Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 32 // Kasmaran


__ADS_3

Malam ini rasanya Zoya sangat bahagia. Meski Andreas belum mengatkan tentang perasaannya. Tapi melihat perlakuan manisnya hari ini, itu sudah sangat cukup menenangkan hatinya.


Saat ini mereka telah kembali ke apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya, Andreas dan Zoya bergegas menuju lift. Kali ini mereka tidak lewat lobby. Tapi ternyata hal itu juga tidak mengurangi kemungkinan untuk bertemu Rafli. Karena pada saat lift terbuka Rafli keluar dari sana bersama wanita yang sama seperti sebelumnya.


Lagi-lagi ekspresi Zoya berubah sedikit di tekuk. Padahal tadi dia sangat ceria. Masih ada sedikit ganjalan di hatinya melihat Rafli menggandeng mesra wanita lain. Zoya menunduk tak kuasa melihatnya.


GREP ..


Tiba-tiba saja Andreas merangkulnya, merekatkan tubuh mereka menjadi tanpa jarak. Mereka pun melangkah bersama dan terlihat tak kalah mesra juga. Seketika Zoya mendongak menatap ke wajah Andreas.


Rafli dan Andreas beradu tatap saat mereka berpapasan secara dekat. Saat Zoya dan Andreas sudah memasuki lift, langkah Rafli terhenti. Dia menoleh menatap mereka sampai lift tertutup rapat.


"Raf, kau mengenal mereka?" Tanya Bianca.


"Emm, tidak." Jawab Rafli seraya melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil.


Bianca menatap aneh. Dia berpikir jika memang tidak kenal kenapa sepertinya Rafli tidak suka melihatnya tadi. Apalagi sampai berhenti dan menoleh kearah mereka seperti itu.


TING ..


Pintu lift terbuka di lantai sembilan. Andreas dan Zoya keluar bersamaan. Mereka langsung menuju unit mereka. Setelah sampai di dalam apartemen, Andreas sudah tidak tahan lagi untuk bertanya.


"Apakah kau cemburu melihatnya?" Tanya Andreas tanpa menatap kearah Zoya.


Zoya sedikit terperanjat mendengar pertanyaan suaminya itu. Dia benar-benar lupa diri. Harusnya tadi dia bersikap biasa saja ketika bertemu Rafli.


"Tidak. Untuk apa saya cemburu dengan pria lain." Jawab Zoya seraya melangkah mendahului Andreas. Kini dia berdiri di hadapannya. "Saya akan cemburu jika yang saya lihat itu adalah suami saya." Ucap Zoya dengan penekanan di setiap katanya namun tetap bernada halus.


Andreas menatapnya cukup dalam, hal itu malah membuat dirinya jadi salah tingkah. Secepat mungkin dia menghindar.

__ADS_1


"Ehmm, saya ke kamar dulu." Ucap Zoya seraya melangkah pergi. Namun tangannya di cekal oleh Andreas.


Jantungnya seketika berdebar kencang. Dia merasa tidak sanggup untuk menoleh ke belakang lagi. Dia berpikir, mungkinkah Andreas akan mengatakan perasaannya.


"Bisakah kita memulai semuanya dengan normal?" Tanya Andreas,


"Maksudnya bagaiamana?" Zoya bertanya balik. Dia juga langsung menoleh, berbalik arah kembali menghadap Andreas.


"Aku tidak suka berbasa-basi. Jadi langsung ke intinya saja, aku sudah siap mendaftarkan pernikahan kita secara resmi di KUA." Ucap Andreas dengan serius.


Zoya membelalakan matanya mendengar perkataan Andreas. Rasanya seperti mimpi. Dia hampir saja ingin menyerah, dan pada akhirnya semua doa-doa juga usahanya terjawab hari ini. Tentu saja Zoya sangat senang. Tapi ada yang kurang dari ungkapan Andreas.


"Emmh, mas Andreas serius?" Tanya Zoya memastikan.


"Iya, untuk apa aku main-main." Jawab Andreas. "Kau pasti sudah lihat di berita yang beredar, jadi aku tidak perlu mengatakan alasanku lagi." Sambung Andreas. Dia masih merasa gengsi untuk mengucapkan kata cinta langsung di hadapan Zoya. Tapi ekspresinya saat ini begitu terlihat gugup dan salah tingkah.


Zoya sendiri merasa seperti di terpa angin surga dan di taburi sejuta bunga. Meski tidak mengatakannya dengan jelas, Zoya paham yang di maksud oleh Andreas. Begitu saja dia sudah merasa senang.


Lalu mereka kembali terdiam, suasana menjadi sangat canggung. Andreas bingung harus berkata apa lagi. Dia melihat kearah jam sudah jam setengah sepuluh malam. Akhirnya dia mengambil jalan pintas untuk melanjutkan perbincangan ini besok saja.


"Istirahatlah, kita lanjutkan besok saja. Selamat malam." Ucap Andreas seraya berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Zoya pun hanya mengangguk-angguk. Dia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya juga. Dia langsung membaringkan diri di kasur. Memeluk guling dan meluapkan rasa senangnya.


Sementara Andreas kini duduk di tepian ranjang sembari menatap fotonya bersama Rania. Dia membelai gambar almarhumah istrinya.


"Terima kasih kau sudah mendatangkan kebahagiaan untukku di saat terakhirmu." Ucap Andreas, kemudian dia menaruh kembali foto itu di tempat semula.


Andreas merebahkan tubuhnya di kasur. Dia beralih menatap ke layar handphonenya. Di sana menampilkan fotonya bersama Zoya saat menggendong bayi. Tentu saja foto itu di dapatkannya dari Ezra. Awalnya Ezra hanya menunjukkannya pada Zoya, mengetahui itu lalu secara diam-diam Andreas memintanya.

__ADS_1


Senyuman terukir di bibir Andreas. Dia sampai terbayang jika suatu hari nanti akan memiliki anak bersama Zoya. Dia akan menjadi seorang Ayah. Tapi tiba-tiba saja dia teringat sesuatu hingga spontan terduduk kembali.


"Ya Benar, aku belum menanyakan bagaimana perasaannya padaku." Ucap Andreas bermonolog.


"Tapi dia sudah setuju. Apa itu artinya dia juga mencintaiku? Atau hanya ingin memenuhi kesepakatan awal saja?" Andreas bertanya-tanya sendiri. Dia menyesal tadi tidak terpikirkan untuk bertanya tentang perasaan Zoya.


***


Pagi kembali menyapa. Cuaca begitu cerah, secerah senyuman Zoya yang di lihat oleh Andreas. Pagi ini untuk pertama kalinya mereka pergi bersama. Andreas ingin mengantarkan Zoya ke butik sebelum dirinya pergi ke kantor.


Di dalam perjalanan otak Andreas berputar-putar memikirkan bagaimana perasaan Zoya padanya. Ingin bertanya, tapi rasanya lidahnya peluh tak dapat berbicara. Jari-jari tangannya juga tidak bisa diam, menggambarkan sekali kegundahan hatinya. Ekspresinya juga tidak bisa berbohong.


"Mas Andreas, apakah ada meeting penting yang harus segera mas datangi? Jika begitu saya turun di sini saja. Biar saya naik taksi saja." Ucap Zoya yang mengira Andreas sedang gugup karena mengejar waktu. Ya karena butik dan perusahaan Himawan tidak satu arah dari apartemen mereka.


"Tidak, aku tidak ada meeting apapun pagi ini." Jawab Andreas.


Setelah itu suasana kembali sunyi. Karena mereka saling diam tak bersuara. Hanya terdengar suara mesin mobil dan juga klakson sesekali. Sampai akhirnya mereka sudah berada di depan Butik This is Fashion.


"Terima kasih sudah mengantarkan saya mas. Saya turun dulu." Ucap Zoya, tapi dia tidak langsung turun melainkan mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Andreas.


Awalnya Andreas menatap bingung tapi kemudian dia paham. Jika Zoya ingin mencium tangannya untuk berpamitan.


"Saya turun dulu, mas Andreas hati-hati di jalan." Ucap Zoya sesaat setelah mencium tangan. Andreas hanya mengangguk saja.


Andreas pun kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor. Sampainya di sana, seperti biasa dia di sambut oleh sekertarisnya yang sudah mengatur seluruh jadwalnya hari ini.


"Yuda tolong kau pesankan bucket bunga mawar merah yang ukuran besar." Ucap Andreas seraya berjalan menuju lift.


"Untuk siapa pak? Apakah untuk klien kita nanti?" Tanya Yuda penasaran.

__ADS_1


"Bukan, untuk istriku." Jawab Andreas tanpa menatap kearah Yuda. Tapi dapat dilihat senyum tipis terukir di bibirnya saat menyebut kata istri.


"Baik pak. Saya akan memesankannya." Ucap Yuda, dia ikut tersenyum senang melihat atasannya kembali merasakan kasmaran.


__ADS_2