Love In Forced Marriage

Love In Forced Marriage
Bab 49 // Kambing hitam


__ADS_3

Baru kali ini Zoya merasakan sakit hati yang mendalam. Sejak kejadian kemarin, Andreas juga tidak lagi menghubunginya. Hal itu membuat Zoya merasa semakin terpuruk. Rasanya ia seperti terkena karma. Karma akibat meninggalkan Rafli demi menikah dengan Andreas.


"Aku sudah menjelaskan semuanya dan katanya mas Andreas percaya. Tapi kenapa yang terjadi malah dia menceraikan aku. Di saat aku sudah mencintainya." Lirih Zoya diiringi air matanya yang masih menetes kala mengingat kejadian kemarin.


Di luar kamar, Ibu Aminah mengetuk pintu. Ia merasa khawatir dengan keadaan putrinya. Zoya belum mengatakan hal apapun padanya. Tapi Bu Aminah merasa ada suatu masalah besar yang tengah di hadapi oleh Zoya.


"Nak, ibu masuk ya." Ucap Bu Aminah seraya membuka pintu kamar Zoya yang tak terkunci.


Dengan gerakan cepat Zoya mengusap air matanya. Dia pun langsung merubah ekspresi dengan sedikit mengukir senyum di bibirnya.


"Ibu, ada apa?" Tanya Zoya dengan senyuman seakan tidak ada beban apapun yang tengah ia simpan.


"Ibu hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Semalam kau datang larut malam dan menginap disini tanpa suamimu, kalian baik-baik saja kan?" Tanya Bu Aminah yang saat ini sudah duduk di sebelah Zoya.


"Emmh, aku dan juga mas Andreas baik-baik saja kok bu. Aku hanya rindu rumah ini saja. Sebentar lagi aku juga akan kembali ke rumah mas Andreas." Jawab Zoya menutupi segalanya.


"Tapi itu matamu seperti orang yang menangis semalaman. Kau bohong pada ibu. Kau pasti menutupi sesuatu." Ucap Bu Aminah merasa curiga.


"Ah ini, ini digigit serangga semalam pas perjalanan pulang kemari." Ucap Zoya berkelit. "Ah sudah siang, aku pamit ya Bu, soalnya lupa ada acara sama mas Andreas." Sambung Zoya beralasan agar ibunya tidak terus-terusan mencurigainya.


Zoya mencium telapak tangan ibunya, kemudian dia langsung pergi secepat kilat menyambar. Sampai membuat ibunya keheranan.


.


.

__ADS_1


Pulang ke rumah ternyata bukanlah pilihan yang tepat. Beruntung Zoya dapat menyembunyikan masalah besarnya itu. Keberuntungan kedua, ayahnya kebetulan sedang berada di luar kota mengunjungi kakak Zoya.


"Huuufff.." Zoya membuang nafas lewat mulutnya.


"Hari ini aku bisa menghindari pertanyaan ibu. Memang lebih baik aku tidak pulang ke rumah dulu. Maaf ibu, aku tidak bermaksud untuk berbohong dan menyembunyikan semuanya." Gumam Zoya seraya terus melangkah.


Saat ini Zoya sudah berada di taman makam tempat peristirahatan terakhir Rania. Zoya mengusap nisan Rania seraya memberi salam. Kemudian dia membaca doa-doa untuk Almarhumah Rania. Setelah usai, Zoya tak kuasa lagi menahan tangisnya tanpa ada kata yang mampu ia ucapkan.


Zoya termenung cukup lama di hadapan batu nisan bertuliskan nama Rania. Dia meratapi nasibnya sendiri yang terasa begitu pahit. Jika di ingat kembali, memang perjalanan pernikahannya dengan Andreas tidak berjalan dengan mulus. Banyak lika-liku yang harus Zoya lewati. Apalagi pernikahan mereka bukan didasari oleh cinta, melainkan didasari oleh sebuah keterpaksaan.


"Bu Rania, maaf saya. Saya telah gagal menjalankan amanah dari Bu Rania." Hanya itu kata yang dapat Zoya ucapkan sebelum pergi.


Jika saja Rania masih hidup, mungkin dia akan menyemangati Zoya untuk memperjuangkan kembali rumah tangganya. Karena diketahui Andreas dan Zoya itu sudah saling mencintai.


GUBRAK ..


"Ah," Pekik Zoya dan orang yang tak sengaja ditabraknya secara bersamaan.


Mereka berdua pun saling bertemu pandang. Ternyata orang yang tak sengaja di tabrak Zoya adalah Haris.


"Kak Haris, maaf saya tidak sengaja." Ucap Zoya dengan raut wajah tegang. Karena dia baru saja membuat Haris terjatuh.


"Tidak apa-apa santai saja." Ucap Haris seraya membersihkan tangannya yang terkena tanah.


Dengan cepat Zoya mengambil tisu basah di dalam tasnya untuk di berikan pada Haris.

__ADS_1


"Ini kak pakai ini. Sekali lagi saya minta maaf ya, saya tidak fokus tadi." Ucap Zoya yang masih merasa tidak enak.


Haris menerima tisu dari Zoya dan mengenakannya. Meski setelah apa yang terjadi, Haris tetap ramah dan tidak dendam pada Zoya.


Dan disinilah mereka sekarang berada, di sebuah kedai kopi yang nyaman untuk mengobrol. Ya, Haris mengajak Zoya mampir kesana. Haris mengajak Zoya ke sana karena dia tahu wanita yang pernah disukainya itu sedang banyak pikiran.


"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan saat ini. Kau sedang memikirkan Andreas bukan?" Terka Haris yang membuat Zoya menatap bingung.


"Aku sudah tahu segalanya, jadi kau perlu berbohong lagi. Selama ini ternyata aku menyukai istri sepupuku sendiri. Lucunya hidupku, tepatnya menyedihkan." Sambung Haris dihiasi sedikit tawa, menertawai dirinya sendiri.


Mendengar perkataan Haris, Zoya merasa semakin tidak enak hati dengan pria di hadapannya itu. Beruntung dengan cepat Haris kembali mencairkan suasana dan Zoya pun kembali merasa nyaman.


"Zoya, apa kau sudah tahu tentang Tante Irma yang di rawat di rumah sakit?" Tanya Haris.


"Sudah kak, saya ingin sekali menjenguk mama. Tapi rasanya tidak mungkin. Mas Andreas pasti tidak mengizinkanku datang." Jawab Zoya dengan raut wajah sedihnya.


"Bukan Andreas saja yang akan melarang kau datang, tapi tante Irma sendiri berkata tidak mau lagi bertemu denganmu." Ucap Haris memberitahu apa yang ia dengar saat di rumah sakit semalam. Kemudian Haris menceritakan selengkapnya apa saja yang ia ketahui tentang masalah di antara Andreas dan Zoya.


Zoya begitu terkejut mendengar penjelasan dari Haris tentang kronologi penyebab sakitnya mama Irma. Zoya memang belum mengetahui tentang pesan yang diduga di kirim oleh Rafli kepada mama Irma.


"Sebelumnya saya klarifikasi dulu ya kak, foto ataupun video itu tidak benar adanya. Itu hanya rekayasa. Tapi yang paling mengejutkan Rafli ada di balik semua ini." Ucap Zoya menggebu, antara sedih dan marah. Dia merasa tidak menyangka jika Rafli berbuat ini padanya.


Zoya jadi berfikir jika Rafli melakukan ini semua karena ingin balas dendam padanya. Tapi caranya ini sungguh sangat menyakitkan.


"Aku tidak tahu ya bagaimana hubunganmu dengan mantan kekasihmu itu, lebih baik kau menemuinya untuk mendapatkan penjelasannya secara langsung." Ucap Haris memberi saran terbaik.

__ADS_1


__ADS_2