kalian. Kelak saya akan mengambil kembali apa yang menjadi milik saya dari putra anda. Karena putra anda tidak pantas bahagia.'
Dada Mama Irma terasa sesak membaca itu. Kepalanya tiba-tiba pusing dan handphone yang semula di genggamnya seketika terjatuh. Tubuh mama Irma pun tergeletak tak berdaya di lantai.
"Mama!" Seru Andreas dengan suara keras seraya berlari. Dia pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal tapi malah melihat hal seperti itu.
Andreas langsung memangku mamanya. Dia mencoba menyadarkan mamanya. Kemudian papa Brahmantya datang dengan kepanikannya.
"Andreas mama kenapa? Ayo segera kita bawa ke rumah sakit. Papa takut mama kenapa-kenapa." Ucap Papa Brahmantya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Andreas langsung menggendong mamanya menuju mobil. Mereka pun menuju ke rumah sakit terdekat.
***
Sampainya di rumah sakit mama Irma langsung di tangani oleh dokter. Kondisinya begitu mencemaskan. Mama Irma mengalami serangan jantung. Lagi-lagi mama Irma harus di rawat di rumah sakit. Untuk saat ini mama Irma belum sadarkan diri. Dokter mengatakan semoga saja tidak terjadi kondisi yang serius akibat serangan jantung itu.
Andreas jadi menunda meeting pentingnya. Dia menunggui mamanya di ruangan rawatnya. Andreas terus memegangi tangan mamanya berharap ia akan segera sadarkan diri.
"Andreas handphonemu berbunyi sejak tadi. Angkatlah dulu, siapa tau itu penting." Ucap Brahmantya.
Andreas pun beranjak dari tempat duduknya seraya merogoh handphone di dalam kantong jasnya. Tertera nama Zoya di layar handphone. Andreas cukup malas untuk menjawabnya, tapi bagaimanapun Zoya masih istrinya.
"Aku keluar dulu pah." Ucap Andreas seraya mengisyaratkan akan menjawab telepon.
Di luar ruangan rawat mamanya, Andreas menjawab telepon dari Zoya. Seperti biasa ekspresinya datar.
"Halo mas Andreas, mas ada di kantor kan? Saya menuju ke sana. Ada hal penting yang ingin Saya sampaikan. Saya sudah bisa membuktikan jika foto itu hanyalah editan." Ucap Zoya dalam sambungan telepon. Ia langsung to the point menjelaskan semuanya.
"Aku di rumah sakit sekarang. Kita bertemu di rumah saja." Ucap Andreas seraya langsung mematikan telepon begitu saja. Hal itu tentu saja membuat Zoya bertanya-tanya siapa yang sedang sakit.
Di dalam mobil yang sedang di tumpangi, Zoya bergeming dengan ekspresi penuh kekhawatirannya. Dia jadi takut jika telah terjadi sesuatu pada suaminya sehingga harus ke rumah sakit.
"Kenapa beb? Apa suamimu menolak untuk bertemu?" Tanya Ezra yang duduk di sebelah kursi kemudi. Dia menoleh ke arah belakang menatap Zoya.
__ADS_1
"Ehmm tidak. Aku hanya khawatir soalnya mas Andreas bilang dia ada di rumah sakit." Jawab Zoya.
"Jadi kita ke rumah sakit ini sekarang?" Tanya Toni yang duduk di kursi kemudi.
"Tidak, tidak. Mas Andreas mau bertemu di rumah saja. Alamatnya Jl. delima, perumahan permata indah blok C no 13." Jawab Zoya.
Mobil yang mereka tumpangi pun putar balik untuk menuju alamat itu. Sayangnya di jam makan siang itu jalanan begitu macet. Apalagi Toni salah memilih jalan. Mereka melewati jalan yang notabene selalu di padati kendaraan yang berakibat kemacetan parah. Jadinya perjalanan mereka memakan waktu lebih lama.
Sepanjang jalan Zoya terus merasa gelisah. Selain ingin segera mengungkap kebenaran, Zoya juga ingin tahu apa yang terjadi. Tepatnya siapa yang di larikan ke rumah sakit.
Pada akhirnya mereka sampai juga di kediaman Brahmantya yang megah itu. Saat sampai di sana, terlihat mobil Andreas sudah terparkir. Tandanya Andreas sudah sampai dan menunggu di dalam.
"Wah Zoya, amalan apa sebenarnya yang kau lakukan sampai bisa menjadi menantu dari keluarga sekaya-raya ini." Ucap Ezra yang merasa takjub dengan rumah yang bak istana itu.
"Itu tidak penting Ezra, yang terpenting sekarang kita masuk dulu. Aku harus segera meluruskan segala permasalahan ini." Ucap Zoya seraya menggandeng tangan Ezra untuk masuk ke dalam. Zoya juga berisyarat pada Toni untuk ikut masuk.
Sampainya di dalam terlihat Andreas sudah duduk menunggu kedatangan Zoya. Dia beranjak berdiri saat melihat Zoya datang. Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
"Mas, maaf lama menunggu halamannya macet banget." Ucap Zoya seraya meraih tangan Andreas untuk dicium punggung tangannya.
Kali ini Andreas tidak menolak karena ada teman-teman Zoya di sana. Meski marah, Andreas tidak ingin memperlihatkan amarahnya di depan orang lain. Tapi kemudian tanpa basa-basi, Andreas menarik Zoya masuk ke dalam. Ezra ingin mengikuti sahabatnya yang ditarik dengan paksa itu, tapi di cegah oleh Toni.
"Jangan ganggu mereka dulu. tugas kita di sini hanya untuk membantu menjelaskan tentang foto itu." Ucap Toni.
.
.
"Mas lepaskan tangan saya, sakit mas." Rintih Zoya saat sudah berada di halaman belakang.
Andreas menghempaskan tangan Zoya hingga membuatnya terjatuh. Tapi sedikitpun tidak ada rasa kasihan dalam diri Andreas untuk Zoya. Karena saat ini amarah menguasai dirinya.
"Mas jangan marah dulu. Bukankah saya sudah bilang jika hari ini akan meluruskan semuanya." Ucap Zoya seraya mencoba berdiri.
"Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan. Aku rasa hubungan kita tidak bisa di lanjutkan lagi." Ucap Andreas.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Andreas mengatakan hal seperti itu. Tadinya dia ingin percaya pada Zoya jika foto itu hanyalah editan dan meminta maaf padanya. Tapi ketika sampai di rumah dia melihat pesan dari Rafli di ponsel mamanya. Dia yakin hal itulah yang menjadi penyebab mamanya drop lagi.