
Di dalam lift, Andreas memikirkan tentang bagaimana perasaan Zoya terhadapnya. Ya, memang Zoya sudah menolak Haris. Tapi itu belum menjamin jika Zoya sudah jatuh hati padanya.
Masih ada satu nama yang mungkin masih ada di dalam hati Zoya. Yaitu, Rafli. Dahulu mereka putus secara tiba-tiba tanpa ada masalah. Bisa jadi sekarang mereka masih saling menyimpan rasa.
Akhirnya Andreas memutuskan untuk tidak menyatakan perasaannya dahulu pada Zoya. Dia akan memastikan dulu apakah Zoya benar-benar sudah melupakan mantan kekasihnya atau belum.
TING ..
Pintu lift terbuka, Andreas langsung bergegas menuju unit apartemennya. Tak di sangka dia berpapasan dengan Rafli. Mantan kekasih Zoya itu tidak sendiri. Ada seorang wanita yang menggandeng Rafli dengan mesra.
Mereka tidak berinteraksi. Andreas juga hanya melirik sedikit. Saat mereka masuk kedalam lift baru Andreas berhenti dan menoleh kearahnya.
"Dia sudah punya kekasih lagi," Gumam Andreas. Kemudian dia melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam apartemen.
JEGREK..
Zoya hanya terdiam ketika melihat Andreas datang. Padahal biasanya dia selalu berantusias menyambutnya. Kali ini entah mengapa rasanya sangat canggung. Setelah melihat berita di tv tadi perasaan Zoya rasanya campur aduk. Andreas pun juga tanpa sepatah kata melewati Zoya begitu saja. Andreas masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Apa iya dia mencintaiku?" Gumam Zoya bertanya-tanya. Karena melihat sikap dingin Andreas yang masih sama saja, membuat Zoya tidak yakin pria itu benar-benar mencintainya.
Sementara yang terjadi di dalam kamar adalah Andreas yang berjalan kesana kemari. Dia sedang bingung bagaimana cara menyatakan cinta pada Zoya.
"Dengan mudah aku mengatakan semuanya di depan wartawan. Tapi kepada orangnya sendiri aku merasa tidak bisa." Ucap Andreas kesal sendiri.
Andreas terus berbicara sendiri dengan suara keras sampai sedikit terdengar dari luar kamarnya. Zoya menjadi penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya itu. Tidak biasanya dia berisik seperti itu.
"Apa yang terjadi? Apakah dia ada masalah di kantor?" Gumam Zoya sembari menempelkan telinganya di pintu. Dia terus mengatur posisi agar terdengar jelas. Namun kini malah tidak terdengar suara apapun.
Tiba-tiba saja pintu terbuka. Hal itu membuat Zoya tersungkur masuk ke dalam kamar Andreas. Zoya merasa sangat malu. Apalagi Andreas menatapnya dengan aneh. Akhirnya dia bergegas berdiri.
"Mas Andreas mau mandi, biar saya siapkan air hangatnya dulu." Ucap Zoya seraya berlalu pergi. Dia sampai berlari kecil.
__ADS_1
"Apa dia berusaha menguping? Ah tapi ekspresinya tadi itu cukup menggemaskan." Gumam Andreas seraya menahan senyum di bibirnya.
Malam ini pun mereka lewati sama seperti malam sebelumnya. Makan bersama lalu kembali sibuk dengan rutinitas masing-masing sampai tidur.
****
Di pagi hari Andreas sudah sibuk merapikan diri. Hari ini dia akan pergi untuk cek lokasi proyeknya yang lokasinya cukup jauh. Semalam dia sudah memberitahu Zoya untuk tidak perlu memasak sarapan. Karena dia akan pergi pagi sekali.
Tepat pukul 05:30 WIB, Andreas keluar dari kamarnya akan bergegas berangkat.
"Aku berangkat." Ucap Andreas berpamitan pada Zoya yang tengah menyedot debu.
Ini pertama kalinya seorang Andreas berpamitan. Hal itu membuat telinga Zoya yang mendengarnya merasa aneh. Zoya langsung mematikan vacum cleanernya.
"Haa? Apa mas?" Tanya Zoya memastikan apakah yang di dengarnya itu nyata.
"Aku berangkat dulu." Andreas mengulangi perkataannya meski dengan ekspresi datar. Tapi kali ini dia menatap kearah Zoya. Tidak seperti biasanya yang selalu membuang pandangan.
Zoya berdiri di hadapan Andreas. Zoya merapikan dasi dan kerah kemeja suaminya yang masih berantakan. Setelah selesai melakukan itu, Zoya mengusap dan menepuk pelan bagian dada dan bahu Andreas. Karena terlihat di jasnya terdapat noda putih.
"Sepertinya saya harus menegur pihak laundry. Masa sudah bayar mahal masih meninggalkan noda sabunnya." Lirih Zoya seraya mencoba menghilangkan noda itu. Kemudian tatapannya beralih menatap wajah Andreas, yang ternyata sedari tadi menatapnya. Saat itu juga Zoya berhenti melakukan aktivitasnya dan mundur satu langkah.
"Maaf mas saya harusnya izin dulu. Itu sudah bersih, mas Andreas bisa berangkat." Ucap Zoya seraya berbalik arah akan kembali melanjutkan bersih-bersihnya. Tapi kemudian tangannya di cekal oleh Andreas.
"Aduh, apakah aku akan di maki-maki karena sudah lancang menyentuh." Gumam Zoya di dalam hati.
"Terima kasih." Ucap Andreas seraya melepaskan tangan Zoya.
Mendengar itu Zoya langsung saja menoleh kembali menatap Andreas. Ternyata dugaannya salah. Andreas tidak marah padanya.
"Ya sudah aku berangkat." Ucap Andreas berlalu pergi keluar dari unit apartemennya.
__ADS_1
Zoya masih terheran-heran dengan sikap suaminya itu. Meski masih dingin, tapi setidaknya Andreas tidak pernah lagi bicara kasar padanya. Zoya jadi kembali teringat berita di televisi kemarin.
"Apakah benar mas Andreas mencintaiku?" Gumam Zoya dengan pipi yang sudah merah merona. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak. Sebelum dia mengatakan padaku secara langsung. Aku tidak boleh senang dulu." Ucap Zoya berpegang teguh pada hatinya.
***
Andreas merenung di dalam mobilnya yang tengah melaju itu. Dia sedang memikirkan bagaimana cara untuk melakukan pendekatan pada Zoya. Dia memang sudah berpengalaman kala bersama Rania dulu. Tapi dulu itu mereka seumuran. Sementara sekarang dirinya dan Zoya berjarak 11 tahun. Selera mereka pastinya berbeda jauh. Dia juga tidak tahu menahu apapun tentang Zoya.
"Yuda, menurutmu apa cara terbaik mengambil hati seorang wanita?" Tanya Andreas pada Yuda yang sedang menyetir.
"Aduh, bukankah pak Andreas malah lebih berpengalaman dari saya tentang itu." Ujar Yuda.
Memang benar yang di katakan oleh Yuda. Andreas lebih tua darinya dan juga sudah berumah tangga cukup lama. Jadi rasanya aneh jika malah menanyakan itu kepadanya.
"Ya aku butuh pendapat darimu. Cepat katakan. Kau tidak mungkin tidak tahu. Di usiamu saat ini kau tidak mungkin tidak memiliki kekasih." Ucap Andreas.
"Emm. Baiklah saya akan katakan. Menurut saya yang paling ampuh itu dekati dan beri perhatian pada keluarganya." Ucap Yuda memberikan pendapatnya.
Andreas langsung tersenyum mendengar pendapat Yuda. Dia sudah tahu apa yang harus di lakukan.
CTING...
Handphone milik Andreas berbunyi. Ada pesan masuk dari Zoya. Jika biasanya dia mengabaikannya, kini tidak lagi. Dengan cepat Andreas membuka pesan masuk dari istrinya itu. Zoya mengatakan jika malam ini akan pulang terlambat karena dia ingin merayakan ulang tahun ibunya di rumah.
"Yud, tolong atur ulang jadwal ketemu klien malam ini ya. Karena aku ada urusan yang lebih penting." Ucap Andreas.
"Baik pak." Jawab Yuda.
Sampainya di kantor, Yuda langsung turun dan Andreas mengambil alih kemudi mobilnya. Setelah memberikan pesan-pesannya, Andreas langsung melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Akhirnya ada seseorang yang bisa menghilangkan duka pak Andreas." Gumam Yuda merasa senang melihat atasannya kembali bersemangat menjalani hidup normal kembali. Tidak lagi berselimut duka.