Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 25 // Cemburu tandanya?


__ADS_3

Aliran air shower membasahi seluruh tubuh Andreas, dari ujung kepala hingga kakinya. Air hangat itu sedikit mengurangi rasa pegal di sekujur tubuhnya. Karena semalaman dia tidak dapat beristirahat dengan benar.


Di saat mandi, entah mengapa terlintas wajah Zoya dalam pikirannya. Ia tersenyum tipis kala terbayang kejadian konyol semalam. Mulai dari mengorbankan diri kena air kotor sampai terjengkang karena tertendang kaki Zoya.


Ya, Andreas menyebut itu hal konyol. Karena rasanya dia tidak percaya bisa melakukan itu. Padahal dia pernah berkata jika tersiksa dekat dengan Zoya. Tapi kini dia sendiri yang mendekat.


Usai mandi dan bersiap, Andreas masuk ke dalam kamar Zoya. Dia tidak lupa jika di pesan oleh mamanya membawakan baju ganti untuk istrinya.


Sampainya di dalam kamar Zoya, Andreas tidak langsung mengarah ke lemari. Dia malah tertarik dengan foto yang terjajar di atas meja rias.


Andreas mengambil salah satu bingkai foto. Dia melihatnya dengan seksama. Senyum langsung terukir di bibirnya.


"Dia imut juga ternyata." Gumam Andreas yang sedang melihat foto masa kecil Zoya bersama kedua orang tuanya.


"Astaga aku ini bicara apa." Ujar Andreas seraya mengembalikan foto itu ke tempatnya tadi. Kemudian dia segera menuju lemari.


Isi lemari baju Zoya terlihat begitu rapi. Peletakan baju-bajunya pun di pisah sesuai jenisnya. Mempermudah Andreas untuk mengambilnya. Tapi baju Zoya cukup banyak. Andreas jadi bingung harus membawakan yang mana. Dia pun memilah baju yang ada di gantungan.


Andreas menggeser-geser baju di gantungan. Betapa terkejutnya dia, melihat ada beberapa lingerie di antara baju-baju yang tergantung itu.


Melihat lingerie itu otak kotor Andreas langsung bekerja. Bisa-bisanya dia membayangkan Zoya memakai itu di hadapannya.


"Astaga apa yang aku pikirkan ini!" Pekik Andreas menyadarkan diri sendiri. Dia kembali menaruh lingerie itu ke tempat semulanya. Kemudian dia mengambil baju dengan asal saja.


Dia memasukan pakaian untuk Zoya kedalam tas. Namun rasanya masih ada yang kurang. Ya, dia harus membawakan pakaian dalam juga.


Matanya sudah dapat melihat dimana tempat pakaian dalam itu berada. Namun, rasanya ini bagaikan perang. Dia harus mengambil aset berharga milik wanita. Dia merasa tidak sopan untuk mengambil itu.


"Tidak apa-apa, yang akan kusentuh ini milik wanita yang sudah kunikahi." Ucap Andreas seraya mengambil nafas panjang dan menghembuskannya.


Perlahan tangannya mendekati tumpukan kain itu. Dia merasa seperti berdosa jika melihatnya. Makanya dia hanya melirik sedikit saja. Diambilnya sepasang dalaman itu dan langsung di masukkannya ke dalam tas.

__ADS_1


HUFF ..


Andreas bernafas lega. Misinya telah selesai dan kini saatnya dia berangkat. Dia kembali menutup rapat lemari pakaian milik Zoya. Kemudian dia melangkah keluar kamar dengan membawa tas berisi pakaian Zoya.


Namun lagi-lagi dia tertarik dengan foto masa kecil Zoya. Dia merogoh ponsel di dalam saku celananya untuk memotret ulang foto Zoya. Setelah itu dia benar-benar pergi.


***


Andreas menyuruh sopir kantornya untuk mengantarkan pakaian Zoya. Karena ternyata ada pekerjaan yang harus di kerjakannya di kantor.


Saat ini Andreas tengah berkutat dengan laptop di dalam ruangan kerjanya. Tengkuk dan bahunya terasa sangat pegal. Akhirnya dia menyudahi sebentar pekerjaannya. Dia menyandar ke kursi yang empuk itu sembari membuka ponselnya.


Lagi-lagi Andreas tersenyum sendiri melihat foto masa kecil Zoya. Dia merasa gemas ingin mencubit pipi Zoya yang tembem itu.


"Ekhhmm.." Tiba-tiba saja terdengar deheman seseorang. Dengan segera Andreas menyimpan ponselnya.


"Wah wah apa aku tidak salah lihat, kau tersenyum sendiri. Apa sih yang kau lihat? Pasti cewek ya," Ujar Haris menggoda Andreas.


Haris ini memang hanya kepala divisi marketing di perusahaan Himawan grup. Tapi dia sangat berani berbicara santai dengan Andreas. Ya karena mereka masih bersaudara. Haris adalah putra dari adik Mama Irma.


"Weii, santai dulu bos. Aku kemari untuk masalah yang sangat penting." Ucap Haris seraya tersenyum penuh arti. Hal itu membuat Andreas merasa curiga jika kedatangannya untuk membahas Zoya.


"Sepertinya aku akan menyudahi masa lajangku." Ucap Haris.


Seketika Andreas berekspresi tegang mendengar sepupunya itu mengatakan akan mengakhiri masa lajang. Itu berarti dia akan menikah. Tapi yang menjadi pertanyaannya siapa wanitanya?


"Tapi aku butuh bantuanmu, karena yang ingin kunikahi adalah salah satu karyawanmu." Ucap Haris dengan penuh antusias.


"Siapa?" Tanya Andreas dengan sangat penasaran.


"Dia adalah bidadari yang turun dari lift kantor ini. Matanya indah, senyumnya membuat hatiku bergetar, dan suaranya sangat lembut membuatku candu." Haris malah mendeskripsikannya sembari menatap langit-langit membayangkan sosok Zoya.

__ADS_1


"Katakan namanya siapa?" Tanya Andreas dengan nada tinggi.


"Hei, sabar. Ini baru aku mau katakan. Namanya Zoya. Dia yang mengelola butik almarhumah istrimu. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku akan menikahinya." Ucap Haris yang kemudian terus menyerocos meminta bantuan Andreas. Dia ingin agar Andreas meyakinkan Zoya bahwa dirinya adalah pria baik dan tulus. Jadi ketika di lamar nanti tidak akan ada kata penolakan.


BRAAAK ..


Andreas menggebrak meja kerjanya dengan keras. Saat ini dia juga sudah berdiri menatap tajam ke arah Haris.


"Hei kau kau ini mengagetkanku saja." Ucap Haris sembari mengelus dada.


"Kau tidak bisa menikahinya dia." Ucap Andreas dengan tegas dan wajah garangnya keluar.


"Kenapa memangnya?" Tanya Haris dengan wajah bingung.


"Tidak bisa ya tidak bisa!" Bentak Andreas dengan tatapan begitu tajam.


"Bisa. Aku akan tetap melamarnya walau ada rintangan sesulit apapun." Ucap Haris dengan mantap dan senyuman keyakinan.


"Tidak boleh karena dia itu i.." Ucap Andreas hampir saja membuka statusnya yang sudah menikahi Zoya.


"Dia itu i apa? Oh karena dia istimewa ya. Kalau itu memang benar. Tapi kau jangan menghinaku seperti itu. Aku dan dia itu terlihat sangat serasi. Jadi please bantu aku ya," Haris terus memohon seraya mengedip-ngedipkan mata berharap Andreas setuju.


Namun yang ada dia malah di dorong keluar dan di suruh kembali bekerja. "Kembali bekerja atau aku pecat sekarang!" Ucap Andreas seraya menutup pintu ruangannya rapat-rapat.


Haris menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dia merasa sikap Andreas sedikit aneh.


***


Di dalam ruangannya Andreas merasa sangat gelisah sendiri. Bahkan dia tidak lagi bisa melanjutkan pekerjannya. Dia merasa marah dan tidak suka saat ada pria mendekati Zoya.


Dalam otaknya langsung terpikir bagaimana jika Haris benar-benar melamar Zoya. Apakah Zoya akan menerimanya? Jika Zoya menerimanya lantas bagaimana dengan dia?

__ADS_1


"Untuk apa aku terlalu memikirkan ini? Jika memang Zoya menerima Haris, ya sudah terserah dia saja." Ucap Andreas mencoba bersikap tidak perduli. Namun kemudian rasa tidak terima muncul lagi di hatinya.


Sebenarnya di dalam hatinya mulai muncul rasa cemburu. Namun karena gengsinya yang sangat besar dia tidak mau mengakui jika itu adalah rasa cemburu.


__ADS_2