Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 43 // Aku tidak berbohong


__ADS_3

Suasana tegang terjadi di ruang tengah apartemen yang di huni oleh Andreas dan Zoya. Zoya tengah memperjuangkan untuk mendapatkan kepercayaan dari Andreas, tapi nyatanya Andreas tetap saja tidak sedikitpun percaya padanya.


"Apa mas Andreas tidak ingat apa yang kita lakukan semalam? Kita sudah melakukan yang dilakukan suami istri pada umumnya." Ucap Zoya.


Andreas mengernyitkan dahinya saat mendengar itu. Dia masih tidak ingat apapun tentang semalam. Kemudian samar-samar ingatan itu muncul. Ingatan dimana dia mencumbu Zoya semalam.


"Mas ingat kan, aku tidak pernah berselingkuh dan semalam adalah buktinya. Bahwa aku baru pertama kali melakukannya. Dan foto-foto itu hanyalah rekayasa." Ucap Zoya.


Andreas pun kembali mengingat seluruh kronologi semalam saat dia tidur dengan Zoya. Saat sudah ingat seutuhnya, dia kembali masuk ke kamar untuk mengecek sesuatu. Tak lama kemudian dia kembali lagi dengan sebuah pertanyaan.


"Apa kau sudah mengganti sprei hari ini?" Tanya Andreas.


"Ah, belum. Sehabis ini saya akan menggantinya. Kita selesaikan kesalah pahaman ini dulu mas." Ucap Zoya.


"Tidak perlu. Semuanya sudah selesai, tidak ada yang perlu di luruskan lagi. Semuanya sudah jelas." Ucap Andreas dengan tatapan penuh emosinya. Kemudian dia langsung berbalik arah akan memasuki kamarnya. "Anggap saja semalam itu tidak pernah terjadi apapun." Sambungnya sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar.


BRAK ..


Pintu di tutup dengan keras di depan mata Zoya. Rasanya begitu sakit mendengar perkataan Andreas. Dia menyuruh Zoya untuk melupakan kejadian semalam yang dianggap indah oleh Zoya.


Air mata pun kembali menetes dari pelupuk mata Zoya. Dan tiba-tiba saja Zoya terjatuh pingsan. Keadaannya yang basah kuyup membuatnya demam dan berakhir tak sadarkan diri.


GREEK ..


Andreas keluar dari kamarnya berniat untuk pergi dari apartemen. Karena dia berpikir tidak bisa tinggal bersama dengan wanita yang sudah menghianatinya. Tapi niatnya itu terurung kala melihat Zoya yang terkapar tak berdaya di lantai.


"Astaga, kau kenapa? Zoya bangun." Meski marah besar dan sakit hati, Andreas tetap saja khawatir saat melihat keadaan Zoya. Dia pun langsung menggendong Zoya masuk ke dalam kamar.


"Badannya panas sekali. Dia demam. Bajunya juga sangat basah, apa yang dia lakukan sebenarnya." Gumam Andreas. Mau tidak mau dia pun menggantikan pakaian Zoya.


Saat menggantikan pakaian, sebisa mungkin Andreas mengalihkan pandangan. Tapi ya tetap saja dia masih melihatnya. Bahkan dia melihat beberapa noda merah di sudut tubuh Zoya. Tentu saja itu ulahnya semalam. Tapi melihat itu bukannya teringat malam romantisnya semalam, Andreas malah terbayang saat Zoya melakukannya dengan Rafli. Hatinya langsung terasa tercabik-cabik.

__ADS_1


Seusai menggantikan pakaian, Andreas mengambil ember berisi air dan juga lap untuk mengompres Zoya. Panasnya cukup tinggi. Kemudian Zoya pun mulai membuka matanya.


"Mas Andreas," Sebut Zoya.


"Sudahlah jangan banyak bicara. Karena kau sudah sadar, minumlah obat ini agar demammu cepat turun." Ucap Andreas seraya memberikan obat juga air minum.


Andreas membantu Zoya untuk meminumnya. Kemudian tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Karena kondisi Zoya sendiri lemah jadi dia hanya terdiam dengan mata yang terpejam, tapi tidak tidur.


Melihat Zoya yang sudah terlihat tenang, Andreas memutuskan untuk pergi dari sana. Tapi saat beranjak dari duduknya, Zoya memegang tangannya.


"Jangan pergi mas, jangan tinggalkan saya. Saya mencintai mas Andreas." Ucap Zoya dengan mata yang masih terpejam.


Andreas tidak jadi pergi, dia kembali duduk. Tapi perlahan dia melepaskan pegangan tangan Zoya. Pada akhirnya dia mendengar ungkapan yang ingin dia dengar. Namun sayangnya saat kata cinta terucap dari mulut Zoya, keadaan mereka sudah tidak sama. Perasaan Andreas seakan sudah mati karena begitu kecewa.


Sekarang ini Andreas kembali termenung seraya menatap wajah Zoya. Dia sedang berpikir akan di bawa kemana hubungannya dengan Zoya. Rasanya dia sudah tidak bisa mentolerir kesalahan yang di lakukan Zoya.


Yang membuat Andreas semakin yakin jika Zoya sudah tidur dengan Rafli adalah tidak adanya noda apapun di kasur. Atau jelasnya Zoya itu sudah tidak gadis lagi saat berhubungan dengannya semalam.


Tak terasa hari sudah pagi. Semalaman Andreas menunggui Zoya. Dia tidur dengan posisi duduk bersandar di sebelah Zoya berbaring.


Perlahan Zoya membuka matanya. Dia mendapati Andreas masih terlelap. Senyum terukir di bibirnya. Setidaknya Andreas masih perduli padanya meski ada pertengkaran diantara mereka.


Tak lama kemudian, Andreas juga terbangun dari tidurnya. Lantas dia segera beranjak dan menjauh dari Zoya. Seperti orang yang merasa jijik. Karena memang Andreas tidak suka jika miliknya sudah lebih dulu di sentuh orang lain. Jika saja tidak mabuk, dia tidak akan menyentuh Zoya.


"Terima kasih mas, sudah merawat saya." Ucap Zoya.


"Ya." Jawab Andreas singkat dan kemudian melangkah keluar dari kamar. Sikapnya kembali lagi ke setelan pabrik, sedingin es batu.


Zoya langsung berekspresi sedih. Selama ini dia sudah susah payah untuk membuat hubungan baik dengan Andreas. Tapi saat itu terwujud ada saja fitnahan yang datang menghampirinya.


"Aku tidak pernah melakukan itu. Pasti ada seseorang yang mencoba menghancurkan rumah tanggaku." Gumam Zoya cukup merasa bersedih. "Apa ini ulah nona Jemyma?" Satu nama langsung terlintas dalam pikirannya. Karena siapa lagi selain Jemyma. Secara dialah salah satu orang yang paling tidak menyukai rumah tangganya.

__ADS_1


*****


Di kediaman orang tuanya, Andreas dan Zoya saat ini berada. Mama Irma begitu sangat antusias mempersiapkan pernikahan untuk Andreas dan Zoya. Andreas sampai merasa bingung harus mengatakan apa pada mamanya.


"Mama sudah memilih gedung hotel untuk pesta kalian. Mama juga sudah mengatur katering dan lainnya. Untukmu Zoya, mama sudah punya beberapa rekomendasi gaun yang sangat indah." Ucap Mama Irma dengan sangat antusias.


Zoya hanya tersenyum menanggapi ibu mertuanya itu. Dia sendiri tidak tahu apakah pernikahan ini akan terlaksana atau batal. Atau malah Andreas berujung menceraikannya hari ini juga.


Andreas berpikir keras, dia sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri semua ini sekarang saja. Tapi dia masih bingung harus mulai dari mana. Mama Irma sudah terlanjur cocok dengan Zoya. Takutnya hal ini akan mengguncang perasaannya.


"Mah, sebelumnya ada sesuatu yang lebih penting dari ini." Ucap Andreas.


Jantung Zoya langsung berdegup kencang. Dia merasa Andreas akan benar-benar menceraikannya sekarang. Itu artinya dia sudah gagal menjalankan amanah dari Rania. Malahan yang ada sekarang dia menyakiti Andreas. Meski bukan dia yang melakukannya, tapi tetap saja itu menyakiti Andreas.


"Apa sayang, katakan." Ucap Mama Irma.


"Emmh, aku ingin me.."


Triiiing ..


"Sebentar, sebentar teleponnya berbunyi. Mama angkat dulu." Ucap Mama Irma seraya beranjak dari tempat duduknya. Perkataan Andreas pun terpotong sebelum usai.


"Halo, ya jeng. Apa?!" Ekspresi mama Irma seketika berubah dan gagang telepon yang di pegangnya langsung terjatuh saat itu juga. Dadanya mendadak merasa sesak. Dan yang terjadi setelahnya adalah mama Irma pingsan.


BRUK..


"Mama.." Teriak Andreas dan Zoya secara bersamaan. Mereka lantas menghampiri mama Irma.


"Mama, mama bangun ma," Ucap Andreas dengan paniknya.


"Mas kita harus membawa mama ke rumah sakit." Usul Zoya yang juga sangat khawatir, karena mama Irma yang tadinya baik-baik saja mendadak pingsan.

__ADS_1


Andreas langsung membopong mamanya menuju mobil. Zoya pun berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil. Pada akhirnya niatan Andreas untuk menceraikan Zoya di hadapan mamanya gagal.


__ADS_2