
Flashback Dua puluh menit yang lalu ...
Andreas sudah duduk manis di tempat yang telah ia booking. Dia menyewa satu lantai Rose's Restaurant. Jadi hanya akan ada dirinya dan Zoya. Tidak akan ada pengunjung lain yang menganggu dinner romantis mereka.
"Pak apakah ada yang kurang?" Tanya Yuda.
"Tidak, semuanya sesuai keinginanku. Terima kasih." Jawab Andreas.
"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi." Ucap Yuda berpamitan.
Andreas mengangguk dan Yuda pun pergi. Kini tinggal dirinya saja sendiri menunggu kedatangan Zoya.
TING ..
Sebuah notifikasi pesan masuk memuat Andreas langsung berburu-buru membukanya. Dia pikir itu mungkin pesan dari Zoya. Tapi ternyata bukan.
Pesan dari nomor yang tidak di kenal itu membuat Andreas penasaran. Dia pun membukanya.
Deg..
Matanya terbelalak dan rahangnya mengetat melihat isi layar ponselnya. Yang pasti itu sangat meretakkan hatinya.
Terlihat foto Zoya tengah berselfie diatas kasur bersama Rafli. Parahnya mereka seperti tidak mengenakan pakaian. Foto itu jelas nyata. Bahkan ada juga foto yang memperlihatkan mereka berjalan bersama di loby sebuah hotel.
Flashback off .... Kembali ke saat ini.
Jantung Zoya berdegup kencang. Bukan karena merasa senang karena keromantisan Andreas. Melainkan karena takut dengan raut wajah yang di ciptakan oleh kemarahan Andreas.
"Mas Andreas kenapa?" Tanya Zoya dengan bibir yang bergetar.
Greek ..
Andreas langsung saja berdiri dari duduknya. Dia berjalan mendekati Zoya yang menunduk karena takut padanya.
"Kenapa kau menunduk?" Andreas tiba-tiba saja mencengkram rahang Zoya agar menatapnya.
"Mas kenapa? Lepaskan mas, sakit." Pinta Zoya yang kini sudah berlinang air mata karena saking takutnya.
Andreas langsung menghempaskan wajah Zoya. Kemudian Zoya mendekat lagi dan mencoba bertanya apa yang terjadi.
"Mas ada apa? Apa aku melakukan kesalahn sehingga membuatmu marah?" Tanya Zoya sembari memegang lengan Andreas namun langsung di hempaskan dengan kuat. Zoya sampai terjatuh.
"Saya salah apa, kenapa mas Andreas kasar kepada saya?" Tanya Zoya seraya menangis terisak.
PRAANKKK ..
__ADS_1
Andreas malah membanting gelas tepat di depan mata Zoya. Hal itu membuat Zoya kaget dan memejamkan mata.
"Kasar katamu?" Tanya Andreas dengan tatapan tajam. "Tanya pada dirimu sendiri, apa yang kau lakukan selama aku tidak ada!" Seru Andreas dengan penuh emosi.
"Aku melakukan apa? Aku tidak melakukan apa-apa mas." Ucap Zoya merasa bingung dengan yang di permasalahkan oleh Andreas.
"Aku menarik seluruh perkataanku. Aku menyesal telah menaruh hati pada wanita sepertimu!" Seru Andreas yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Zoya.
Zoya pun tak tinggal diam. Dia segera bangkit dan mengejar Andreas. Namun sayangnya dia harus terkena serpihan pecahan gelas di tangannya. Darah segar keluar dari telapak tangannya. Tapi dia tidak peduli dan langsung saja berlari mengejar Andreas. Tak lupa dia juga membawa bucketnya.
"Mas Andreas tunggu." Teriak Zoya menyusul suaminya yang berjalan cepat menuruni tangga.
Panggilan dari Zoya itu sama sekali tidak membuat Andreas menghentikan langkahnya. Dia terus berjalan menuju pintu keluar restoran. Yuda yang tadinya sedang duduk menikmati secangkir kopi langsung berdiri menghampiri atasannya itu.
"Kita pergi dari sini sekarang juga." Ucap Andreas pada Yuda.
"Tapi pak itu bagaimana dengan nona Zoya?" Tanya Yuda yang saat ini berjalan di belakang Andreas.
"Biarkan saja dan jangan banyak tanya lagi." Ucap Andreas dengan tegas.
Yuda pun menuruti Andreas. Mereka masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area restoran. Terlihat Zoya berlari mengejar hingga akhirnya terjatuh.
"Mas ... Apa salahku?" Teriak Zoya seraya terisak. Zoya pun menangis tersedu.
"Yuda, hentikan mobilnya." Ucap Andreas secara mendadak.
CIIIIT ...
"Kau pulanglah naik taksi. Aku akan mengendarai mobil sendiri." Ucap Andreas yang kini sudah bersiap mengambil alih kursi kemudi.
"Baik pak." Jawab Yuda.
BRUUM ..
Andreas melajukan mobilnya dengan kencang. Hal itu membuat Yuda semakin bertanya-tanya. Ada masalah apa sebenarnya pada Andreas dan Zoya.
"Apa kesalahan yang di lakukan nona Zoya, sampai membuat pak Andreas semarah itu?" Gumam Yuda bertanya-tanya.
**
Di jalanan yang sepi, Zoya berjalan sendiri. Air matanya masih terus mengalir. Dia cukup kalut dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Sampai luka di lutut dan telapak tangannya seakan tidak terasa sakit.
Zoya terus berjalan tanpa arah. Pikirannya kacau. Dia bingung apa kesalahannya sampai Andreas semarah itu.
Dug ..
__ADS_1
"Aah."
Bruk ..
Zoya tersandung karena tidak memerhatikan jalan yang dia lewati. Untuk ketiga kalinya dia jatuh tersungkur. Bunga yang di bawanya pun terlempar hampir ke tengah jalan.
"Bunganya." Ujar Zoya seraya mencoba bangkit. Tapi rasanya tenaganya sudah terkuras habis. Lagi-lagi dia kembali terjatuh.
Tangisnya kembali pecah, mengingat perkataan dan perlakuan kasar yang di terimanya dari Andreas.
"Berdirilah. Kau bukan seperti Zoya yang aku kenal." Ucap Rafli yang sudah berdiri di hadapan Zoya. Sontak Zoya mendongak keatas.
Sejak tadi Rafli memang mengikuti Zoya. Dia melihat Zoya berjalan kaki keluar dari sebuah restoran. Keadaannya terlihat tidak begitu baik, tapi Rafli takut untuk menghampirinya.
Melihat keadaan Zoya semakin kacau, akhirnya Rafli memberanikan diri untuk turun dari mobil menghampirinya. Meski rasa sakit hati itu masih ada, tetap saja Rafli tidak tega jika melihat Zoya tersakiti.
"Berdirilah." Ucap Rafli sekali lagi sembari mengulurkan tangannya. Zoya pun menyambut uluran tangannya.
"Hiiks..hikss.. Emhh, terima kasih." Lirih Zoya seraya mencoba menghentikan air matanya.
"Astaga tanganmu berdarah, lututmu juga. Apa sebenarnya yang terjadi padamu?" Tanya Rafli dengan raut wajah khawatir. Tapi dia masih mengontrol perasaannya dan mengingat jika Zoya itu adalah istri dari seseorang.
Bukannya menjawab, lagi-lagi Zoya malah menangis. Kali ini tangisannya adalah tangisan yang histeris. Seluruh emosi yang sejak tadi tertahan keluar semua. Rafli menjadi merasa semakin tidak tega. Tapi dia bingung apa yang harus dia lakukan.
Tiba-tiba saja Zoya ambruk di dadanya. Tangan Rafli bergerak otomatis memeluk Zoya.
"Tak apa menangislah sepuas yang kau mau, jika itu melegakan bagimu." Ucap Rafli.
Rafli jadi ikut merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Zoya. Hatinya terasa teriris melihat wanita yang masih di cintainya itu menangis.
"Melihatmu seperti ini, rasanya aku menyesal membiarkanmu menikah dengan pria kejam itu. Jujur saja hingga kini aku masih mencintaimu Zoya." Ucap Rafli di dalam hati.
Ketika Zoya sudah merasa lebih tenang, Rafli pun menuntunnya masuk ke dalam mobil. Dia akan mengantarkan Zoya pulang.
KREZK..
Bucket bunga mawar merah yang indah itu akhirnya terinjak oleh mobil yang di kendarai Rafli.
TAP.. TAP.. TAP..
Andreas melangkah mendekati bucket yang sudah hancur itu berada. Dia memungut bucket itu.
Jika di perumpamakan, kondisi hatinya dengan kondisi bucket bunga itu sama. Sama-sama hancur dan sulit untuk di utuhkan kembali.
Tadinya Andreas berniat kembali untuk menghampiri Zoya. Karena dia merasa tidak tega telah berlaku kasar. Namun ternyata dia malah melihat sesuatu yang semakin membuatnya marah dan sakit hati. Melihat Zoya yang berpelukan dengan Rafli, itu semakin menguatkan jika foto yang di kirim oleh seseorang itu benar adanya.
__ADS_1