Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 33 // Bunga mawar tanda cinta


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Andreas sedang berkutat dengan laptop. Dia tengah fokus mengerjakan proyek baru. Moodnya yang sangat membaik hari ini sehingga pekerjaannya terasa sangat ringan.


TAP .. TAP ..


Suara langkah kaki membuatnya seketika menghentikan aktivitasnya dan menatap siapa yang masuk ke ruangannya tanpa permisi.


"Kau! Tidak bisakah mengetuk pintu dahulu sebelum masuk," Ucap Andreas kepada Haris. Sepupunya itu memang selalu saja masuk tanpa permisi. Ya meski mereka bersaudara seharusnya Haris dapat memberi contoh sopan santun pada karyawan lain.


"Sorry, aku kemari ingin curhat. Rasanya hatiku sangat sesak jika belum bercerita dengan seseorang." Ucap Haris yang kini sudah duduk di hadapan Andreas.


"Aku sibuk, tidak ada waktu untuk mendengarkan curhatanmu." Ucap Andreas dengan tegas.


"Sebentar saja, aku hanya ingin bercerita jika aku di tolak oleh Zoya. Ternyata dia sudah bersuami." Ucap Haris, "aargh, padahal aku terlanjur sangat menyukainya." sambungnya dengan ekspresi sedih yang di lebih-lebihkan. Dia juga merengek seperti anak kecil saja.


Tapi bukannya merasa kasihan, Andreas justru malah terlihat tersenyum senang. Hal itu membuat Haris berdecak kesal.


"Hei pak CEO yang terhormat. Aku ini masih sepupumu ya, bisa-bisanya kau terlihat senang di saat aku bersedih." Ujar Haris dengan ekspresi muramnya.


Seketika Andreas kembali berekspresi datar. "Kau sudah selesai kan, silahkan kembali ke ruanganmu." Ucap Andreas seraya kembali berfokus pada laptopnya.


"Ya memang tidak seharusnya aku curhat dengan bos dingin sepertimu." Gerutu Haris seraya melangkah pergi. Namun belum sampai keluar dari ruangan Andreas, dia berbalik arah lagi.


"Emhh, sebentar. Zoya kan tinggal satu apartemen denganmu, berarti kau tahu dong siapa suaminya." Ujar Haris. "Beritahu aku seperti apa suaminya." Ucap Haris seraya kembali duduk do hadapan Andreas.


"Aku sedang sibuk. Pergilah, jangan menggangguku." Ucap Andreas tanpa menatap kearah Haris.


Haris berdecak kesal, dia beranjak dari kursi seraya bergeming. "Hanya tinggal mengatakan saja apa susahnya. Pasti di banding aku suami Zoya tidak ada apa-apanya. Bisa saja aku merebutnya."


Andreas dapat mendengar apa yang di ucapkan oleh Haris. Lantas dia tidak mau hanya diam saja.


"Kau salah." Ucap Andreas dengan keras. Haris pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Andreas.


"Suaminya itu orang yang smart, baik, tampan, berwibawa dan tentunya tidak playboy sepertimu." Ucap Andreas dengan penekanan di setiap katanya.


"Dia juga punya cinta yang besar untuk Zoya. Jadi jangan berfikir untuk bisa merebutnya." Imbuhnya.

__ADS_1


Haris langsung berekspresi masam. Merasa seperti terhina, dan tentunya hatinya semakin teriris karena ternyata suami Zoya sehebat itu. Karena Andreas tidak mungkin berbohong.


"Sudah kuberitahu. Sana, kembalilah ke ruanganmu." Ucap Andreas dengan tegas.


Haris pun pergi dari sana dengan wajah masamnya. "Dia mendeskripsikan suami Zoya seperti sosok dirinya sendiri." Gumam Haris.


Tak lama setelah Haris pergi, Yuda datang menyampaikan jika dia sudah melakukan apa yang diminta oleh Andreas.


"Pak saya sudah memesankan bucket sesuai permintaan anda. Saat ini bucket itu sudah dalam perjalanan untuk di kirim." Ucap Yuda.


Andreas hanya mengangguk seraya tersenyum.


***


Di butik this is fashion, Zoya tengah memeriksa baju-baju di pajangan. Seperti biasa, dia akan memilah baju yang sudah lama di pajangan untuk masuk ke dalam kategori sale.


Saat sibuk memilah, salah satu karyawannya menghampirinya dengan membawa bucket bunga mawar yang sangat indah.


"Mbak Zoya ini ada kiriman bunga untuk mbak Zoya."


"Dari siapa?" Tanya Zoya dengan raut wajah bingung. Dia pun mengambil alih bucket itu dari karyawannya.


"Iya, terima kasih."



Ekspresi Zoya terlihat bingung. Siapa yang mengirimkan bunga seindah itu padanya. Dia berpikir mungkinkah Haris pengirimnya. Tapi rasanya tidak mungkin. Waktu itu dia sudah mengatakan tentang statusnya. Masa iya Haris masih tetap nekat.


Kemudian Zoya melihat terselip sebuah kartu di sisi dalam bucket itu. Dia pun membukanya. Seketika senyumnya mengembang. Raut wajah bahagia terpampang jelas di wajahnya.



*Kartu ucapan


"Aku tidak menyangka, dia yang dulu sedingin es bisa berubah seromantis ini." Gumam Zoya seraya tersenyum. Berkali-kali dia menghirup aroma bunga yang menyegarkan itu.

__ADS_1


"Cie, cie mbak Zoya dapet kiriman bunga dari siapa tuh," Ucap Arvi, karyawan butik yang menjadi asisten Zoya.


"Hmm, ada deh." Jawab Zoya seraya bergegas menuju ruangannya. Dia merasa malu-malu.


Sesampainya di dalam, kebetulan ponselnya berbunyi. Tertera nama HoneyBee. Zoya pun menaruh bucketnya di atas meja.


"Halo Ezra, ada apa?"


"Halo aku ada di depan butikmu sekarang. Kau ada di dalam kan?"


"Iya aku ada. Aku akan menemuimu di depan."


Sambungan telefon pun terputus. Zoya meninggalkan ponselnya di atas meja di sebelah bucket bunga.


Kedua gadis yang bersahabat karib itu saling berpelukan dan bercipika-cipiki. Tanpa basa-basi Ezra langsung menyerbu baju-baju yang ada di display. Karena memang tujuannya datang kesana untuk berbelanja.


Zoya pun menunjukkan koleksi terbaru butiknya. Dia juga memberikan diskon khusus untuk Ezra. Tapi ada imbal balik yang di terima oleh Zoya. Yaitu promosi gratis dari Ezra. Karena sahabatnya itu adalah seorang influencer.


"Terima kasih loh sudah di promosikan secara gratis. Ada untungnya juga ya punya sahabat selebritis." Ucap Zoya seraya tertawa kecil.


"Ah apasih aku juga beruntung punya sahabat owner butik ternama. Bisa belanja baju bagus sebanyak ini dengan harga murce." Ucap Ezra penuh ekspresi sembari kesenangan. Karena bisa belanja dengan diskon besar.


Usai berbelanja, Ezra tidak langsung pulang. Dia di ajak oleh Zoya masuk ke dalam ruangannya. Seperti biasa mereka akan mengobrol santai. Saat masuk kedalam, mata Ezra langsung tertuju pada bucket bunga yang ada di atas meja.


"Wow, bucket mawar merah tanda cinta. Dari siapa nih?" Tanya Ezra penasaran.


"Hemm, dari mas Andreas." Jawab Zoya malu-malu.


"Aduuh, romantis sekali. Ternyata kulkas milik suamimu benar-benar sudah konselet." Ucap Ezra sembari tertawa renyah.


Zoya pun turut tertawa kemudian dia menghirupi aroma bunganya lagi. Rasanya seperti tercium aroma semerbak harumnya cinta.


"Cium aja terus itu bunga. Sampai lupa ada aku di sini." Ujar Ezra merasa terabaikan.


Zoya tetap mendekap bunganya dan malah memamerkan itu pada Ezra. Seperti anak kecil yang pamer barang baru yang tidak di miliki oleh temannya.

__ADS_1


Sementara itu, di tempat kerjanya Andreas menunggu di hubungi oleh Zoya. Namun sudah cukup lama ponselnya masih sepi. Dia jadi berpikir apakah Zoya belum menerimanya, atau sudah menerima tapi tidak suka.


Akhirnya Andreas memutuskan untuk melihat ccttv Butik yang masih terkonek dengan ponselnya. Andreas langsung menuju ke rekaman cctv ruangan kerja di butik itu. Langsung terlihat sosok Zoya dan Ezra. Andreas menzoomnya di bagian Zoya berada. Ia sungguh senang karena Zoya terlihat bahagia seraya merangkul bucket itu. Itu tandanya Zoya menyukai bucket pemberiannya.


__ADS_2