
Setelah pertengkaran semalam, Zoya sedikit berubah. Dia yang biasanya selalu ingin tahu apa yang Andreas kerjakan, mendadak diam tidak perduli.
Pagi ini Andreas sedang kebingungan mencari setelan baju untuk pergi bermain golf. Jam sembilan dia ada janji dengan salah satu klien besarnya untuk bermain golf. Saat ini sudah jam delapan pagi, tapi dia belum bisa menemukan baju yang biasa di gunakannya untuk pergi bermain golf.
Andreas duduk terdiam di depan lemarinya yang sudah acak-acakan itu. Dia merasa frustasi karena tidak menemukan apa yang dicarinya.
Dari dulu dia memang tidak bisa mencari sesuatu sendiri. Dulu Rania selalu bisa dengan mudah menemukan apa yang dia cari.
Setelah menikah dengan Zoya pun sebenarnya dia cukup terbantu juga. Karena Zoya sama seperti Rania, selalu membantunya menemukan barang yang susah di carinya.
Namun hari ini berbeda, Zoya diam saja melihatnya sibuk mengacak-acak seisi lemari. Padahal pintu kamar Andreas terbuka lebar. Zoya sebenarnya tahu, tapi mengingat perkataan Andreas semalam dia tidak ingin bertindak apapun untuk suaminya itu.
Saat ini Zoya tengah menikmati sarapannya sendirian di meja makan. Tiba-tiba saja Andreas keluar dari kamar menghampirinya.
"Apa kau bisa membantuku mencari kaos golf milikku?" Untuk pertama kalinya seorang Andreas yang ketus meminta bantuan Zoya.
Zoya tidak menjawabnya melainkan langsung beranjak dari meja makan dan masuk ke dalam kamar Andreas.
Andreas pun mengikutinya masuk ke dalam kamar. Sebenarnya dia gengsi meminta bantuan pada Zoya. Tapi tidak ada pilihan lain. Dia bisa saja membeli baju yang baru, tapi itu akan memakan waktu lebih lama.
"Apa baju kaos ini yang Tuan cari?" Tanya Zoya sembari menunjukkan baju yang di pegangnya.
"Iya benar." Jawab Andreas masih dengan rasa gengsinya.
Tidak sampai lima menit, Zoya sudah menemukannya. Dia memberikan kaos itu pada Andreas, kemudian berlalu pergi dari kamar itu.
Andreas ingin berterima kasih tapi lidahnya terasa peluh. Jadi kata-kata itu tidak terucap. Dia menutup pintu kamarnya saat setelah Zoya keluar.
Beberapa saat kemudian Andreas sudah siap dan akan berangkat. Dia sudah tidak mendapati Zoya ada di luar. Kamarnya juga tertutup rapat. Sepertinya dia di dalam. Andreas langsung berangkat saja tanpa berpamitan. Biasanya memang juga begitu.
***
Di tempat golf Andreas bermain sembari berbincang santai dengan rekannya. Ketiga rekannya tidak datang sendiri. Para istri mereka ikut kesana. Menunggui mereka bermain.
__ADS_1
Topik perbincangan mereka hari ini bukanlah tentang pekerjaan. Melainkan tentang seorang istri. Rekan-rekan Andreas saling menyambung membicarakan istri masing-masing. Banyak kesamaan dari mereka. Mereka mengaku sangat kesulitan tanpa bantuan istri. Ada juga yang bercerita jika awalnya tidak menyukai istrinya, karena menikah lewat perjodohan. Namun lambat laun mereka saling menerima dan akhirnya saling mencintai.
Andreas merasa tertarik dengan cerita rekannya yang di jodohkan itu. Rekannya mengatakan jika istrinya itu sudah rela meninggalkan kehidupan lajangnya termasuk kekasihnya, hanya demi menerima perjodohan yang tidak bisa di tolak itu. Itulah yang membuatnya sadar untuk menerimanya dan tidak membencinya lagi. Lagipula sikapnya baik, tidak pantas untuk di benci.
Perkataan itu membuat Andreas menjadi terpikirkan tentang Zoya. Selama ini dia sangat ketus, kasar, dan selalu membencinya. Padahal dia juga sudah berkorban demi menuruti kemauan Rania. Andreas jadi terdiam melamun sendiri.
"Pak Andreas, apakah tidak berkeinginan memiliki istri lagi?" Tanya salah satu rekan.
"A.. Bagaimana pak?" Andreas tersentak dari lamunannya.
"Apakah pak Andreas tidak ingin menikah lagi? Mumpung masih muda. Jangan terlalu berlarut dalam duka. Almarhumah Bu Rania pastinya juga ingin pak Andreas bahagia." Ucap salah satu rekan seraya menyentuh pundak Andreas.
Andreas hanya tersenyum tipis menanggapinya. Rekan bisnisnya itu belum ada yang tahu jika dirinya sudah menikah lagi. Pernikahan yang sudah sah di mata agama, namun tidak pernah di jalani seperti pernikahan sesungguhnya.
***
Seusai golf Andreas langsung pulang ke apartemennya. Tidak terlihat siapapun ada di dalam sana. Sepertinya Zoya sudah berangkat ke butik.
Seluruh sudut apartemen selalu terlihat rapi dan juga bersih. Tentu saja itu berkat Zoya. Siapa lagi jika bukan dia. Karena di sana tak ada ART.
"Seingatku keranjang itu penuh karena aku sibuk sampai tidak ada waktu pergi ke laundry." Gumam Andreas.
Di bukanya lemari besar di dalam kamarnya. Semua baju sudah kembali tersusun rapi. Dia juga melihat jas yang semula di keranjang kotor kini sudah bersih tergantung rapi di tempatnya.
"Dia tetap melakukan semua ini meski aku telah mengatakan hal yang menyakitinya." Gumam Andreas mulai merasa bersalah pada Zoya.
KRUCUK ...
Tiba-tiba saja perut Andreas berbunyi. Pertanda dia mulai merasa lapar. Memang dia belum makan apapun sejak pagi. Tadi saat di luar dia tidak membeli apa-apa.
Dia keluar kamar menuju ke arah meja makan. Di bukanya tutup saji dan terlihat nasi beserta sayur dan lauk pauknya terhidang.
Zoya memang kesal dan sudah lelah dengan sikap Andreas. Tapi dia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Langsung saja Andreas mengambil piring dan duduk di meja makan untuk menikmati hidangan itu. Ini pertama kalinya dia memakan masakan Zoya.
Satu suap telah masuk ke dalam mulutnya. Seketika mata Andreas berbinar. Dia tidak bisa berbohong tentang rasa masakan Zoya. Rasanya begitu cocok di lidahnya.
EEEHHKK ..
Suara sendawa keras keluar dari mulut Andreas. Dia sendiri kaget sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Sudah lama dia tidak merasakan kenikmatan makanan rumahan seperti ini.
...****************...
Jam menunjukkan pukul 18:35 WIB. Zoya melangkah keluar butik untuk pulang. Dia berjalan sembari melakukan peregangan otot. Hari ini rasanya cukup melelahkan.
Dia melihat ke handphonenya, pesanan taksi onlinennya di cancel. Padahal dia sudah menunggu lama. Dia mencoba memesan ulang, tapi tidak dapat-dapat. Akhirnya dia memutuskan untuk jalan kedepan mencari ojek atau taksi yang lewat.
Zoya berdiri di pinggir jalan sembari menunggu taksi yang lewat. Saat di butuhkan selalu saja tidak ada. Ya, Zoya tidak melihat satupun taksi atau ojek lewat sana.
Jalanan di sana terlihat basah, karena hujan turun dengan derasnya tadi sore. Ada banyak air yang menggenang di sisi jalanan itu.
Zoya kembali fokus pada handphonenya, dia kembali mencoba memesan taksi online karena sejak tadi tidak ada yang lewat.
ZRAAASSS ..
Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melewati genangan air yang tak jauh dari Zoya berdiri. Air itu muncrat dan tentunya akan mengguyur Zoya yang berdiri di sana.
Aaaaaaa ...
Zoya berteriak seraya menunduk dan menghalau air yang akan mrngenainya dengan tangan.
GREP ..
BYUR ..
Seseorang datang merangkulnya dan menjadi tameng dari cripatan genangan air kotor itu. Zoya langsung mendongak, melihat siapa yang menolongnya.
__ADS_1
"Tuan Andreas..."