Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 50 // Runyam


__ADS_3

Setelah mendengar cerita lengkap dari Haris, Zoya pun bergegas pergi menemui Rafli. Untuk pertama kalinya setelah putus, Ia menghubungi Rafli lewat pesan singkat. Beruntung nomor Rafli masih tetap aktif.


Di sisi lain Rafli yang sedang bersantai di apartemennya itu merasa sedikit terkejut. Jantungnya masih berdebar kala melihat nama Zoya di layar ponselnya.


"Apa aku tidak salah lihat?" Kata Rafli yang merasa tidak percaya ada notifikasi pesan masuk dari Zoya.


Tanpa berbasa-basi lagi, Rafli pun membuka isi pesan dari mantan kekasihnya itu. Tertulis ajakan untuk bertemu di taman dekat apartemen sekarang juga. Zoya juga memohon untuk Rafli agar datang karena ini penting.


Otak Rafli langsung berputar memikirkan maksud Zoya mengajaknya bertemu. Tiba-tiba muncul pemikiran tentang Zoya yang mulai menyesal dan ingin kembali bersamanya. Pemikiran itu muncul karena ia tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Zoya saat ini.


"Aissh, pemikiran apa ini. Move on Rafli, move on." Ucap Rafli membuyarkan lamunannya sendiri. Kemudian ia bergegas keluar karena Zoya sudah menunggunya.


Taman*


Melihat Rafli menghampiri, Zoya langsung beranjak dari kursi yang semula ia duduki.


"Apa maksudmu melakukan semua ini Raf?" Tanya Zoya dengan raut wajah menahan kekesalan.


"Melakukan apa?" Rafli balik bertanya dengan ekspresi bingung tak tahu menahu.


Tanpa banyak bicara, Zoya memperlihatkan layar handphonenya yang berisi screen capture chat Rafli pada mama Irma. Tentu saja setelah melihatnya, Rafli tambah semakin bingung.


"Apa ini maksudnya?" Tanya Rafli lagi. Karena dia tidak merasa pernah mengirimkan pesan seperti itu.


"Kau masih bertanya Raf?" Zoya mulai berekspresi jengah. Dia tidak menyangka Rafli bisa melakukan hal tersebut. Bahkan sekarang berlagak tidak tahu menahu.

__ADS_1


"Aku tahu kau pasti melakukan ini karena dendam padaku. Tapi yang kau lakukan ini keterlaluan Raf. Kau bukan hanya menghancurkan rumah tanggaku. Kau juga telah membuat ibu mertuaku masuk ke rumah sakit!" Jerit Zoya meluapkan amarahnya.


Rafli mengernyitkan dahinya mendengar seluruh perkataan Zoya yang satupun tidak ada yang benar.


"Yang kau lakukan ini sangat keji Raf!" Seru Zoya diakhir kata.


Mendengar itu lantas membuat kesabaran Rafli habis.


"Cukup Zoya! Aku tidak pernah melakukan itu semua. Terpikirkan saja tidak." Ucap Rafli


Zoya tersenyum getir mendengar elakan dari mantan kekasihnya itu. Karena sudah jelas pesan itu dikirim melalui nomor handphone milik Rafli.


"Semua sudah jelas Rafli. Itu nomor milikmu bukan, siapa lagi jika bukan kau yang mengirimnya!" Zoya semakin meninggikan suaranya.


Rafli yang menjadi kambing hitam dalam masalah ini merasa sangat bingung. Dia ingin marah, tapi memang benar pesan itu dikirim dari nomor miliknya. Jadi, mengelak pun percuma saja. Zoya akan tetap menuduhnya.


"Cukup!" Seru Rafli yang sudah sangat geram mendengarkan tuduhan dari Zoya. "Kau berkata aku kejam? Lantas kau sendiri apa?" Tanya Rafli dengan tatapan tajamnya.


Rafli merasa tidak terima disebut kejam oleh Zoya. Karena jika dikilas balik, Zoya lah yang telah berbuat kejam pada Rafli. Meninggalkan Rafli begitu saja disaat sedang cinta-cintanya.


"Kau meninggalkanku begitu saja dan memilih menikah dengan pria lain, lalu sekarang kau menuduhku merusak rumah tanggamu." Ucap Rafli dengan suara beratnya. Dadanya begitu sesak kembali mengingat kisah cintanya dengan Zoya yang berakhir pahit.


Zoya yang tadinya penuh amarah kini mulai mendingin. Ia menatap Rafli dengan penuh rasa bersalah. Matanya pun berkaca-kaca.


"Sekali lagi aku tegaskan, bukan aku pelakunya. Jangan libatkan aku dalam permasalahan rumah tanggamu. Karena itu sungguh tidak penting bagiku." Ucap Rafli sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan tempat.

__ADS_1


Zoya lantas tersadar jika dia sudah bertindak gegabah. Harusnya dia tidak langsung menuduh sembarangan seperti itu. Apalagi dia sudah mengatai Rafli kejam, pastinya itu menyakitkan untuk Rafli. Semuanya pun menjadi runyam.


***


Satu minggu berlalu, Zoya masih merasakan kegundahan hati. Hubungannya dengan Andreas benar-benar selesai. Tak ada lagi komunikasi diantara mereka sejak saat itu. Selama ini pun Zoya tak berani pulang kerumah, karena ia belum bisa menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya. Ia hanya menelefon untuk menanyakan kabar.


Seperti biasanya Zoya pergi ke kediaman milik Brahmantya Himawan. Ia tidak masuk kedalam, melainkan hanya mengintip dari luar pagar. Satpam di rumah itu selalu ramah pada Zoya. Bahkan mempersilahkan Zoya masuk. Namun Zoya tidak mau. Dia berkata cukup melihat dari jauh saja. Zoya juga berpesan untuk tidak memberitahu siapapun tentang kedatangannya.


Mama Irma terlihat sudah sangat sehat. Papa Brahmantya pun senantiasa menemani Mama Irma menghirup udara segar pagi. Zoya senang melihat kedua orang tua Andreas sehat dan rukun. Namun, hingga kini ia belum juga melihat Andreas ada di rumah itu.


"Nona Zoya pasti sedang mencari Tuan Andreas." Tiba-tiba muncul suara yang cukup mengagetkan Zoya. Suara itu muncul dari arah belakangnya.


"Astaga mbak Pia. Mengangetkan saja." Ucap Zoya dengan lantang namun kemudian tersadar lalu langsung menutup mulutnya. Ia pun menarik Pia menjauh dari sana. Zoya tidak mau sampai kedua orang tua Andreas menyadari keberadaannya.


Dan disinilah mereka sekarang berada, di bawah pohon rindang yang tak jauh dari tempatnya berdiri sebelumnya. Tentu saja tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan kedua orang tua Andreas.


"Aduh non Zoya kenapa jadi main kucing-kucingan begini," Ucap Pia.


"Jangan paling non lagi mbak, saya kan bukan lagi bagian dari keluarga Himawan." Ucap Zoya


"Tidak apa-apa, sudah terbiasa sayanya. Saya sangat bersedih atas berpisahnya nona dengan Tuan. Semoga hubungan kalian segera membaik ya." Ucap Pia seraya menyentuh pundak Zoya yang dilihatnya perlu dukungan. Zoya pun terdiam dan hanya tersenyum tipis.


"Oh iya, Tuan Andreas sehat kok non. Tuan memang jarang di rumah. Pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor, dan pulangnya pun larut malam." Ucap Pia yang membuat hati Zoya sedikit lega. Meski tak dapat melihat, setidaknya dapat dipastikan jika Andreas baik-baik saja.


Sementara di tempat lain, orang yang sedang dicari-cari Zoya malah sedang berada di tempat yang tak jauh dari kediamannya. Ya, saat ini Andreas sedang menatap kearah gang kecil dari dalam mobilnya. Gang kecil yang mengarah kerumah Zoya.

__ADS_1


Andreas mulai mengingat hari dimana saat bersama Zoya di tempat itu. Ia selalu bersikap ketus pada Zoya dahulu. Namun Zoya tetap sopan dan selalu sabar menghadapinya.


"Aku tidak tahu mengapa aku mendatangi tempat ini. Mungkinkah aku merindukanmu," Gumam Andreas


__ADS_2