Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 36 // Satu kamar


__ADS_3

Suara dari televisi memenuhi seisi ruang tengah apartemen. Sementara Zoya malah tertidur di sandaran Andreas. Padahal belum lama tawanya masih terdengar.


Ya, mereka memutuskan untuk menonton film setelah usai mengobrol tadi. Tapi sebelum film selesai, Zoya malah sudah ambruk dulu. Andreas melirik dan melihat sang istri sudah terlelap.


Andreas pun berpikir untuk memindahkan Zoya ke kamar saja. Karena tidak mungkin membiarkannya tidur dengan posisi ini sampai besok pagi. Namun saat akan di gendong, Zoya terbangun.


"Emmh.. Maaf mas saya malah ketiduran. Filmnya sudah selesai ya," Ucap Zoya kelabakan.


"Tidak apa-apa, ini juga sudah larut malam. Lebih baik kita beristirahat sekarang." Ucap Andreas.


" Huaah .. Iya mas lebih baik seperti itu. Saya ke kamar dulu." Ucap Zoya sembari melangkah menuju kamarnya. Dia sangat mengantuk. Sampainya di kamar dia langsung merebahakan diri. Tapi beberapa menit kemudian dia teringat jika belum sholat isya'.


Zoya pun keluar dengan membawa handuk kecil. Dia melangkah menuju kamar mandi dengan mata yang setengah tertutup karena kantuk tengah menyerangnya.


"Huaah .." Zoya berkali-kali menguap.


AAAAA ..


Secara bersamaan Zoya dan Andreas berteriak karena kaget. Mereka berdua berpapasan di ambang pintu kamar mandi.


"Maaf saya tidak tahu jika mas ada di dalam." Ucap Zoya sembari sedikit mundur.


"Tidak apa-apa, ini salahku juga karena tidak menutup pintu." Ucap Andreas. "Masuklah, aku sudah selesai." Imbuh Andreas mempersilahkan Zoya memakai kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Zoya sudah selesai sholat. Dia bersiap untuk tidur. Tapi melihat pintu kamarnya belum tertutup sempurna Zoya mengurungkan niat untuk naik ke kasur.


Bukannya menutup pintu, Zoya malah melangkah keluar. Dia ingin memastikan apakah Andreas sudah tidur. Atau sedang kegirangan di dalam setelah tahu tentang perasaannya. Karena saat di hadapannya tadi Andreas terlihat biasa saja.


Zoya menempelkan telinganya di pintu kamar Andreas. Berharap mendengar sesuatu. Namun sesuatu hal tak terduga terjadi.


"Aaaaaa." Zoya berteriak seraya berjongkok meringkuk ketakutan.


Listrik tiba-tiba saja padam. Membuat seluruh lampu di dalam apartemen mati. Zoya yang takut akan kegelapan pun merasa resah. Dia sangat takut karena tidak dapat melihat apapun di sekelilingnya. Sampai seberkas cahaya datang.


"Zoya kau kenapa?" Tanya Andreas sembari menyinari Zoya dengan cahaya dari handphonenya.

__ADS_1


Tidak menjawab, Zoya langsung berdiri dan memeluk Andreas. Dia sungguh merasa takut sampai berkeringat dingin. Ada satu hal di masa kecil Zoya yang membuatnya sangat takut dengan kegelapan.


Andreas yang menyadari apa yang sedang di rasakan Zoya pun mencoba menenangkannya.


"Kau takut dengan kegelapan, tenang ada aku disini. Aku akan mencari penerangan untukmu." Ucap Andreas seraya membalas pelukan Zoya.


Lalu Andreas menuntun Zoya masuk ke dalam kamarnya. Dia menyuruh Zoya untuk duduk di tepian kasur, tapi Zoya menolak. Dia tidak mau lepas dari pelukan Andreas. Padahal Andreas hanya berniat mencari lampu batrei yang dia punya untuk menambah penerangan.


"Jangan tinggalkan saya sendiri. Saya takut." Ucap Zoya dengan suara yang gemetar.


Akhirnya mereka berdua duduk dengan posisi Zoya berada dalam dekapan Andreas. Mungkin sekitar sepuluh menit mereka dalam posisi itu sampai akhirnya lampu kembali menyala.


Zoya yang mempunyai ketakutan berlebih sampai tidak menyadari jika lampu sudah menyala. Dia tetap saja gelisah dengan keringat dingin yang mengalir dari keningnya.


"Zoya, lampunya sudah menyala." Ucap Andreas.


Sontak Zoya melepaskan diri dari Andreas. Dia juga langsung mengusapi wajahnya dan mencoba kembali bersikap biasa saja.


"Em maaf saya mengganggu istirahat mas Andreas. Saya akan kembali ke kamar." Ucap Zoya seraya beranjak pergi tapi langsung di cegah oleh Andreas.


"Kau di sini saja. Pihak apartemen memberitahukan jika malam ini ada gangguan listrik dan sedang di perbaiki. Jadi sewaktu-waktu bisa mati lagi." Ucap Andreas.


Andreas menuangkan air dari teko ke gelas dan memberikannya pada Zoya. Tentunya agar Zoya merasa kembali tenang. Karena terlihat sekali saat ini wajah Zoya begitu pucat. Hal itu membuat Andreas penasaran, mengapa Zoya sebegitu takutnya dengan gelap.


"Glek .. Glek.." Zoya meminum habis air putih yang di berikan oleh Andreas. "Terima kasih mas." Ucap Zoya.


"Sama-sama. Ya sudah sekarang tidurlah." Ucap Andreas.


Zoya mengangguk dan melangkah kearah sofa. Hal itu membuat Andreas menatapnya aneh.


"Kau mau kemana?" Tanya Andreas.


"Mau tidur mas. Saya tidur di sofa saja. Ini lebih baik daripada harus kembali ke kamar, kan katanya bakalan ada pemadaman lagi." Jawab Zoya dengan raut wajah polosnya.


"Siapa yang mengizinkanmu tidur di sofa?" Tanya Andreas dengan tatapan yang membuat Zoya takut.

__ADS_1


"Oh kalau begitu saya tidur di bawah saja. Sama seperti di rumah dulu." Ucap Zoya masih dengan kepolosannya. Bahkan dia sudah memposisikan diri di atas karpet.


Andreas menghelas nafas panjang. Istrinya tidak mengerti dengan apa yang dimaksud olehnya.


"Bangunlah, kau bisa sakit jika tidur di bawah." Ucap Andreas.


"Lalu saya harus tidur di mana mas? Di sofa tidak boleh, di sini juga tidak boleh." Ucap Zoya merasa yang merasa bingung tidak mengerti.


"Apa kau tidak lihat ada kasur seluas ini?" Tanya Andreas.


"Lihat mas, tapi itu kan tempat tidurnya mas Andreas." Jawab Zoya.


"Lalu kenapa? Kita kan suami istri. Bukankah seharusnya memang tidur satu kasur." Ucap Andreas yang membuat Zoya langsung ternganga.


Andreas sudah naik ke kasur. Sementara Zoya masih berdiri terpaku merasa tidak percaya. Dulu dia mati-matian berusaha untuk bisa naik ke kasur tapi usahanya selalu gagal. Saat ini tanpa usaha apapun sang suami mempersilahkan dirinya mengisi sisi kosong ranjang itu.


Andreas menepuk sisi kosong di sebelahnya mengkode Zoya untuk segera naik ke kasur. Karena hari sudah semakin larut.


Zoya pun berbaring di sebelah Andreas. Dia sangat menepi agar tidak terlalu dekat dengan Andreas. Rasanya dia malah tidak bisa memejamkan mata.


Zoya dan Andreas tidur dengan posisi saling membelakangi. Mereka berdua sama-sama belum bisa memejamkan mata. Hanya berpura-pura tenang seakan sudah tidur. Sampai pada suatu ketika mereka beralih posisi menjadi saling berhadapan.


"Kau belum tidur." Ucap Andreas.


"Ini saya mau tidur masih mencari posisi yang nyaman." Ucap Zoya.


"Bagaimana bisa nyaman jika kau saja tidur di ujung." Ucap Andreas.


Zoya pun sedikit menggeser tubuhnya. Dia menutupi wajahnya dengan guling karena merasa malu di tatap oleh Andreas.


Tiba-tiba lampu kembali padam. Sontak Zoya yang tadinya tidak mau dekat-dekat dengan Andreas meloncatkan tubuhnya mendekati Andreas dan membuang guling yang menjadi pembatas.


BYAAR ..


Lampu kembali menyala. Baru terlihat posisi Zoya dan Andreas saat ini. Dimana mereka berada tanpa jarak. Mereka berdua saling bertatapan mata. Zoya ingin mundur menjauh tapi ditahan oleh Andreas.

__ADS_1


Cup ..


Yang terjadi selanjutnya adalah mendaratnya ciuman mesra yang dilakukan oleh Andreas pada Zoya.


__ADS_2