Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 24 // Ada rasa..


__ADS_3

Tatapan mata Zoya terus fokus pada Andreas. Sampai-sampai dia tidak melihat ada batu di depannya. Alhasil dia pun tersandung dan akan terjatuh tersungkur. Beruntung Andreas sigap memeganginya.


"A aww." Pekik Zoya, meski tidak jatuh tapi kakinya terasa sakit menyandung batu sebesar itu.


"Apa batu sebesar itu tidak terlihat di matamu?" Tanya Andreas merasa heran. Kemudian dia memeriksa kaki Zoya.


Andreas ingin melihat apakah kaki Zoya bengkak. Dia ingin melepas sepatu slop yang di kenakan Zoya. Namun yang terjadi malah dirinya terjengkang karena Zoya menarik kakinya dengan kuat.


"Oh ya ampun. Maaf saya tidak sengaja." Ucap Zoya seraya menutup mulutnya. Kemudian dia mengulurkan tangannya pada Andreas.


Andreas menghembuskan nafas kasar. Dia menerima uluran tangan Zoya dan segera berdiri. Namun karena badan Andreas lebih besar, hal itu membuat Zoya kehilangan keseimbangan saat berhasil membantu Andreas berdiri.


Andreas langsung menarik Zoya ke dalam dekapannya. Untuk kedua kalinya Andreas dapat menatap wajah Zoya begitu dekatnya.


DUG .. DUG..


Lagi lagi jantung Andreas berdebar dengan kencang. Hal itu dapat di rasakan oleh Zoya karena satu telapak tangannya menyentuh dada Andreas.


Dengan cepat Andreas segera melepaskan Zoya. Dia tidak mau Zoya sadar bahwa dirinya selalu berdebar ketika menatapnya dari dekat.


"Kakimu tidak apa-apa kan, kalau begitu ayo." Ucap Andreas seraya berjalan terlebih dahulu memasuki restoran.


Zoya pun menyusulnya dengan segudang pemikiran di dalam otaknya.


***


Mama Irma perlahan membuka matanya. Di lihatnya jam masih menunjukkan pukul 05:05. Kemudian dia menoleh ke kanan dan melihat Andreas dan Zoya masih terlelap. Mama Irma tersenyum melihatnya. Dari posisi tidurnya dapat disimpulkan jika mereka sudah dekat satu sama lain.


Andreas tidur dengan posisi duduk bersandar di kursi sofa. Sementara Zoya berbaring di atas sofa dengan kepala yang berpangku pada Andreas.


Sebenarnya semalam posisi Zoya itu sama seperti Andreas. Tapi tak lama kemudian dia ambruk bersandar di pundak Andreas. Lalu posisinya di rubah oleh Andreas menjadi seperti sekarang.


Zoya perlahan membuka matanya karena merasakan sesuatu yang keras di bawah kepalanya. Zoya masih tetap dengan posisinya itu kini tengah mengusap-usap kedua matanya. Kemudian dia menggeliat menaikkan tangannya sampai mengenai wajah Andreas.


Andreas pun langsung terbangun dan menggerakkan badannya. Saat itulah Zoya baru sadar jika dirinya tengah tidur di pangkuan Andreas. Zoya langsung bergegas bangun dan berdiri menjauh dari Andreas.


"Jadi yang terasa keras itu tadi...." Batin Zoya seraya menatap Andreas yang masih sibuk mengusap matanya. Kemudian matanya turun ke bawah. Benar saja, sesuatu terlihat menyembul di balik celana Andreas.


"Zoya kau kenapa?" Tanya mama Irma yang melihat ekspresi aneh menantunya.

__ADS_1


"Emm, tidak apa-apa Mah. Saya mau keluar ke toilet." Ucap Zoya seraya bergegas berjalan keluar.


"Tunggu Zoya, kenapa harus keluar di sini kan ada." Ucap Mama Irma menghentikan Zoya.


"Mau sekalian ke musholla mah." Ucap Zoya lalu kembali meneruskan langkahnya.


Sementara Andreas masih terkantuk-kantuk, nyawanya belum terkumpul dengan sempurna. Dia beberapa kali menguap. Kemudian dia menggerakkan badannya ke kiri ke kanan menggeliat. Badannya terasa kaku.


"Mah aku juga mau ke musholla dulu." Ucap Andreas.


"Iya sayang." Ucap mama Irma menanggapi putranya.


.


.


Sangat kebetulan sekali di dalam musholla kecil itu tidak ada orang selain Zoya dan Andreas.


Andreas sudah lebih dulu siap untuk melaksanakan ibadah. Sementara Zoya masih baru akan memakai mukena. Dia menempati shaf di belakang Andreas.


"Kau sudah siap?" Tanya Andreas


"Untuk sholat berjamaah." Jawab Andreas membuat Zoya tercengang.


"Jadi mas Andreas mau mengimami saya?" Tanya Zoya lagi dengan tatapan penuh keheranan.


"Ya, jangan banyak tanya lagi. Keburu fajar." Ucap Andreas dengan tetap berekspresi datar. Kemudian langsung memulainya.


Zoya tak bisa lagi menahan senyumnya. Begini saja dia sudah merasa teramat bahagia.


Seusai sholat seperti biasa Zoya menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Doa yang di panjatkan oleh Zoya masih sama dan sedikit ada tambahan hari ini.


"Ya Allah hamba tahu Engkau Maha membolak-balikan hati manusia. Semoga ini menjadi awal baik dalam rumah tangga hamba." Doa Zoya di dalam hatinya.


Sebagai seorang istri, Zoya mencium tangan Andreas seusainya. Andreas merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Sepertinya pintu hatinya sudah sedikit terbuka untuk Zoya.


**


Dokter memeriksa keadaan mama Irma. Keadaannya sudah cukup baik, tapi belum boleh pulang hari ini. Masih membutuhkan perawatan sekitar satu hari lagi.

__ADS_1


Andreas duduk sembari terus melihat jam di tangannya. Hari ini dia ada meeting dengan klien dari luar negeri. Tidak mungkin dia me-reschedule meeting itu. Karena kliennya ini berasal dari luar negara dan pastinya juga sangat sibuk.


Mama Irma melihat kegelisahan putra satu-satunya itu. Lalu dia langsung bertanya apa yang sedang mengganggu pikiran putranya itu.


"Kau kenapa Andreas? Apakah ada masalah?" Tanya Mama Irma. Zoya yang sedang membereskan bekas sarapan mama Irma pun ikut menoleh kearah Andreas.


"Emm jam sembilan aku ada meeting dengan klien dari Cina mah." Jawab Andreas.


"Lalu kenapa kau masih di sini? Pergi sana cepat. Kan ada Zoya yang menemani mama di sini." Ucap Mama Irma.


Andreas menatap sejenak kearah Zoya. Terlihat tidak ada wajah-wajah keberatan di matanya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi.


"Baiklah kalau begitu aku pergi sekarang mah. Soalnya aku harus pulang ke apartemen dulu." Ucap Andreas berpamitan. Dia mencium tangan mamanya. Lalu melangkah pergi.


"Tunggu Andreas." Panggil mama Irma.


"Iya mah, apa mama ingin di bawakan sesuatu saat aku kembali. Karena kemungkinan aku tidak lama." Ucap Andreas.


"Kau bawakan baju ganti untuk istrimu. Kasihan dia kelihatan kegerahan. Pasti badannya terasa lengket tidak nyaman. Benar kan Zoya," Ujar mama Irma. Zoya mengangguk pelan mengiyakan.


"Iya nanti aku bawakan sekalian." Ucap Andreas seraya berlalu pergi.


"Eist.. Tunggu dulu, masih ada yang kurang." Ucap Mama Irma yang lagi-lagi mencegah Andreas pergi.


"Apalagi mamah?" Tanya Andreas di barengi helaan nafas.


Mama Irma mengkode Zoya dengan tatapan dan sedikir gerakan tangannya. Beruntung Zoya langsung mengerti.


Zoya langsung meraih tangan Andreas dan mencium punggung tangan suaminya itu.


Lagi-lagi hal itu membuat jantung Andreas berdebar. Di tambah melihat senyum Zoya yang sangat meneduhkan hati. Rasanya ingin membalas senyuman itu dengan sebuah kecupan di kening. Namun gengsinya masih menguasai diri.


"Aku pergi." Ucap Andreas yang kali ini benar-benar pergi.


Mama Irma sedikit kecewa tidak melihat feedbcak dari putranya untuk Zoya. Padahal tadinya dia berharap melihat Andreas mengecup kening Zoya.


Beberapa saat kemudian, Zoya membelalakan matanya berekspresi tegang. Dia teringat akan sesuatu hal.


"Astaga! Di bawakan baju ganti oleh mas Andreas, itu artinya dia membuka lemariku dan melihat pakaian d*lamku." Ucap Zoya yang tentu saja hanya di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2